Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 40.


__ADS_3

Keesokan paginya, seperti biasa Laras pagi-pagi sudah rapi, begitu juga dengan Indah yang sudah selesai dengan pekerjaan nya, sementara Dirga masih berada dikamar.


"Papa kemana Mam, belum bangun?," tanya Laras saat ia tidak melihat Dirga dimeja makan.


"Tadi sudah bangun, sepertinya Papa kurang sehat. Dan tadi Mama minta agar Papa istirahat saja, ga usah ke kantor," jawab Indah.


"Ooh, apa Mama akan nganter aku ke sekolah?."


"Tentu saja, kenapa rupanya ?."


"Aku pernah lihat Papa nya Raisya sangat manja sama mamanya waktu sakit, Raisya sampai malu," ucap Laras tentang papa temannya.


"Mama tidak tahu, karena Mama tidak pernah melihat Papa sakit," jawab Indah dengan senyum di bibirnya.


"Ooh, kalau gitu aku akan pamitan sama Papa dulu sebelum berangkat sekolah." kata Laras dan ia berjalan menuju kamar orang tuanya.


Setelah mengetuk pintu, Laras memanggil papa nya.


"Pah, Papa Laras boleh masuk?."


"Masuklah sayang!," jawab Dirga.


Laras membuka pintu dan masuk kedalam kamar dan melihat Dirga yang masih berbaring ditempat tidur.


"Papa sakit?, apa yang Papa rasakan?," tanya Laras lembut.


"Papa tidak apa-apa sayang, hanya merasa lemas saja," jawab Dirga tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu Papa istirahat saja ya, Aku berangkat sekolah dulu."


"Hmm, hati-hati."


Setelah mencium pipi Dirga, Laras keluar kamar tanpa mengetahui mata Dirga berkaca-kaca mendapat perhatian seperti itu dari putrinya yang sempat ia sia-siakan.


"Hatimu sangat tulus Laras, walaupun Papa pernah tidak ada untukmu, tapi kau tetaplah anak yang berbakti dan hormat pada orang tua." ucap Dirga dalam hati.


Saat Dirga masih memikirkan Laras pintu kamar terbuka, rupanya Indah yang masuk untuk mengambil kunci motor dan berpamitan.


"Bagaimana keadaan Mas Dirga, apakah masih pusing dan mual?."


"Hanya lemas nya saja, mungkin karena masuk angin saja. Kau tahu bukan cukup lama semalam kita tidak memakai pakaian?," jawab Dirga dengan menggoda Indah tentang apa yang mereka lakukan semalam.


"Kamu Mas, masih sempat aja." kata Indah malu.


"Kemarilah beri aku ciuman sebelum kamu mengantar Laras." kata Dirga sambil menarik tubuh Indah dan memeluknya erat.


"Meladeni mu bisa-bisa Laras terlambat Mas, aku berangkat dulu."


Dirga tertawa senang mengetahui bahwa Indah selalu memiliki gairah yang sama kuat dan tingginya dengan dirinya, karena itulah ia tidak bisa menjauh dari Indah.


"Mama hari ini kekantor?," tanya Laras saat ia turun dari motor.


"Nanti lihat keadaan, kalau keadaan Papa membaik Mama kekantor, tapi kalau tidak Mama kerja dirumah. Sudah sana masuk, jadi murid yang baik dan belajar yang benar jangan menanyakan ngerumpi," pesan Indah membuat Laras tertawa.


"Mama emang pinter deh, bisa tahu kalau aku suka ngerumpi," jawab Laras sambil mencium tangannya, dan sebelum ia mendengar ceramah dari Indah, Laras segera berjalan cepat menuju gerbang sekolah.

__ADS_1


"Laras, Laras, Mama tidak tahu bagaimana rasanya bila kamu melanjutkan sekolah nanti dan jauh dari Mama," ucap Indah sebelum ia menyalakan motornya kembali dan kembali pulang kerumah.


Tidak sampai 1jam Indah sudah kembali sampai rumah dengan membawa bubur kacang hijau untuk Dirga.


"Eh Ibu, saya kira tadi Ibu langsung ke kantor?," ucap Sri begitu melihat Indah masuk kedalam rumah.


"Memangnya kenapa Mba?," tanya Indah sambil menuang bubur kacang hijau kedalam mangkuk.


"Itu Bu, sepertinya Bapak masuk anginnya parah, dari tadi saya mendengar suara Bapak dari kamar."


"Iya Mba, saya masuk ke kamar dulu ya, mudah-mudahan Bapak bisa makan bubur agar perutnya terisi dan tidak dingin lagi," kata Indah dan ia berjalan cepat ke arah kamarnya.


Indah tidak melihat Dirga berada di tempat tidur dan rupanya dia sedang berada dikamar mandi.


"Apakah masih mual seperti subuh tadi?," tanya Indah khawatir.


"Ya, dan rasanya benar-benar tidak karuan. Apakah kamu akan kekantor?."


"Aku rasa tidak. Aku tidak mungkin meninggalkan dirimu dalam keadaan seperti ini. Aku tadi membeli bubur kacang hijau dan kamu harus memakainya agar perutmu terisi."


"Baiklah." jawab Dirga sambil menerima mangkuk yang dibawa Indah.


"Rasa dan wanginya sangat enak. Sepertinya aku menyukainya, apa kau tahu ini adalah pertama kalinya aku makan bubur kacang hijau dicampur dengan ketan hitam?."


"Hah, masa sih Mas, aku tidak tahu. Tapi kenapa Mas tidak pernah makan sebelumnya."


"Entahlah, dan aku sendiri tidak begitu suka, tapi entah mengapa pagi ini rasanya sangat nikmat dan perutku juga menjadi hangat. Dimana kamu membelinya ?."

__ADS_1


"Dekat sekolah Astri. Kalau kau suka, bagaimana kalau aku membuatnya?."


"Tidak usah, kamu beli saja agar praktis dan lebih cepat dinikmati," jawab Dirga membuat Laras terpana tanpa mengucapkan apa-apa.


__ADS_2