Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Pergi untuk bahagia


__ADS_3

Di kamar yang berbeda, Laras sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya sementara Bram masih berada di dalam kamar mandi.


"Kira-kira ... aku harus ngapain-ya. Masa iya, aku cuma berbaring nunggu Mas Bram keluar kamar mandi? Ntar disangka aku udah pasrah lagi." Laras menutup wajahnya malu.


Laras begitu gelisah hingga ia memilih berjalan mondar-mandir sampai akhirnya ia memutuskan menikmati pemandangan kota melalui jendela kamarnya.


Laras begitu hanyut dengan pikirannya tentang malam pertama yang akan ia lalui sebagai wanita yang baru menikah hingga ia tidak mendengar saat pintu kamar mandi terbuka.


"Ngapain berdiri di depan jendela, memangnya belum puas dari tadi berdiri terus?" Bram berbisik lalu memeluk Laras dari belakang.


Tawa kecil lolos dari bibir Laras dan ia menggelinjang geli karena mulut Bram yang mulai menyelusuri garis lehernya.


"Mas...." Laras mendesah karena sentuhan Bram.


"Malam ini adalah malam pertama kita sebagai suami istri, tetapi besok pagi kita sudah harus pergi berbulan madu. Dan aku tidak mau istriku capek karena harus melayani suaminya. Malam ini, aku lebih memilih istirahat. Bagaimana?" tanya Bram.


"Setuju. Aku memang berpikir seperti itu sebelum kamu keluar dari kamar mandi," sahut Laras cepat.


Laras terlalu gugup hingga ia langsung berbalik dan berhadapan dengan Bram dalam jarak yang sangat dekat bahkan bagian tubuhnya yang menonjol sampai menekan tubuh Bram.


"Berdekatan seperti ini, kenapa rasanya aku ingin...." Bram tertawa keras begitu Laras menyembunyikan wajahnya di dalam pelukannya.


"Kita istirahat, ya," pinta Laras lirih.


Sejak Bram masuk ke kamar mandi, ia janji pada dirinya untuk memberikan kesempatan pada Laras untuk membiasakan diri sebagai istrinya. Ia tidak akan buru-buru mengambil hak-nya karena ia sudah mengenal Laras cukup lama sehingga ia ingin menikmati malam pertama mereka lebih lama dan dalam suasana yang sangat mendukung bukannya seperti sekarang.


Besok mereka akan pergi berbulan madu dan ia tidak mau Laras terlihat capek dan kurang tidur karena dirinya.


"Kita akan tidur sambil berpelukan, kamu gak keberatan, kan?" tanya Bram.


"Tentu saja, tidak," jawab Laras sambil mengikuti langkah kaki Bram menuju tempat tidur.


Kamar yang sudah dihias dan wangi aroma therapy yang sengaja diberikan orang tua mereka akhirnya hanya menjadi therapy yang mengantarkan tidur mereka.


Suara alarm yang dipasang Laras membangunkan pasangan muda yang masih pulas.

__ADS_1


Mereka terbangun lalu berpandangan, heran mengapa mereka tidur dalam posisi berpelukan.


"Eh, kenapa aku tidur dalam pelukan Mas Bram?" tanya Laras dalam hati.


Apakah mereka menghabiskan malam bersama-sama? Lalu, dimana orang tua mereka?


"Selamat pagi istriku yang belia ...," sapa Bram yang lebih dulu sadar.


"Istri?" Laras menatap Bram lurus.


Mencoba mengingat, senyum Laras begitu manis saat ia menyadari semalam, Bram sudah bersikap sangat baik padanya.


"Terima kasih, ya, Mas. Semalam kamu tidak buru-buru mengambil hak-mu," canda Laras.


"Semalam memang aku tidak terburu-buru, tetapi begitu kita sampai di tempat tujuan, aku tidak akan memberimu ampun," ancam Bram yang dibalas tawa geli Laras.


Tidak pernah terpikirkan oleh Laras, Bram akan berubah menjadi pria yang tidak ia kenal.


Bram, adalah pria yang selalu sabar menghadapinya dan juga selalu setia menunggunya sampai ia siap diperistri. Dan pada malam pertama mereka-pun, Bram masih begitu sabat menunggunya siap.


"Kita berdua akan belajar bersama. Sekarang, sebelum keluarga kita bangun dan mengganggu, bagaimana kalau kita bersiap-siap," usul Bram.


"Siap, Boss. Tapi, semuanya sepertinya sudah siap. Aku dan mama sudah merapikan semuanya. Hanya saja, barang bawaan Mas Bram aku belum tahu," jawab Laras pelan.


"Aku juga sama. Kemarin, sebelum acara pernikahan, aku juga sudah menyiapkan semuanya. Bagaimana kalau kamu mandi duluan sementara aku pesan sarapan?" tanya Bram.


"Oke." Laras langsung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan bergerak cepat menuju kamar mandi. Bram yang melihat tingkah Laras jadi tertawa.


Di luar lobby kedua keluarga sudah menunggu pasangan pengantin baru.


"Apa mungkin mereka belum bangun?" tanya Syafira pada Indah.


"Aku tadi sudah telepon Laras, katanya mereka sudah rapi," jawab Indah.


Lalu tidak berapa lama kemudian terlihat Bram dan Laras keluar dari dalam lift dengan membawa koper dengan ukuran sedang, tidak seperti koper yang sudah mereka siapkan sebelumnya.

__ADS_1


"Koper kamu yang kemarin mana?" tanya Indah.


Dengan wajah cemberut, Laras berkomentar atas pertanyaan Indah. "Mama, masa yang ditanyakan pertama koperku. Tanya, kek, gimana malam pertamaku sebagai seorang istri?"


Suara tawa segera membahana setelah Laras memberikan komentarnya.


Sebelumnya mereka tidak mau menggoda pengantin baru itu, tetapi Laras justru membuka peluang yang langsung dimanfaatkan oleh Amora.


"Jadi...bagaimana bulan madunya? Memuaskan atau tidak?" goda Amora.


"Mas Bram adalah suami yang baik dan pengertian. Dia tahu bahwa kami sangat capek sehingga ia memberikan aku kesempatan untuk mengumpulkan tenaga lebih dulu," jawab Laras bangga.


Jawaban Laras yang terus terang bukan saja memancing tawa tetapi juga membuat Bram malu.


"Awas, kamu. Setelah kita sampai tujuan, aku gak bakalan kasih kamu waktu istirahat," ancam Bram yang dibalas dengan tawa Laras yang malu-malu.


"Kami minta maaf tidak bisa mengantar kalian sampai bandara. Kami ucapkan selamat berbulan madu di sini saja. Urusan pekerjaan kamu tidak usah khawatir." Rizal memeluk putranya bangga.


"Yang harus kamu lakukan dengan segera adalah membuat Laras hamil agar kami segera punya cucu dari kalian," ucap Syafira.


"Jadi istri yang baik, jangan manja," pesan Indah.


"Laras adalah kebanggan papa. Ikutilah semua perintah suamimu selama dalam jalan kebaikan," ucap Dirga sementara pada Bram ia menitip pesan agar selalu berlaku baik dan menyayangi Laras. Ia tidak pernah rela apabila Bram sampai membuat Laras kecewa apalagi sampai menjatuhkan tangan.


Setelah semua pesan dari keluarga mereka terima, akhirnya mereka melangkah keluar melewati pintu utama hotel dimana sebuah mobil sudah menunggu.


Laras dan Bram akhirnya menikah dan tujuan mereka saat pacaran akhirnya tercapai.


Tidak ada lagi kebahagiaan yang lebih besar selain menikahi pasangan yang sudah mereka kenal dan cintai sejak lama.


Terima kasih semuanya yang sudah mengikuti cerita "Janji dalam Cinta". Selanjutnya saya akan meneruskan cerita yang sudah hiatus lama.


Terima kasih untuk semua dukungannya...


Ci vediamo

__ADS_1


__ADS_2