
Bel sekolah tanda jam sekolah berakhir telah berbunyi sejak tadi, didalam kelas terlihat Laras dan teman sebangkunya masih asik bicara tidak perduli kelas sudah kosong.
"Apa rencana mu, apakah kamu menerima tantangan Amora?" tanya Raisya.
"Ga tau, belum ada rencana. Sebenarnya aku malas menerima tantangannya, ga ada gunanya."
"Tapi kalau kamu tidak menerimanya dia pasti semakin berulah," kata Raisya mengingatkan.
"Biarkan saja dia menjadi jagoan disekolah. Aku tidak perduli. Kamu sampaikan saja pada teman-temannya kalau aku menolak tantangannya." kata Laras memutuskan.
"Kamu serius, bagaimana kalau dia bertindak di luar sekolah?"" tanya Raisya khawatir.
"Kita tinggal di negara hukum bukan? Aku sudah mengirimkan surat tantangan Amora ke Om ku yang bekerja sebagai pengacara, jadi dia akan tahu siapa yang patut disalahkan bila terjadi sesuatu padaku," kata Laras.
"Jadi kamu mau pulang sekarang? Aku ikut sama kamu ya," kata Raisya .
"Ayo. Mama menyuruh aku pulang cepat."
"Oke, penolakan mu sudah aku kirim pada Zahra dan ia sudah membalas pesanku bahwa kita harus menunggu resikonya karena berani menolaknya" ucap Raisya menjajarkan langkah nya.
"Biarkan," jawab Laras tertawa.
Mereka jalan berdua sambil tertawa-tawa, pada saat melewati gerbang sekolah mereka melihat Amora cs menunggunya.
__ADS_1
"Hey , kamu sudah berani menolak ya, siapa kamu? Masih kelas 1 saja udah bertingkah!," kata Zahra salah satu teman Amora.
"Apa aku harus kelas 3 dulu baru boleh bertingkah?" jawab Laras dan ia bermaksud meneruskan langkahnya.
"Tunggu! Aku tidak suka kamu pergi begitu saja," panggil Amora dengan suara keras.
Laras menghampiri Amora hingga berada tepat di depannya.
"Lalu, kenapa kalau aku pergi. Ini sudah waktunya pulang sekolah. Maaf aku tidak biasa pulang terlambat. Apa kamu tahu hari ini Papa ku akan datang ke rumah dan ia ingin bertemu denganku secara khusus," ucap Laras dengan pelan tetapi penuh peringatan.
" Kau. Kau pikir siapa dirimu? Dengar hari ini aku tidak melakukan apapun, tapi nanti kamu pasti akan menerima akibat dari penolakan mu," kata Amora dengan menahan amarah.
Laras menatap Amora dan ia tahu kakaknya dari ibu yang berbeda sangat marah dan hampir tidak dapat menguasai dirinya. Namun, Amora tahu akibatnya bila Papa mereka tahu mengapa Laras sampai pulang terlambat.
"Laras, aku tidak percaya kamu bisa mengatasi Amora. Selama ini tidak ada yang berani melawannya," ucap Raisya yang sejak tadi ditahan oleh Zahra.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju halte terdekat menunggu angkot yang melewati rumah mereka.
"Aku tidak percaya Amora bisa bersikap kasar seperti itu. Apakah karena desakan dari Mama Zenia yang mempunyai rasa benci padaku dan juga Mama. Kasihan Amora dia sama sekali tidak pantas memiliki sikap kasar seperti itu," kata Laras dalam hati saat memikirkan tantangan Amora yang memintanya untuk balapan mobil dengannya.
"Laras, angkot nya sudah datang, ayo naik," kata Raisya dan merekapun segera naik angkot menuju rumah mereka.
Sementara itu dirumah mewah yang menjadi tempat tinggal Amora, Dirga Sasono sedang berkunjung untuk menemui Zenia dan juga Amora. Ia ditemani oleh seorang pemuda tampan dan sepertinya memiliki bakat menjadi seorang pria ganteng dan tubuh atletis yang pasti akan menjadi idola para wanita.
__ADS_1
" Dimana Amora? mengapa ia belum juga pulang?" tanya Dirga pada Zenia dengan suara tajam dan bernada dingin.
"Sebentar lagi Amora pasti sampai rumah. Apakah Papa tidak ingin istirahat dulu sambil menunggu Amora ," bujuk Zenia lembut.
Dirga menatap tajam wajah isterinya yang cantik dan lembut, tetapi entah mengapa sejak Zenia melahirkan Amora semua rasa gairah yang dimiliki Dirga saat bersama Zenia hilang begitu saja, sangat berbeda bila ia bersama Indah, padahal usia mereka hanya terpaut 3 tahun saja sama seperti usia Amora dan Larasati.
" Aku sudah menunggu hampir 2 jam disini. Aku akan pergi, katakan pada Amora untuk disiplin dan pulang tepat waktu," ucap Dirga dan ia segera bangkit dan berjalan keluar diikuti oleh pemuda tampan yang datang bersamanya.
"Mengapa Om tidak menunggu lebih lama? Bukankah di sana rumah Om Dirga?" tanya Pria tersebut tidak mengerti.
"Ya di sana memang rumah Om, tapi Om sendiri tidak merasa sebagai rumah yang bisa ditinggali," jawab Dirga kalem.
"Apakah kita akan kembali ke hotel?" tanyanya.
"Tidak Bram, Om akan mengenal kan padamu putri Om yang lainnya. Kalau Amora kamu sudah mengenal nya bukan?" tanya Dirga pada pemuda yang dipanggilnya Bram.
"Ya Om, aku sudah mengenalnya, tapi sayang sekali aku tidak menyukai dirinya."
"Mengapa. Bukankah dia cantik?" tanya Dirga.
"Cantik dan ayu, tapi aku tidak menemukan semangat berjuang pada dirinya," jawab Bram dengan ragu-ragu.
"Hem."
__ADS_1
Dirga melirik wajah tampan milik pemuda yang berada disebelahnya.
"Aku tidak tahu anak ini memiliki sifat seperti Ayahnya atau seperti ibu nya. Kalau seperti ayahnya maka dia pasti seorang pejuang yang menghalalkan segala cara. Sementara kalau seperti ibu nya, aku khawatir dia akan menjadi pemuda lembek yang mengutamakan perasaan. Kalau wajah dia perpaduan dari kedua orang tuanya," kata Dirga dalam hati.