
Malam ini untuk pertama kalinya Amora bermalam dirumah Indah. Wanita kedua dalam kehidupan papa nya setelah mama nya. Ketika pertama kali Amora mengenal Indah adalah ketika ia di ajak mama nya untuk mengunjungi Indah ketika baru seminggu melahirkan Laras. Saat itu usianya baru 3 tahun. Ia sangat bahagia begitu mengetahui bahwa dirinya mempunyai adik perempuan. Tetapi rasa sukanya tidak bertahan lama karena mama menariknya pulang ketika mengetahui perkawinan papa di akui oleh negara. Kenangan hari itu membekas dalam hatinya karena sejak itu mama nya selalu mengharapkan lebih dari dirinya. Tidak ada waktu bagi Amora untuk bersantai dan bermain. Ia selalu dituntut oleh mamanya untuk belajar bagaimana menguasai kekayaan papa nya. Pada saat dirinya mulai percaya bahwa papa nya akan memberikan hartanya pada anak yang lain, Amora melihat bahwa mama nya ternyata membawa lelaki lain ke dalam rumahnya, dan ke dalam kamar pribadi mama nya. Sejak itu Amora menjadi anak pemberontak dan ia selalu menganggap kedua orang tua nya adalah dua orang dewasa yang hanya memikirkan nafsu duniawai dan mementingkan diri sendiri. Tidak pernah Amora mendapat perhatian dari mamanya maupun dari papa nya. Dia hidup sendiri di rumah besar dan hanya dekat dengan pembantunya yang sudah menjaganya sejak kecil. Ketika ia mengetahui bahwa Laras sekolah di sekoah yang sama dengannya dan mendapatkan kasih sayang dari mama nya, Amora merasa iri karena dia tidak mendapatkan dari mama nya. Itulah alasan ia mengganggu Sarah, agar mama dan papa nya memperhatikan dirinya.
Hari ini ia melihat dan merasakan bahwa Indah, wanita kedua dalam kehidupan papa nya sudah menjadi wanita pertama sejak mama nya di ceraikan. Amora dapat merasakan bahwa pilihan papa nya sangat tepat karena Indah menyayangi anak-anaknya dengan tulus bersikap layaknya sebagai orang tua terhadap anaknya dan tidak segan-segan menegur bila melakukan kesalahan. Amora merasakan sikap tulus Indah ketika memeluknya ketika mereka belum berangkat ke Jakarta. Malam sudah semakin larut dan akhirnya membawa Amora kedalam mimpinya yang damai karena berada di tengah-tengah orang yang menyayangi dirinya.
Matahari belum menampakkan sinarnya bukan saja karena mendung, tetapi karena memang masih sangat pagi dan adzan subuh baru saja berkumandang.
"Mba, tolong belikan ibu lupis dan ketan di tempat biasa ya!" kata Indah pada pengasuh Danish sementara dirinya segera membuat roti panggang untuk Amora dan Laras.
"Baik ibu. Apa ada yang lainnya lagi Bu?"
"Itu saja cukup. Catatan yang saya berikan semalam sekalian bawa ya Mba, uangnya sudah kan semalam?" kata Indah.
"Sudah Bu. Kalau begitu saya pergi dulu Bu."
Sambil menunggu pengasuhnya Danish datang, Indah menyiapkan bumbu untuk masakan yang akan dia masak nanti dan hari ini ia berencana untuk memasak cumi saus padang dan sayur capcay. Sementara untuk Danish ia menyiapkan sup ayam dengan isi sayuran yang lebih banyak. dan kini ia sudah mulai memasaknya karena untuk keperluan Danish selalu diutamakan.
"Masak apa Mam?" tanya Laras pada Indah dengan wajah yang sudah terlihat segar.
"Sedang masak sup ayam untuk Danish. Sedangkan untuk kita mama mau masak cumi sama sayur capcay aja. Kamu mau apa sayang?" tanya Indah.
"Apa aja yang mama masak aku selalu suka."
__ADS_1
"Kamu sudah mandi La?" tanya Indah.
"Sudah, memangnya kenapa Mam?"
"Kalau belum mama mau minta tolong goreng telur untuk isi roti kalian." jawab Indah.
"Oh, ga masalah Mam. Aku kan belum pakai seragam," jawabnya.
Dengan gesik Laras mengambil penggorengan khusus telur dan ia menggorengnya dengan cepat tanpa membuatnya hangus.
"Rotinya sudah siap Mam?" tanya Laras ketika telurnya sudah siap.
"Siap Mam," katanya tertawa.
"Mam, hari ini mama ke kantor tidak?" tanya Laras ketika Imas, pengasuhnya Danish yang baru sudah datang dengan membawa pesanan Indah.
"Ke kantor, tapi hanya sebentar. Mungkin sebelum jam makan siang sudah kembali. Dan papa berencana mengajak Amora ke kantor. Kenapa sayang?" tanya Indah dan ia melanjutkan pertanyaannya pada Imas yang sedang mengeluarkan barang-barang belanjaannya.
"Semuanya ada Mbak?" tanya Indah.
"Ada Bu. Apa saya langsung bersihkan cumi dan ayamnya sekalian Bu?"
__ADS_1
"Boleh, kamu bersihkan semuanya ya. Eh iya kembang tahu sama udangnya ada kan?"
"Ada bu."
"Ya sudah kamu bersihkan semuanya di tempat cuci ya, biar bau nya ga kemana-mana. Terus kamu sudah pesan ikan gurame untuk besok?"
"Sudah Bu. Pokoknya semua pesanan ibu semuanya sudah saya pesan dan diterima sama Mang Husen," jawab Imas tertawa.
"Mbak Imas hafal banget sama nama tukang sayurnya. Jangan-jangan ada jagung manis di tepung bakwan nih?" goda Laras tertawa.
"Ih kaka bisa aja. Emang namanya Husen Kak," jawab Imas tersipu malu.
"Kamu suka aja goda in orang. Eh semalem Bram ngapain?" tanya Indah berbalik menggoda Laras yang langsung cemberut dengan pipi merona hingga Indah tertawa geli melihat sikap Laras yang begitu gugup dan serba salah.
"Mama apaan sih? udah ah aku mau ke kamar dulu, mau pakai seragam."
Indah tertawa melihat kelakuan putri tertuanya dan ia tidak mengetahui Amora memperhatikan mereka dengan rasa iri karena ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang diperlihatkan layaknya hubungan kakak adik bukan sebagai ibu dan anak. Dengan langkah pelan ia memasuki dapur dan Indah tersenyum melihatnya.
"Sudah bangun sayang. Mora, bisa bantu mama bawa piring roti ke meja sekalian kamu buka bungkusan makanan yang sudah di beli Imas. Kamu tempatkan di piring ya sayang," kata Indah.
"Ya Mam," jawab Amora dengan cepat dan matanya terlihat berkaca-kaca karena Indah tidak menganggapnya beda dan memperlakukan dirinya sama seperti ia memperlakukan Laras sebagai putri kandungnya.
__ADS_1