
Sesudah mengganti pakaiannya Laras memilih mendengarkan musik walaupun pikirannya sendiri berada di tempat lain.
Hampir 6 tahun dia mengenal Bram dan tidak sekalipun lelaki itu memperlihatkan sifatnya yang buruk apalagi sampai mendekati sifat papa-nya yang suka banyak wanita.
Namun, justru di hari pertunangan mereka, yang diumumkan secara resmi, seorang wanita mendatangi dan merusak acara tersebut.
Pertanyaan seberapa dekat Bram mengenal Halimah membuatnya kembali berpikir bahwa dirinya belum mengenal siapa Bram yang sesungguhnya.
Suara nada dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Laras apalagi saat dia melihat nama Indah pada layar ponselnya.
"Ada apa mama telepon. Apakah keluarganya Bram sudah datang?"
Ingin tahu Laras menjawab telepon dari Indah.
"Ya, Mam."
"Sayang, kamu bisa keluar, kan? Keluarganya Bram menunggu kita di restoran yang ada di lobby," beritahu Indah.
"Iya, Mam. Tunggu Laras, ya," katanya sebelum menutup telepon.
Memakai gaun malam dengan potongan sederhana, Laras keluar dari kamar.
Senyum bangga diperlihatkan Indah karena di usianya yang masih sangat muda, Laras sudah bisa menyesuaikan jenis pakaian seperti apa yang harus dipakai pada saat seseorang mengundangnya.
Mereka sudah dalam perjalanan menuju tempat dimana Bram dan orang tuanya menunggu dan saat Bram melihat Laras memasuki restoran, dengan cepat dia bangun dari duduknya dan bergegas menghampiri.
"Laras...." panggil Bram.
Senyum Laras seolah suntikan penyemangat yang membuat Bram terlihat lebih tenang.
Sebuah pelukan diberikan Bram membuat Laras gelisah. Tidak pernah Laras melihat Bram seperti sekarang.
"Ada apa?"
Ketakutan jelas terasa di suara Laras tetapi Bram memeluk Laras lebih erat.
"Sebaiknya kita duduk, dulu!" ucap Rizal kepada semuanya.
__ADS_1
Seperti terdakwa yang duduk di kursi pesakitan, seperti itu pula yang terjadi pada Bram. Sejak Laras dan keluarganya datang, Bram selalu menatap Laras seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Kau mau mengatakan sesuatu, Bram?" Indah langsung bertanya sebelum Rizal atau Syafira mengatakan sesuatu. Indah melihat Bram tidak seperti biasanya, dia begitu gelisah.
"Benar, Tante. Kedatangan kami kemari untuk menjelaskan kejadian yang berlangsung tadi. Jujur, aku dan Halimah sudah lama tidak bertemu. Terakhir bertemu adalah ketika dia datang untuk meminta pekerjaan di kantor, Papa."
Bram melirik Rizal yang mengangguk untuk membenarkan.
"Lalu, tujuannya merusak acara kalian, apa?"
"Sebelumnya dia menemuiku di toilet. Katanya Mas Bram akan ninggalin aku bahkan sebelum acara berakhir. Sebenarnya apa yang sudah Mas Bram janjikan?"
"Kamu masih percaya padaku, Yank? Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa. Semua hanya imajinasinya saja."
Laras menghela napas. Pada satu sisi dia percaya Bram tidak sebrengsek ayahnya tetapi apakah dia memang sudah mengenal Bram?
Rizal melihat Laras masih meragukan penjelasan Bram dan dia juga melihat Dirga seperti siap memberikan bogemnya.
"Kau pasti tahu betapa brengseknya Om dimasa lalu. Penjelasan yang kamu berikan memiliki banyak celah yang membuat Om meragukannya. Om yakin, bukan hanya Om tapi Laras juga masih menyimpan keraguan."
"Kami sudah bertemu dengan keluarganya Halimah. Selama 10 tahun, Halimah sudah meninggalkan Malaysia, bahkan sebelum Bram bertemu Laras. Kami tidak perlu mengetahui bagaimana kehidupannya di luaran tetapi sejak Bram kuliah di Jakarta sampai saat ini, dia hanya mengenal Laras sebagai wanita yang dia cintai," ujar Rizal ikut memberikan penjelasan.
"Halimah adalah putri pengasuhnya Bram saat kecil. Ayahnya bekerja sebagai tukang kebun. Karena kesalahan yang dilakukan ayahnya, mereka tidak lagi bekerja bersama kami. Dan Halimah ikut bersama orang tuanya ketika dia berumur 12 tahun," jawab Syafira.
"Jadi, mereka sudah lama tidak bertemu dan bisa dikatakan mereka saling kenal ketika kecil."
"Benar. Kami tidak memaksa kalian untuk percaya tetapi kalian pasti sudah tahu tentang sifat dan sikap Bram selama ini," balas Rizal.
"Laras percaya."
Semua menoleh pada Laras. Bram yang duduk paling dekat dengan Laras langsung meraih tangan Laras yang sejak tadi berada di atas pangkuannya.
"Terima kasih. Percayalah, aku seperti yang kamu kenal selama ini, Yank."
"Aku percaya."
Ucapan Laras seperti air pegunungan yang memberikan kesejukan pada saat Bram terasa kepanasan.
__ADS_1
"Setelah Laras percaya bahwa Halimah hanya hallu saja, apakah pertunangan mereka tetap terjadi?" tanya Indah.
"Bagaimana kalau mereka langsung menikah saja. Laras bukan lagi pelajar, dia sekarang sudah jadi mahasiswi. Banyak mahasiswi yang tetap kuliah walaupun sudah menikah. Bagaimana menurut kalian?"
Syafira menatap mereka terutama pada Laras dan Bram.
"Aku setuju. Bagaimanapun usiaku sudah sangat cukup untuk menikah. Aku sudah cukup lama menunggu Laras untuk tiba pada status baru yang kami miliki," sahut Bram cepat.
Dirga dan Indah saling berpandangan. Keputusan yang diucapkan Syafira terlalu cepat sehingga Indah dan Dirga pada akhirnya mengangguk setuju.
"Sekarang giliran Bram dan Laras untuk menjawab. Apakah kalian setuju acara pernikahan kalian dipercepat?"
Bram melirik Laras dan senyumannya cukup membuat Bram yakin bahwa Laras juga setuju.
"Karena kalian sudah setuju, ada baiknya kita mulai mengatur perizinan-nya. Dirga, Indah, kalian tidak keberatan mengurus surat ijin menikah di Jakarta, kan?"
"Tentu saja tidak. Kami akan mengurusnya. Lalu bagaimana dengan tanggal pernikahannya? Apakah kalian akan datang untuk melamar Laras secara resmi atau hanya pembicaraan kita hari ini saja? " tanya Indah.
Indah tidak peduli cara dia bicara menyinggung keluarga.
"Kami akan datang melamar dan di acara tersebut kita bisa bicarakan tanggal pernikahan anak-anak kita. Tidak mungkin kami membuat kalian malu karena anak kalian tidak dilamar secara resmi, " Jawab Rizal membuat Dirga dan Indah lega.
"Terima kasih, Rizal. Seperti rencana semula, lusa kami akan kembali ke Jakarta. Semoga acara nanti berjalan lebih lancar dan tidak ada kendala apa-apa."
Hari itu semua salah paham yang terjadi selesai dan dalam 2 hari yang tersisa, Bram lebih sering terlihat berduaan sementara Syafira dan Indah sibuk belanja untuk keperluan pernikahan anak mereka. Dirga dan Rizal seolah dilupakan sehingga keduanya lebih memilih fokus pada pekerjaan mereka.
"Setelah menikah, kamu mau bulan madu kemana, Yank?" tanya Bram pada Laras.
Saat itu Bram mengajak Laras menikmati makan malam di restoran bintang 5 yang terkenal.
"Belum tahu."
"Kok belum tahu?"
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kapan kita nikah aja belum tahu. Tidak mungkin kita bulan madu sementara aku belum libur kuliah," jawab Laras sambil mengikik.
"Aku yakin orang tua kita pasti memilih tanggal libur kuliah," jawab Bram pasti.
__ADS_1
"Kok?"
"Orang tuaku pasti mengusulkan waktunya liburan karena mengharapkan aku bisa dapat momongan. Mereka sangat mengharap aku bisa punya anak lebih cepat," jawab Bram menerangkan dan Laras menjadi malu karenanya.