Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 58.


__ADS_3

Laras sedang berada dikamar nya ketika Indah memanggilnya untuk turun kebawah.


"Kamu sedang apa di atas?," tanya Indah ketika Laras sudah bersamanya.


"Menyiapkan keperluan buat besok Mam. Papa besok mau keluar kota?," tanya Laras pada Dirga.


"Sebenarnya ini adalah hotel kedua hasil kerjasama antara Papa dan Om Rizal. Kalau saja Bram tidak mewakili Om Rizal maka dialah yang akan ke sana. Bagaimana pendapat Kaka mengenai pekerjaan Mama?," tanya Dirga sambil mengawasi Danish sementara Indah sedang berada di dapur untuk mengupas buah.


"Lumayan suka, walaupun aku lebih suka dengan membuat estimasi biayanya dari pada dengan seni bangun nya," jawab Laras nyengir.


Mendengar ucapan Laras membuat Dirga tertawa.


"Kamu itu seperti Papa. Papa lebih suka dengan angka sementara Om Rizal lebih suka dengan bangunan dan fungsi nya."


"Dengan kata lain sebenarnya Papa dan Mama adalah pasangan yang serasi dalam pekerjaan."


"Benar."


"Jadi jam berapa Papa besok berangkat?," tanya Laras lagi.


"Papa akan berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi jadi bisa sekalian mengantar Kaka."


"Tapi, Dinar besok berangkat bareng Pap."


"Lalu?."


"Om Andri bagaimana?."


"Om Andri langsung ke Bandara. Jadi besok Didi yang akan mengemudi."


"Ooh. Eh Mam, itu buah mangga yang pohon belakang ya?," tanya Laras pada Indah yang datang dengan membawa piring berisi potongan buah mangga.


"Iya. Tadi suaminya Mba Sri yang memetik buah mangga nya. Lumayan banyak dan besar-besar. Besok ingatkan Mama supaya Dinar bawa pulang ya buah mangga nya!," kata Indah sambil memakan potongan buah.


"Sip."


"Besok Kaka latihan drama dirumah siapa?," tanya Indah sambil mengangkat Danish agar duduk dipangkuan nya.


"Di rumah Weni."


"Dimana rumahnya?," tanya Indah ingin tahu sementara Dirga menatap istrinya dengan heran.


"Di komplek perumahan yang berada dekat sekolah. Itu loh Mam yang perumahan sebelum sekolahan Kaka. Nanti Kaka kirim maps nya kalau sudah dapat," jawab Laras tanpa ada rasa diawasi.

__ADS_1


"Memangnya Kaka belum tahu rumahnya?, atau kalian juga belum buat group khusus teman sekelas lagi."


"Mama ga usah khawatir, tadi absen siswa ada nomor teleponnya dan Kaka udah fotokopi kok lembarannya dan sudah Kaka bagikan sama teman yang lainnya."


"Baguslah kalau kalian mempunyai nomor telepon teman kalian."


"Iya Mam, Kaka ngerti kok," jawab Laras tertawa.


Sejak Laras kelas 5 SD Indah selalu memantau rumah temannya tempat ia belajar kelompok serta nomor telepon teman-temannya yang bisa dihubungi dan Laras sama sekali tidak keberatan karena ia tahu Indah melakukan semua itu untuk melindunginya.


Setelah menikmati buah, Laras izin untuk kembali ke kamarnya.


Dirga dan Indah masih duduk berdua dengan Danish yang sudah mulai mengantuk.


"Jam berapa Mama tadi pulang dari kantor?," tanya Dirga.


"Tadi sekitar jam 3. Antara Laras dan Dinar mempunyai rasa tertarik yang besar pada pekerjaan yang Mama lakukan. Mungkin lusa mereka berdua akan ikut bersama Desi ke lokasi proyek di Bekasi. Papa tidak keberatan bukan?," ucap Indah.


"Mengapa tidak pergi dengan Mama?."


"Lusa Mba Sri tidak bisa menjaga Danish karena ada keperluan. Tapi sebenarnya bagus juga buat mereka agar Mereka mulai merasa bekerja dengan serius karena bukan Mama yang mengawasi mereka."


"Oh begitu. Sebaiknya Mama menidurkan Danish, sepertinya dia sudah mengantuk sekali." ucap Dirga tertawa melihat putranya yang sudah mengantuk tapi masih tetap memegang buah ditangannya.


"Benar. Papa mau masuk ke kamar juga atau nanti?" tanya Indah pada Dirga.


Setelah Indah masuk ke kamar untuk menidurkan Danish, Dirga menghubungi Rizal untuk membicarakan hotel kedua yang akan mereka bangun di wilayah Indonesia timur yang sudah semakin maju perkembangan ekonominya.


Dikamar atas, Laras sedang online bersama group wa kelasnya membicarakan untuk latihan drama besok.


"Eh, bagaimana kalau aku sebagai pembaca cerita?," tanya Laras pada temannya.


"Ga bisa. Aku lebih setuju yang menjadi pembawa cerita itu Vina. Suaranya lebih cocok," kata Seno yang langsung mendapat emot terkejut dari yang lainnya.


"Ga nyangka ternyata Seno diam-diam mengingat suara Vina. Suaranya seperti apa sih Sen?," tanya Aryo.


"Vin, coba kamu bersuara agar kita dapat mendengar suaramu itu!," kata Fachri.


"Kalau aku bersuara sekarang, nanti kalian pada jatuh cinta lagi seperti Seno," jawab Vina dengan emot tertawa.


"Bener tuh, kacau jadinya kalau kalian para cowok pada jatuh cinta sama suara Vina. Kan ga mungkin kalian bisa memiliki suara nya sementara dia perlu untuk bicara supaya ga dibilang bisu," ujar Laras.


Dan seperti Seno, pesan yang dia kirimkan langsung mendapat respon sedih dan menangis.

__ADS_1


"Woooi untuk tugas besok dari panitia MPLS udah pada disiapin belum?," tanya Aryo mengingatkan temannya.


"Beres. Aku Udah siap semua kok," jawab Weni dan mereka semua juga sudah siap dengan tugas yang diberikan dan harus dibawa besok.


Mereka masih sibuk di group ketika layar handphone Laras menampilkan panggilan video dari Bram.


"Halo Yang, kok tumben langsung dijawab panggilannya?," tanya Bram sambil menggosok rambut dengan handuk kecil.


"Kamu baru selesai mandi Shay?, udah malam ini!," tegur Laras pada Bram.


"Ini belum malam Yang, kamu sedang apa?," tanya Bram sambil duduk ditempat tidur.


"Baru online sama teman digroup wa. Eh kok tumben sih udah nelpon lagi, kan tadi udah teleponan?," tanya Laras.


"Aku mau ngabarin kalau malam ini aku akan ke Indonesia untuk melihat hotel yang akan dibangun di Indonesia Timur."


"Loh, lalu siapa yang akan mewakili pekerjaan kamu di Jepang?."


"Sebenarnya pertemuan resminya itu hanya sehari kemarin, sedangkan hari ini kami kelapangan. Sisanya tidak perlu aku lagi untuk tetap berada di sana," jawab Bram menjelaskan.


"Oh seperti itu."


"Bagaimana kalau aku bicara sama Om Dirga agar kamu dan Tante bisa berkunjung ke lokasi kami pada akhir pekan?."


"Boleh juga sih. Ya udah nanti kamu omongin aja sama Papa."


"Oke. Yang..,-


"Hem, kenapa?."


"Aku kangen deh sama kamu. Kangen berat pengen meluk kamu."


"Masa, kok bisa pengen meluk aku sih?, kan kita belum pernah berpelukan?."


"Ya itu dia sebabnya aku pengen meluk kamu," jawab Bram tersenyum miring saat mendengar jawaban Laras.


"Ya udah nanti ya kalau kita ketemu, kamu bisa memeluk Danish sepuas kamu," jawab Laras kalem membuat Bram kesal.


"Ya sudah ga apa-apa kok asal waktu aku memeluk Danish kamu sedang menggendongnya," jawab Bram membuat Laras tertawa.


"Udah ah, udah malam aku mau istirahat dulu."


"Ya sudah, sampai ketemu nanti ya. Selamat malam."

__ADS_1


"Selamat malam."


Seperti kemarin, Laras sudah bangun pagi-pagi, karena hari ini Dirga akan keluar kota bersama Andri untuk melihat daerah yang menjadi lokasi pembangunan hotel mereka.


__ADS_2