
Indah tengah menyiapkan makan malam dibantu oleh Laras sementara Bram dan Dirga sedang melakukan Videocall dengan keluarga Bram di Singapura.
" Mam, ngomongin apaan sih ?," bisik Laras pada Indah.
" Nanti kamu tanyakan saja pada Papa mu," jawab Indah ikut berbisik.
" Tanya sama dia ?, ga ah, Mama saja yang bertanya," katanya mengelak.
" Laras, cukup bahasa 'dia' nya," tegur Indah pada putrinya.
" Ya Mam," katanya mengalah.
Ketika semuanya sudah siap, Indah menghampiri Dirga sementara Laras mengikuti dari belakang.
" Rizal, kamu ingat dengan Indah bukan ?, dan yang berada dibelakangnya adalah Laras," kata Dirga mengarahkan handphonenya pada Indah dan Laras yang saat itu tengah melotot ke arah Bram.
Dengan tersenyum malu ia minta maaf pada teman Dirga yang juga Ayahnya Bram.
" Maaf Om, bukan maksud Laras tidak sopan, itu karena...,"
" Om mengerti, Bram memang kadang suka jahil." jawab Rizal tertawa.
" Baiklah Dirga, bagaimana kalau pertunangan antara Bram dan Laras di lakukan di tempat ku saja, aku khawatir kalau di Jakarta akan menimbulkan keramaian yang tidak perlu, bagaimanapun Laras masih SMP," ujar Rizal pada Dirga tapi membuat Laras maupun Indah terkejut dan mereka memandang tajam Dirga.
" Baiklah, untuk waktunya aku serahkan padamu selaku tuan rumah," jawab Dirga.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Indah bertanya pada Dirga tentang keputusannya.
" Mas aku perlu bicara denganmu," kata Indah dan ia masuk ke kamarnya diikuti oleh Dirga.
" Mengapa Mas memutuskan hal tersebut ?," tanya Indah tajam.
" Bram menyatakan bertanggung jawab. Apa kamu tidak bisa membayangkan apa yang sudah dilihat oleh-nya?," tanya Dirga kesal.
" Tapi usia Laras baru 12 tahun itupun masih 2 bulan lagi. Bagaimana mungkin mereka bertunangan."
" Mereka bertunangan, bukan menikah. Usia Bram dan Laras hanya berbeda 8 tahun tidak terlalu jauh," jawab Dirga.
" Tapi Mas, Laras masih terlalu muda."
" Dengar Indah, mereka hanya bertunangan. Bila nanti mereka mempunyai jodoh mereka akan menikah, tapi bila tidak akan kita putuskan." jawab Dirga memberi penjelasan.
__ADS_1
" Aku tidak percaya kamu akan melepaskan peluang emas seperti itu," kata Indah pelan sambil keluar kamar membuat Dirga tertawa keras.
Dimeja makan sudah duduk Laras dan Bram yang duduk bersebelahan saling diam tapi sikap tubuh mereka tampak sekali kalau mereka berdua tidak menyukai.
" Laras, berikan piring mu !," perintah Indah membuat Bram tertawa hingga Laras melotot jengkel.
" Mam, aku bisa ambil sendiri," katanya merajuk.
Setelah piring yang lain terisi Laras segera menyendok nasi ke piringnya, terlihat sekali ia tidak berselera.
" Laras, makan yang benar !," tegur Indah membuat Laras cemberut.
" Mam, aku sudah kenyang..."
" Kenyang, makan apa ?," tanya Indah.
" Dikamar aku tadi ngemil," jawab Laras lagi berharap Indah tidak menambahkan nasi kepiringnya.
" Siapa yang menyuruhmu ngemil sebelum makan !," katanya dan Indah menambah nasi kedalam piringnya.
" Mam..., ini kebanyakan," katanya merengek.
" Jangan drama Laras !."
" Terima kasih Pap, Papa baik deh ," katanya sambil mengedipkan matanya membuat Dirga tersenyum.
" Selama ini aku tidak pernah melihat Laras tersenyum seperti itu padaku, aku sangat bahagia walaupun aku tahu selama ini dia menganggap ku sebagai apa." kata Dirga dalam hati.
Mereka bertiga sudah menyelesaikan makan malam dan hanya Laras yang belum juga selesai karena gadis itu hanya mengaduk-aduk isi piringnya membuat Dirga menatapnya tajam.
Melihat sikap putrinya, Indah segera bangun dari kursinya.
" Bram kamu pindah ke samping Om ya !," pinta Indah pada Bram.
" Ya Tante." katanya dan ia segera pindah sementara Indah langsung mengambil piring Laras membuat Dirga dan Bram menatapnya heran.
" Laras, buka mulutmu !," perintah Indah tegas membuat Bram tidak dapat menahan tawanya sementara Dirga hanya tersenyum geli.
" Cewek galak dan bawel makan masih disuapin, ga sesuai tahu," ledek Bram tertawa membuat Laras melemparnya dengan sendok.
" Sudah diam. Cepat telan makanan di mulutmu kalau tidak Mama tambahkan lagi," ancam Indah membuat Laras menatapnya.
__ADS_1
Isi piring Laras cepat habis begitu disuapin oleh Indah dan ia segera mengambilkan air minum untuk putrinya.
" Nanti Mama akan periksa kamarmu. Mama tidak mau kamu terlalu banyak ngemil,"kata Indah dari ruang keluarga setelah mereka semua sudah selesai makan sementara Laras mencuci piring dibantu oleh Bram.
" Ya Mam," jawabnya pelan tanpa perduli Bram yang sering meliriknya.
Dirga melihat Laras dan Bram yang saling melempar tatapan jengkel membuatnya tersenyum geli.
" Apakah Laras setiap makan harus disuapin ?," tanya Dirga.
" Tidak selalu, tapi ya seperti yang Mas lihat tadi, sangat lama bisa-bisa seharian hanya untuk menunggu nya menghabiskan isi piringnya," jawab Indah.
" Bagaimana kalau kamu bekerja ?, apakah dia tidak makan ?."
" Aku selalu pulang saat jam makan siang, jadi aku bisa melihat Laras makan atau tidak."
" Apakah Laras selalu pulang tepat waktu ?," tanya Dirga teringat dengan Amora yang pulang terlambat hingga membuatnya menunggu begitu lama.
" Kalau pulang terlambat dia akan bilang, tapi paling hanya seminggu atau 2 Minggu sekali kalau ia ingin main ke tempat Abi," jawab Indah.
" Abi..., bagaimana kabar Abi dan juga Ayah Ibu ?," tanya Dirga teringat mertuanya yang terlihat tidak menyukainya.
" Kabarnya Abi baik, dan Laras ikut latihan karate bersamanya. Sementara Ayah dan Ibu, mereka tinggal di Jogja mengelola penginapan," jawab Indah.
" Kamu tidak bertanya padaku ?," tanya Dirga.
" Jujur, aku tidak akan bertanya apapun padamu, jadi kalau Mas ingin mengatakan sesuatu katakan lah !."
Dirga menatap Indah dan ia baru menyadari bahwa sejak ia melarang Indah bertanya saat Ia baru berkunjung seminggu setelah Laras lahir, sejak itu pula Indah tidak pernah bertanya tentang apa yang dilakukan atau keberadaan nya bila tidak bersamanya.
" Maafkan aku. Selama ini aku tinggal di Singapura menjalin kerjasama dengan Rizal dan hanya sesekali pulang ke Jakarta untuk bertemu dengan mu maupun Zenia."
" Oh."
" Indah, saat ini perusahaan ku di Jakarta sudah berkembang pesat dan aku sudah memutuskan untuk kembali tinggal di Jakarta. Kalau kamu izinkan aku akan menetap bersamamu dan juga Laras." kata Dirga membuat Indah menatapnya tidak percaya.
" Mas...?."
" Apakah kamu tidak menyadari kalau aku cukup lama berada disini ?. Dan aku merasakan gairah dan juga semangat melihat mu dan Laras yang begitu apa adanya."
" Mas, kami tentu saja sangat bahagia kalau Mas Dirga bersedia tinggal bersama kami. Tapi kami tidak ingin kecewa bila Mas Dirga pergi lagi," jawab Indah setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
" Aku berjanji tidak akan melakukan perbuatan seperti dulu lagi, karena aku sudah mempunyai Kalian," kata Dirga memberikan keyakinan pada Indah.