
Syafira dan Bram sedang duduk di lobby menunggu kedatangan Indah dan Laras.
" Mama sudah beritahu mereka kalau kita sudah sampai?," tanya Bram pada Syafira.
" Sudah. Mereka sudah turun. Tuh mereka datang ." kata Syafira tersenyum.
" Halo, lama nunggu ya ?," sapa Indah dan Laras menyapa Syafira dengan mencium tangannya.
" Kami tadi telepon setelah tiba disini. Bagaimana sudah siap berangkat ?," kata Syafira.
" Hayu...,-
Syafira dan Indah duduk di kursi belakang sementara Laras duduk di sebelah Bram yang duduk di kursi pengemudi.
" Tumben diam ?," tanya Bram pada Laras, karena sejak tadi Laras tidak bersuara sama sekali , sangat berbeda dari biasanya.
" Hmm."
Bram melirik Laras mendengar gadis itu hanya menjawab dengan suara tidak jelas.
" Kamu sakit gigi ya ?, atau sariawan ?."
" Menurutmu bagaimana ?," tanya Laras.
" Ga tau," jawab Bram singkat.
Syafira melirik Indah dan bertanya dengan mengirim pesan.
" Ada apa dengan Laras ?,"
" Lagi galau."
" Hah ?, galau kenapa ?,"
" Galau ga tau mau gimana kalau pacaran sama anak kuliahan."
Mendapat balasan pesan dari Indah membuat Syafira tertawa, dan ia langsung mendapat teguran dari Bram.
" Kenapa sih Mam, tiba-tiba ketawa."
" Ga apa-apa. Sudah mengemudi aja," jawab Syafira.
" Memangnya anakmu mau pacarannya gimana ?," tulis pesan Syafira lagi.
" Ga tau juga, pemikiran anak SMP kadang tidak terduga. Tapi aku juga sempat bingung, bagaimana kalau Bram berpacaran dengan Laras, sedangkan usia mereka tidak sebaya."
" Lalu Laras masih galau ?,"
" Iya. Makanya dari tadi dia diam saja. Sepertinya dia nanti mau bicara sama Bram."
" Apakah dia sudah mempunyai solusinya ?."
__ADS_1
" Sudah. Dia akan mengijinkan Bram berpacaran dengan wanita lain, karena merasa kasihan bila harus menunggunya dan tidak bisa melakukan gaya berpacaran seperti di sinetron atau pasangan yang sering dia lihat."
" Laras sampai berpikir seperti itu ?, bagaimana kalau sampai Bram tergoda dengan wanita lain ?."
" Berarti mereka memang tidak berjodoh."
" Tidak bisa, kalau begitu aku akan membicarakannya dengan Rizal dan Papa. Kalau perlu mereka segera menikah. Jadi kalau terjadi sesuatu memang sudah hak nya."
" Aku yakin Bram dan Laras tidak akan setuju, bila mereka menikah sekarang. Dan aku juga merasa berat melepaskan Laras untuk menjadi seorang isteri disaat usianya masih sangat muda."
" Tapi aku tidak setuju kalau Bram harus mempunyai pacar sementara dia sudah bertunangan dengan Laras." balas Syafira.
Bram dan Laras saling berpandangan melihat mama mereka sibuk dengan handphonenya .
" Mama ngapain sih ?, Kok malah sibuk sama handphone masing-masing ?," tanya Bram.
" Mama lagi bahas masalah kalian ." jawab Syafira.
" Hah ?, bahas masalah kita ?, kenapa ga ngomong langsung aja ?," tanya Bram.
" Berisik kamu ah. Eh Bram, Laras, bagaimana kalau kalian menikah saja ?," tanya Syafira tiba-tiba membuat mereka yang mendengarnya terkejut.
" Hah. Ga bisa...," jawab Bram dan Laras bersamaan membuat ibu mereka tertawa.
" Kenapa ?, kalian bicaranya saja bisa kompak seperti itu ?," goda Syafira.
" Pokoknya aku ga mau !."
" Kalau begitu, kalian harus berjanji kalian harus menikah saat Laras lulus SMA. Dan kamu Bram, tidak boleh memaksa Laras untuk mengikuti gaya berpacaran seusiamu. Kamu harus mengerti Laras."
" Maksud Mama, pacaran anak SMP gitu ?, cuma pegangan tangan, terus kalau pergi harus didampingi orang tua ?."
" Mengapa tidak. Memangnya kamu mau ngajarin Laras dewasa sebelum waktunya ?," tanya Syafira.
" Mam, aku pernah lihat remaja belia gaya berpacaran mereka terkadang melebihi anak kuliahan. Mereka melakukan nya karena rasa ingin tahu dan coba-coba tanpa memikirkan resikonya, beda dengan kami, bila kami melakukan sesuatu ya harus dipikirkan masak-masak, merugikan tidak buat masa depan kami. Benar ga ?," ucap Bram sambil menyentuh paha Laras membuat gadis itu melotot.
" Benar Laras seperti itu ?," tanya Syafira.
" Ga tau Tante. Laras belum pernah pacaran."
" Nah Bram, kamu dengar kan, karena Laras belum pernah pacaran, maka kamu harus mengajarkan yang baik-baik."
" Ya Mam."
" Gini loh Fira, memang benar banyak anak-anak remaja seusia Laras memilih berpacaran seperti yang dikatakan Bram, dan Laras merasa usianya belum cukup bila harus seperti itu. Jadi dia ragu bila berhadapan dengan Bram nantinya ." kata Indah menjelaskan.
" Oh, gitu. Aku ngerti kok Tante. Tante tidak usah khawatir, aku tidak akan memaksa Laras, tapi kalau ngasih pelajaran sedikit ga apa-apa kan Tan, lagi pula kita sudah bertunangan jadi ga masalah kalau ada cipika-cipiki sedikit."
" Bram !." tegur Syafira sementara Bram hanya tertawa sedangkan Laras cemberut.
" Ya Tante hanya berharap kalian tidak berbuat yang berlebihan." kata Indah menanggapi ucapan Bram.
__ADS_1
Tidak berapa lama mereka sudah tiba di Orchard Road dan memulai acara berbelanja mereka sementara Bram dan Laras hanya mengikuti Mama mereka.
Setelah memiliki beberapa tas belanja, Syafira membawa mereka menuju sebuah toko perhiasan yang sangat eksklusif.
" Sayang, kemari lah !." panggil Syafira pada Laras.
" Menurutmu bagaimana Indah, bagus tidak untuk Laras ?," tanya Syafira menunjuk sebuah gelang tangan yang dihiasi batu mulia.
" Bagus. Tapi menurutku itu berlebihan untuk saat ini." ucap Indah.
" Bagaimana dengan yang itu ?."
" Kalau yang itu aku suka." jawab Indah.
Lalu pegawai toko mengambilkan gelang yang dimaksud.
" Cara sayang kamu pakai !." perintah Syafira.
" Benar, bagus bukan. Apakah gelang ini 1 set atau terpisah ?," tanya Syafira sementara Laras kembali ke kursinya dan duduk di samping Bram .
" Gelang ini bisa secara terpisah, dan bisa juga dibeli 1 set Nyonya."
" Kalau begitu, aku mau 1 set." jawab Syafira membuat Indah geleng kepala.
" Bisa aku lihat gelang yang itu ?," tanya Indah pada pegawai toko yang lain.
" Kamu membeli dua pcs untuk siapa ?,"tanya Syafira.
" Untuk Amora dan Laras."
" Oh ya, bagaimana kabar Amora. Aku dengar ia akan melanjutkan sekolahnya di Australia."
" Ya, Zenia mau Amora sekolah SMA nya di Australia."
" Apa Zenia tidak khawatir dengan putrinya ?, Aku sangat tidak suka dengan Zenia sejak pertama kali Rizal mengenalkan aku padanya. Sangat penuh kepura-puraan." ucap Syafira dengan jelas membuat Indah terdiam.
" Apa kamu tahu ketika Dirga melamar dirimu apa yang dimintanya ?, dia menginginkan 30% saham perusahaan dimana Rizal juga terlibat di perusahaan tersebut. Aku dengan tegas menolak bila Dirga akan memberikan saham tersebut pada Zenia, maka kami akan menarik dukungan dalam kerjasama tersebut. Dan akhirnya Dirga memberinya lahan yang berada di Australia. Wanita yang sangat serakah dibalik wajahnya plastiknya," ucap Syafira jengkel.
" Aku benar-benar tidak mengetahuinya."
" Ya, Dirga dan Rizal sudah seperti saudara. Banyak hal diceritakan oleh Dirga, dan dia sangat mencintaimu, tetapi dengan caranya sendiri."
" Terima kasih Fira."
" Untuk ?."
" Untuk semuanya, aku sebenarnya ragu apakah kamu akan menerima Laras sebagai menantu mu, karena aku adalah isteri kedua dari Mas Dirga."
" Tidak ada masalah kesatu atau kedua yang penting mampu mendidik anak menjadi baik, tahu cara mengormati orang tua serta berakhlak baik itu sudah cukup."
" Apakah kamu sudah pernah bertemu dengan Amora ?."
__ADS_1
" Kami pernah bertemu, dan aku sangat tidak suka, begitu juga dengan Bram."