
Menjelang senja pintu kamar Amora diketuk dari luar, dengan langkah lebar Dirga melihat siapa yang datang dan segera membukanya ketika dilihatnya Indah yang datang.
"Maaf aku baru datang sekarang. Bagaimana keadaan Amora, apakah Zenia sudah menghubungi kalian ?," tanya Indah begitu pintu dibuka.
" Sebaiknya kamu masuk dulu jangan langsung bertanya sementara dirimu masih berada diluar!," tegur Dirga geli.
" Maafkan aku..Dimana Amora ?," tanyanya lagi sambil masuk kedalam sementara Dirga menutup pintu.
"Aku disini Tante, aku minta maaf tidak seharusnya Papa membuat repot Tante." kata Amora mencoba bersikap ramah.
" Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Mengapa memilih menginap di hotel sementara dirumah Tante masih ada kamar kosong untuk mu!," tegur Indah langsung.
" Aku tidak ingin Tante dan Mama berselisih nantinya bila aku tinggal bersama Tante."
" Apakah Mama mu sudah memberi kabar kapan dirinya kembali ?," tanya Indah sambil duduk ditempat tidur tidak jauh dari Amora.
" Belum Tante, mungkin besok baru tiba di Jakarta."
" Lalu malam ini kamu di hotel bersama siapa ?, bagaimana kalau Mas menginap menemani Amora?," tanya Indah membuat Dirga menatapnya tajam sementara Amora tertawa.
" Aku bersama Bik Sumi kok Tante, jadi Papa bisa pulang dan tidur dirumah," jawab Amora.
" Lalu besok sekolah bagaimana?."
" Aku sudah meminta Didi untuk mengantar Amora ke sekolah. Apalagi yang ingin kamu ketahui ?," tanya Dirga gemas.
" Bagaimana kedepannya apakah Amora akan tinggal di hotel terus, menurutku tidak terlalu baik bila ia terus tinggal di hotel, bagaimana bila Zenia tidak setuju dan melaporkan Mas ke polisi dengan tuduhan penculikan karena sudah membawa Amora tanpa setahunya. Bagaimanapun Amora masih dibawah umur."
" Astaga Indah, bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu ?, aku yakin Zenia tidak akan melakukan tindakan seperti yang kamu katakan tadi. Jangan membuat Amora cemas," tegur Dirga sementara Amora lagi-lagi hanya tertawa.
"Aku tidak mengira Tante Indah bisa bersikap posesif seperti itu, padahal aku bukan siapa-siapa bagi dirinya," kata Amora dalam hati.
" Mas aku hanya berjaga-jaga."
" Tante Indah benar Pah, Mama kadang bertindak nekat, apalagi saat ia kehilangan sesuatu yang menjadi sumber keuangan nya."
__ADS_1
" Kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah berjaga-jaga bila Zenia sampai melapor ke polisi," jawab Dirga tenang.
" Syukurlah kalau Mas sudah melakukan antisipasi untuk masalah ini."
" Mengapa Laras tidak ikut kesini Tante?," tanya Amora.
" Laras tadi masih bersama temannya, dan waktu Tante tiba disini ia memberi kabar bahwa mereka akan pergi ketempat Om nya," jawab Indah yang hanya tersenyum ketika melihat Dirga menegur dirinya melalui tatapan matanya.
Sementara itu dirumah, Laras dan Bram sedang berdebat saling menyalahkan karena tidak menelepon Abi lebih dulu sebelum mereka ke sana.
" Iya aku yang salah karena ga telepon Om Abi dulu, lagian kamu juga yang ga sabaran, maunya main cepat aja," jawab Laras kesal.
" Yee, tapi kan sebelum kita berangkat kamu bisa telepon dulu, ga sampe 2 menit kok buat telepon," balas Bram tidak mau mengalah.
" Iya aku yang salah, terus mau kamu apa ?," tanya Laras kesal.
" Serius kamu mau tahu apa yang aku mau?, bagaimana kalau kamu menyiapkan aku makan malam, lapar nih belum makan sejak pulang kuliah."
" Yee, siapa suruh ga makan.umur tua, status mahasiswa tapi ngurus diri sendiri ga bisa," ucap Laras pelan.
" Iya iya aku tahu bawel, kamu aja yang ga sabaran." jawab Laras kesal.
" Ini makanannya sudah siap," kata Laras pada Bram yang sedang asik menonton tv.
" Yang, bawa kemari dong piringnya, sayang nih kalau ketinggalan." kata Bram membuat Laras bertambah kesal.
" Iin, ga boleh makan disitu. Kecuali dirumah ga ada meja makan." omel Indah.
" Ya sudah tunggu dulu, nanti aku ke sana."
"Bram..!, tadi minta disiapin sekarang malah di biarin. Kesini ga kalau engga aku yang makan," ancam Laras kesal.
"Ya udah makan aja dulu kalau kamu lapar, nanti siapin lagi buat aku!," jawab Bram tanpa melihat Laras.
"Serius ga mau nih, soalnya ga ada stock makanan lagi, Mama kan belum belanja dan tadi Mama masak hanya cukup untuk kami," ancam Laras sambil melirik Bram yang menghampiri dirinya dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Iya aku makan sekarang. Eh Mama mau jemput Papa dimana ?," tanya Bram.
"Mama Papa siapa ?."
"Ya Mama Indah sama Papa Dirga lah, masa Mama Papa yang jauh."
" Ya itu kan Mama Papa ku?."
"Ih nih bocah, mereka juga kan Mama Papa ku juga. Kita kan sudah bertunangan," goda Bram genit membuat Laras meringis geli.
" Kamu tadi minum dimana sih?, kok sekarang baru mabuk nya," kata Laras sambil duduk disampingnya.
"Sembarangan. Aku itu anti minum alkohol tahu?."
"Masa ?, kok aku ga percaya ?."
" Terserah. Eh piringnya mau langsung dicuci ga ?." tanya Bram saat piringnya sudah kosong.
"Kamu beneran lapar ya, sampe cepat bener selesainya."
"Kan aku tadi udah bilang kalau aku kelaparan. Eh kamu belum jawab Mama kemana?."
" Mama jemput Papa di hotel tempat Amora menginap."
"Hah, Amora nginep di hotel?, emang rumah besarnya kemana?," tanya Bram heran.
" Ga tau. Kamu mau tetap disini atau mau pulang, aku mau belajar nih, mau ngerjain PR."
" Mau dibantu ga ?, ngerjain pr nya."
"Kalau kamu yang ngerjain aku terima dengan senang hati deh."
"Bocah ngelunjak. Emang susah ya PR nya?."
" Biasa aja, cuma lagi males mikir. Aku bawa bukunya kesini ya, nanti kamu yang ngerjain," kata Laras langsung lari ke kamarnya untuk mengambil buku pr nya membuat Bram geleng kepala.
__ADS_1
"Aku salah ngomong apa ya?," katanya heran.