Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 86


__ADS_3

Indah mengendari mobilnya menuju salah satu mall yang juga menyediakan wisata untuk keluarga karena ia juga membawa Danish bersamanya.


Amora yang memilih untuk duduk di kursi penumpang bersama dengan Danish terlihat begitu gembira sementara Laras sibuk dengan ponselnya.


"Sedang chat sama siapa sih Ka?" tanya Indah pada putrinya.


"Hemm, sama Bram Mam," jawab Laras mengangkat wajahnya dari lauar ponselnya.


"Bram tidak ke rumah?" tanya Indah lagi.


"Belum sempat Mam. Menurutnya pekerjaannya masih sangat banyak," jawabnya kemudian menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Sudah selesai?" tanya Amora dari kursi belakang.


"Sudah. Eh kamu kenal Almer di mana?" tanya Laras saat ingat akan ucapan Amora saat dikenalkan pada Almer.


"Aku bertemu dengannya waktu pertama kali berangkat ke Australia. Dia salah mengambil tas karena warna dan model yang sama. Aku tidak mengira kalau ada yang menyamai tas ku, sementara dulu itu aku selalu mempunyai barang-barang yang limited edition," jawab Amora tertawa.


"Apa hubungan kalian berlanjut?" tanya Laras ingin tahu.


"Tidak. Saat itu aku masih sangat kecewa dengan mama, jadi aku tidak perduli dengan yang terjadi disekelilingku. Setahun aku di sana, aku masih sangat marah apalagi ketika mama menyalahkan papa sehingga Dicky meninggalkannya."


"Menyalahkan papa? Kenapa?" tanya Laras lagi.


"Laras... Stop. Kalau ingin bertanya seperti itu pada Amora, katakan di rumah, oke!" tegur Indah pada putrinya.


"Oke Mam," jawab Laras merasa tidak enak hati.


"Ga apa-apa kok Mam. Memang kenyataannya mama aku tidak pernah bersyukur dengan semua yang diberikan oleh papa. Dan kalian juga tahu bukan bagaimana akhirnya," jawab Amora sabar.


"Mama mengerti sayang. Tetapi bukan tempatnya juga Laras bertanya seperti itu padamu," jawab Indah menjelaskan.


"Buat ku tidak masalah kok Mam."


Indah hanya tersenyum mendengar jawaban Amora, gadis remaja yang terlihat dewasa di usianya yang masih remaja.


"Eh Amora, tahun ini kamu 17 tahun bukan? Tepatnya tanggal berapa?" tanya Indah tiba-tiba.


"Hari ini Mam," jawab Amora tersenyum malu.

__ADS_1


"Astaga... Maafkan mama ya sayang. Mama sampai lupa dengan tanggal lahir kamu," kata Indaj dengan rasa bersalah.


"Ga apa-apa kok Mam," jawab Amora pelan.


Bagi Amora sudah terlalu biasa kalau setiap bertambah usia, tidak pernah ada yang mengingatnya kecuali oleh pelayan di rumahnya dulu serta teman-temannya yang mengharap traktiran darinya.


"Mora. Selamat ulang tahun ya. Semoga selalu diberi kesehatan dan semoga bisa menggapai cita-cita mu," kata Laras.


"Terima kasih juga La. Sukses buat kamu dan Mama juga."


Mereka masih asik dengan berbicangan mereka ketika ponsel Indah berbunyi sehinga Inah memberi isyarat agar Laras yang menjawabnya.


"Halo Pap. Mama sedang mengemudi," kata Laras.


"Kalian masih dalam perjalanan?" tanya Dirga.


"Iya, Mama kan mau ngajak kami ke mall," jawab Laras sambil melirik Indah dengan senyum manisnya.


"Kalau begitu katakan pada Mama, Papa menunggu mama di kantor!"


"Kok ke kantor sih Pap? Kita kan mau ke mall. Lagian semalam dan tadi pagi juga kita udah menolak ke kantor hari ini," kata Laras keberatan.


"Laras, sampaikan pesan papa ke mama! Sekarang papa akan meneruskan meeting. Jangan lupa!" perintah Dirga.


"Kata papa, Mama harus menemui papa di kantor," beritahu Laras dengan wajah kesal.


"Ya sudah, mama akan cari putaran dulu ya," sahut Indah mengabaikan wajah cemberut Laras.


"Heh, muka kok di lipat seperti itu? Mau jadi nenek-nenek sebelum waktunya?" tegur Indah ketika melihat wajah putrinya yang tetap cemberut sementara Amora hanya tersenyum.


"Hey, ga malu apa sama Amora? Dia aja masih tersenyum loh," goda Indah hingga Amora  tertawa mendengarnya.


"Habis papa kan udah tahu kalau aku ga mau ke kantor hari ini Mam. Lagipula besok Amoa suah harus kembali ke sekolahnya," jawab Laras.


"Benar juga sih. Ya sudah nanti kita ajak papa saja ke mall setelah kita sudah selesai di kantor, oke," janji Indah pada kedua gadis remaja yang berada di dalam mobil.


"Ya mam," jawab Laras pasrah.


Indah membawa mobilnya ke kantor Dirga, kantor yang dulu dirinya pernah bekerja di sana sebagai sekretarisnya Dirga sebelum dia menikah.

__ADS_1


"Sudah sangat lama aku tidak pernah ke sini lagi." kata Indah saat dia keluar dari dalam mobil diikuti oleh anak-anaknya.


"Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang sekurity pada Indah.


"Hemm kami mau bertemu dengan Pak Dirga," jawab Indah tersenyum pada petugas yang masih muda dan tidak mengenali dirinya.


"Sebentar ya Bu," katanya yang kemudian berjalan ke meja resepsionis untuk bertanya apakah pimpinannya titip pesan atau tidak.


"Mam, kenapa tidak katakan langsung saja kalau kita keluarga?" tanya Laras tidak sabar.


"Hush, ikuti aturan!" tegur Indah pelan.


"Mam, kalau mama aku yang di perlakukan seperti ini, mama pasti langsung marah-marah," kata Amora tertawa.


"Maaf Bu, silahkan menuju lantai 3, Pak Dirga sudah menunggu," beritahu sekurity pada Indah.


"Terima kasih Pak," jawab Indah dengan ramah.


"Kenapa papa meminta kami ke sana? Bukankah di lantai 3 adalah ruang meeting? Apakah papa belum selesai meeting?" tanya Indah dalam hati.


Mereka keluar dari dalam lift dan melihat sekretari Dirga yang baru keluar dari ruangan tersebut.


"Eh Bu Indah, silahkan masuk Bu, Bapak sudah menunggu di dalam," katanya tersenyum ramah pada isteri pimpinannya.


"Terima kasih Widya."


Widaya berbalik untuk membuka pintu untuk mereka sehingga Indah, Amora dan Laras yang menggandeng Danish melangkah masuk ke ruang meeting yang telihat begitu sepi.


"Papa kemana Bu Widya?" tanya Laras heran.


Belum lagi Widya menjawab, terdengan suara nyanyian dan letupan balon dan terompet yang beraal dari pintu yang berbeda di ikuti suara nyanyian selamat ulang tahun.


Amora memandang Indah bertanya yang hanya di jawab dengan kedikan bahu karena dia juga tidak mengetahui rencananya Dirga.


"Aku tidak mengira kalau papa sudah merencanakan kejutan seperti ini," kata Amora penuh rasa haru dan kebahagiaan yang sangat besar.


"Selamat ulang tahun sayangnya papa. Semoga anak papa selalu di berikan kesehatan, kasih sayang, kebahagiaan dan juga diberikan umur panjang sehingga bisa mencapai kesuksesan," kata Dirga yang berjalan menghampiri Amora dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih papa. Aku sungguh tidak menduga kalau papa ingat dengan ulang tahun ku," kata Amora balas memeluk Dirga dan tanpa dapat di tahan, Amora menangis.

__ADS_1


"Heh, kenapa menangis? Ga suka?" tanya Dirga sambil menghapus air mata putrinya.


"Papa tahu dengan pasti mengapa aku menangis. Karena ini adalah pesta ulang tahun pertama ku saat aku sudah cukup mengerti apa arti ulang tahun," bisik Amora malu dan merebahkan wajahnya di dada Dirga yang tertawa menyambutnya sambil mengerling pada Laras yang tersenyum menatapnya.


__ADS_2