Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 41.


__ADS_3

Hari ini Indah memutuskan untuk tidak kekantor karena Dirga terlihat masih lemas, dan ia lebih memilih untuk bekerja dirumah.


Dirga memperhatikan Indah yang sangat konsentrasi saat mengerjakan sesuatu membuatnya teringat pada saat Indah masih menjadi sekretarisnya.


"Apa yang kau lihat Mas, dan mengapa senyum sendiri?," tanya Indah tersenyum kearah Dirga yang memperhatikan dirinya bekerja.


"Aku memperhatikan dirimu dan teringat saat kamu masih menjadi sekretaris ku. Wanita yang tidak mudah diganggu, tapi begitu di ganggu kau sangat menguras energi," jawab Dirga tertawa.


"Seperti wanita yang kehausan itu bukan maksud Mas Dirga?."


Dirga hanya tertawa karena memang benar kenyataan nya sehingga ia memutuskan untuk menikahinya agar mereka bisa bebas menyalurkan energi mereka.


"Apakah rekan kerjamu akan menggantikan dirimu untuk presentasi?."


"Presentasi nya besok, dan aku berharap Mas sudah lebih baik. Sebenarnya setiap kali melakukan presentasi di perusahaan Mas, aku tidak pernah hadir dan Desi lah yang selama ini melakukan nya. Aku tidak ingin pegawai di sana mengetahui siapa pemilik jasa konsultan design interior dan kontruksi yang menangani sebagian proyek di perusahaan mas Dirga."


"Aku mengerti dan kagum padamu."


"Apakah Mas sudah mendapat kabar dari Amora, apakah ia sudah berangkat sekolah?."


"Sudah, ia tadi menelepon ku dan mengatakan bahwa ia sedang bersama Didi menuju sekolah."


"Syukurlah. Apakah Mas sudah mandi?, aku akan keluar sebentar untuk meminta Mba Sri belanja di warung depan."


"Ke warung?, mau beli apa?, bukankah lebih baik belanja ke swalayan?."


"Aku lupa kalau stock garam dirumah habis. Bahan makanan yang kecil tapi sangat berarti," jawab Indah tertawa.


Indah berjalan ke halaman belakang rumah dan melihat Mba Sri sedang menjemur pakaian.


"Mba, kalau sudah selesai aku minta tolong ya?."

__ADS_1


"Ya Bu."


Sambil menunggu Sri selesai menjemur, Indah menuju dapur untuk membuat minuman segar.


"Tumben ibu pagi-pagi sudah buat minuman segar?," tanya Sri saat melihat Indah menuang syrup marqisa.


"Sebenarnya tadi tidak ingin membuatnya, tapi begitu melihat di kulkas ada botol yang sudah terbuka, rasanya kok segar sekali," jawab Indah tertawa.


"Mba Sri, tolong ke warung ya beli garam, aku lupa membelinya kemarin."


"Iya Bu. Apakah ada yang lainnya lagi?."


"Jam berapa biasanya tukang sayur lewat?."


"Tukang sayur tadi sudah lewat Bu, saya kira ibu tidak mau belanja, soalnya saya lihat di kulkas masih banyak."


"Aku memang tidak ingin membeli sayuran, hanya mencari buah-buahan yang segar."


"Ibu mau buah?, kalau begitu nanti saya petikkan dari pohon, tadi saya lihat mangga sudah tua dan bisa dipetik Bu."


"Iya Bu. Saya ke warung dulu Bu," kata Sri pada Indah.


Indah kembali masuk ke kamarnya dengan membawa gelas besar berisi minuman segar rasa markisa.


"Astaga Indah, pagi-pagi kamu sudah minum itu?, bagaimana kalau kamu sakit juga?, kasihan Laras kalau kamu sampai sakit."


"Aku tidak apa-apa Mas. Mas sendiri bagaimana?, lebih segarkan kalau sudah mandi?."


"Heeh, walaupun sebenarnya aku lebih suka kalau kita mandi bersama," jawab Dirga sambil menarik tubuh Indah kedalam pelukannya.


"Rasanya selalu pas kalau kamu berada dalam pelukan ku," bisik Dirga sambil mendaratkan ciuman dibibir Indah dan berlama-lama saat Indah membalasnya.

__ADS_1


Dirga adalah lelaki matang yang selalu memiliki gairah tinggi dan mampu membuat wanita lupa diri.


"Sebenarnya aku ingin sekali membawamu kembali berbaring dan bercinta, tapi aku tahu dirumah masih ada Sri dan aku tidak mau permainan ku terganggu saat dia memanggilmu," bisik Dirga ditelinga Indah.


Indah tidak bisa mengeluarkan suara dan hanya menyandarkan wajahnya pada dada Dirga yang terbuka, karena suaminya memang belum memakai kaos dan hanya mengenakan celana pendek.


"Kau benar, karena kami memang berencana untuk memetik mangga dibelakang. Apakah kamu mau membantu?," tanya Indah tersenyum.


"Mengapa tidak, sepertinya tawaran itu sangat menarik. Lagipula kalau aku selalu berada dikamar denganmu yang ada aku selalu ingin berada didalam dirimu."kata Dirga menggoda Indah yang tersenyum dengan pipi merona.


Disekolah, Laras baru saja berjalan keluar menuju kantin ketika Amora berjalan kearahnya dan langsung menarik tangannya membuat teman-temannya menatap heran kearah mereka.


"Hey, apa yang kamu lakukan?, mau dibawa kemana aku?," tanya Laras pada Amora yang hanya diam dan menarik tangannya kearah laboratorium fisika.


"Aku minta maaf atas semua perbuatan ku selama ini padamu. Apakah kamu mau memaafkan ku?," tanya Amora berhadapan dengan Laras.


"Aku tidak mengerti. Baiklah aku menerima permintaan maafmu."


"Kau tidak memakai gelang pemberian dari Papa?, bukankah Papa juga membelikannya?."


"Ya, tapi aku takut kamu akan marah kalau aku memakainya."


"Sekarang aku tidak mungkin marah padamu karena kamu adalah adikku," ucap Amora memeluk erat tubuh Laras dan Laras tanpa ragu membalas pelukannya.


"Kamu mau kemana?, mau ke kantin?, bagaimana kalau kita bersama-sama?," kata Amora sambil membuka pintu lab fisika membuat mereka yang menunggu didepan pintu menatapnya heran.


"Bagaimana Papa, apa kamu tadi diantar Papa ke sekolah?."


"Engga, Papa sepertinya kurang sehat dan masuk angin. Kata Mama sejak subuh Papa muntah-muntah," jawab Laras.


Mendengar jawaban Laras, Amora tertawa dengan keras membuat Laras menatap nya heran.

__ADS_1


"Jangan-jangan kita mau mempunyai adik baru," jawab Amora melihat wajah Laras yang bingung.


"Hah?, aku mau mempunyai adik?. Astaga!," dan mereka berdua tertawa membayangkan sebagai murid SMP mempunyai adik bayi yang sepertinya akan sangat lucu.


__ADS_2