
Laras berjalan dibelakang Dinar karena ia sedang membaca pesan dari Amora yang baru saja diterimanya.
"Laras, saat ini aku sedang bersama Mama. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Papa. Sejak keputusan Papa untuk menceraikan mama 2 tahun lalu Dicky sudah meninggalkan Mama setelah mengambil sebagian kekayaan Mama. Aku sangat menyesali tindakan Mama yang mempercayakan hartanya pada Dicky. Tapi dia tetaplah Mama ku dan aku tidak tega membiarkan Mama sendirian dalam kesedihannya. Sekarang Mama menerima resiko atas tindakannya yang terlalu sering melakukan operasi dan ia sedang menderita depresi. Dan sudah 2 bulan ini Mama tinggal dirumah sakit yang menangani penderita gangguan jiwa. Aku harap kamu bisa membujuk papa untuk melihat keadaan Mama walaupun Papa sudah dikhianati Mama. Aku baru mendapat pesan dari papa yang bertanya kapan aku ke Jakarta. Aku mohon agar kamu bersedia menjelaskan dan membujuk papa untuk datang menengok papa."
Laras tidak percaya dengan pesan yang dia terima dari Amora hingga ia tidak memperhatikan siapa yang sudah berdiri menunggunya sementara Dinar sudah menghentikan langkahnya sehingga ia menabrak tubuh Dinar.
"Astaga Din, kamu ngapain sih berdiri ditengah jalan begitu?," tanya Laras kesal.
"Kamu sendiri kenapa bisa nabrak aku?, memangnya kamu lihat apa sih?," tanya Dinar yang merasa tidak terganggu tubuhnya ditabrak Laras.
"Aku sedang baca pesan," jawab Laras.
"Pesan dari Bram?, boleh lihat dong isi pesannya?," goda Dinar sambil melirik Laras.
"Kalau dia sih ga perlu ngirim pesan, tapi langsung Videocall," jawab Laras tertawa.
__ADS_1
"Masa sih?," tanya Dinar.
"Iyalah, buat dia lebih baik langsung tatap muka daripada harus mengirim pesan dan menunggu mendapat balasan. Eh kenapa kamu berdiri disitu?," kata Laras lagi karena Dinar tidak menjawab pertanyaan nya tadi.
"Lihat tuh didepan ada siapa?," kata Dinar sambil menunjuk dengan dagunya.
"Oh, Meta. Lalu kenapa?."
"Astaga La,.dia sepertinya sengaja menunggu kamu deh," ucap Dinar khawatir.
"Bukan takut, cuma males ladenin yang kaya gitu," jawab Dinar nyengir.
"Ga usah ladenin kalau malas. Udah yuk masuk kelas!," kata Laras mendahului Dinar.
Laras berjalan menuju kelasnya sementara di tangga yang menuju kelasnya terlihat Meta dan 5 orang temannya menutup tangga tersebut sehingga Laras dan Dinar tidak dapat melewatinya.
__ADS_1
"Permisi ya Kak, kita mau lewat," kata Laras sopan.
"Ya udah lewat aja, memangnya kita larang kamu lewat?," tanya salah satu teman Meta.
"Kaka memang tidak melarang kami, tapi Kaka sudah membuat kami tidak bisa lewat karena Kaka menutup jalan," jawab Laras berusaha untuk tetap sopan.
"Halah, banyak cakap kamu. Tinggal lewat aja apa susahnya sih?," kata temannya yang lain.
Laras kemudian membuka tas miliknya dan melihat handphone mainan yang akan digunakannya untuk drama nanti. Berusaha menahan tawa ia menyerahkan handphone miliknya pada Dinar yang menatapnya tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Laras.
"Din, tolong kamu rekam saat aku lewat ya, jadi kalau nanti aku tidak bisa lewat dan jatuh kita bisa memiliki bukti yang menjadi penyebabnya," kata Laras dengan suara yang agak kencang dan dapat didengar oleh Meta cs.
Melihat apa yang akan dilakukan Laras membuat Meta dan teman-temannya pergi meninggalkan tangga yang akan dilewati oleh Laras karena mereka tidak mau mengambil resiko mendapat sanksi atas perbuatan yang mereka lakukan.
"Pintar kamu La, aku ga ngira kamu punya cara seperti itu," puji Dinar sambil tertawa.
__ADS_1
"Siapa dulu... kamu harus ingat, sekolah kita ini adalah sekolah yang tidak akan membiarkan ada aduan ataupun kejadian yang bisa membuat mendapatkan penilaian buruk. Jadi kalau ada yang mengganggu langsung saja kita bikin bukti atau lapor pada pihak sekolah," ujar Laras sambil meneruskan langkahnya menuju kelas.