
Penuh dengan kemarahan Zenia berteriak melihat Dirga pergi begitu saja.
" Kau akan merasakan pembalasanku Dirga Sasono. Disaat aku berhasil menguasai kekayaanmu, disaat itulah kau akan merasakan betapa terhinanya dirimu," ucap Zenia dengan emosi tanpa perduli asisten rumah tangga mendengar nya.
Tiba-tiba ia teringat dengan gerakan tangan Dirga yang mencurigakan ketika asisten rumah tangganya meletakan minuman.
Dengan langkah cepat ia menuju meja dimana tadi Dirga meletakan lembaran kertas yang dipegangnya.
" Aaaah.... Dirgaaaaa aku membencimu, sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan dirimu hidup dengan tenang.," Zenia kembali berteriak sambil melemparkan lembaran kertas dan juga gelas serta piring yang berada dimeja.
Dirinya marah sekali ketika tidak menemukan kertas yang disiapkan oleh Dicky agar bisa ditandatangani oleh Dirga tanpa diketahuinya.
" Aku akan menghubungi Dicky agar dia tahu apa yang harus dilakukan ketika Dirga meneleponnya," ucap Zenia, tetapi ia tidak bisa menghubungi nya .
Sementara itu di dalam mobil yang dikendarai Andri, Dirga menatap tanpa ekspresi pada kertas yang baru saja dibacanya.
" Bagaimana mungkin Zenia bisa melakukan hal seperti ini ?, aku masih ada dan segar bugar dan dia juga tahu bahwa aku mempunyai anak dan isteri yang lain tetapi ia tega melakukan hal yang sangat tidak masuk akal seperti ini." kata Dirga pelan.
Dalam ingatannya terlintas sikap Zenia yang begitu manis dan menerima semua permintaan nya bahkan ketika ia mengatakan pada nya bahwa dirinya bermaksud untuk menikah kembali, Zenia dengan sikapnya yang lembut mengatakan akan melamar kan wanita itu dan sebagai imbalannya Dirga memberikan uang serta mobil mewah dan menambah uang belanjanya.
" Wanita itu sama sekali tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Bagaimana mungkin aku menyerahkan semua yang kumiliki padanya dan sebagai gantinya aku akan menerima jatah bulanan. Kamu telah bertindak keterlaluan Zenia, akan aku pastikan bahwa kau akan menerima akibat dari rencana mu ini," kata Dirga penuh kemarahan setelah membaca lebih teliti tulisan yang berada dikertas yang tadi diambilnya.
Dirga tiba dirumah Indah dengan suasana hati yang masih marah sehingga Indah hanya diam tanpa bertanya saat menyambutnya.
" Indah, dia adalah Andri. Aku rasa kamu belum mengenalnya dan Andri kenalkan isteri ku Indah dan gadis muda yang berdiri dekat pintu itu adalah Laras putriku," kata Dirga mengenalkan mereka.
__ADS_1
" Maaf Tuan, sebelumnya saya sudah mengenal Nyonya Indah, dan yang saya tidak ketahui adalah bahwa ibu Indah adalah Nyonya Dirga." jawab Andri.
" Benarkah ?."
" Sebenarnya Pak Andri adalah salah seorang klien kami Mas. Aku juga tidak tahu bahwa dia adalah asisten mu," kata Indah sambil berjalan masuk.
Dirga menatap Andri tajam sedangkan terhadap Indah ia hanya tersenyum membuat Andri merasa heran.
" Besar sekali perhatian yang diberikan oleh Tuan Dirga pada Bu Indah, sangat jauh berbeda ketika ia bertemu dengan Nyonya Zenia," katanya dalam hati.
" Bagaimana dengan mu, Papa dengar kamu pulang cepat hari ini," kata Dirga pada Laras yang menatapnya tajam tanpa bicara dan Dirga dapat merasakan apa yang menyebabkan putrinya bersikap seperti itu.
" Laras...!," tegur Indah.
" Ya, tadi aku pulang cepat karena merasakan sakit pada perutku," jawab Laras dan ia menuju dapur untuk mengambil minuman untuk Dirga dan Andri.
" Tentu saja dia belum pulang. Karena jam pelajaran belum selesai," jawab Laras sambil meletakan gelas berisi minuman dingin di meja.
" Jam berapa biasanya kalian pulang sekolah."
" Kalau kami pulang sekolah jam 1.30 sedangkan untuk kelas 3 sekitar jam 3.30." jawab Laras.
" Andri, kamu bisa kembali ke kantor dan minta Didi untuk datang kemari dan pastikan jam 4 sudah disini untuk mengantar kami ke bandara."
" Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu, Permisi."
__ADS_1
Setelah Andri pergi Laras menatap Dirga yang membuatnya tersenyum.
" Ada apa ?, apa ingin mengatakan sesuatu ?," tanya Dirga.
" Apakah Papa akan menjawabnya ?," tanya Laras.
" Papa akan menjawabnya bila memang Papa mempunyai jawabannya."
" Hemm, pernahkah Papa dan Amora berbicara seperti aku dan Papa sekarang ?."
" Mengapa kamu bertanya seperti itu ?."
" Karena aku melihat Amora sangat merindukan Papa dan ingin sekali berbicara dengan Papa."
" Bagaimana kamu tahu ?."
" Aku tahu karena aku pernah merasakan yang dirasakan Amora sekarang," jawab Laras pelan.
" Apakah Papa tahu, Amora tidak percaya ketika Papa benar-benar datang bahkan Papa bermalam disini. Dan aku sempat melihat ia begitu gembira ketika aku mengatakan bahwa Papa akan menemuinya sore ini. Apakah Papa dapat merasakan betapa kecewanya ketika Papa sudah pergi sebelum dia sampai dirumah ?," kata Laras membuat Dirga terdiam.
" Papa sangat bersalah karena tidak memikirkan perasaan Amora ketika pergi meninggalkan rumah itu," kata Dirga dengan suara pelan.
" Boleh aku tahu mengapa Mas begitu cepat berada di sana ?," tanya Indah.
" Ada hal yang membuatku lebih baik pergi dari pada aku melakukan hal yang dapat aku sesali," jawab Dirga.
__ADS_1
" Aku akan ke kamar dulu, bukankah kita akan berangkat ke bandara jam 4 ?," kata Laras begitu melihat Dirga merasa tidak bebas berbicara.