
Dirga meninggalkan ruangan sekuriti dan kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan tidak menentu. Dia sungguh tidak mengira kalau Dicky yang menjadi selingkuhan Zenia adalah seorang wanita.
"Selamat siang Pak. Di dalam sudah ada Bu Indah," kata sekretarisnya ketika melihat Dirga datang.
"Terima kasih."
Dirga memasuki ruang kerjanya dan dia langsung menuju kamar mandi karena ia merasa kotor setelah mendaratkan pukulan di wajah Dicky.
"Ada apa? Papa dari mana?" tanya Indah setelah Dirga sudah keluar dari kamar mandi.
"Menemui Dicky. Dia minta bertemu dengan Papa," jawab Dirga dan ia memilih duduk di sofa.
"Dicky minta bertemu dengan Papa? Untuk apa?" tanya Indah menghampiri Dirga dengan membawa gelas berisi minuman.
"Lalu papa diam saja?" tanya Indah tidak mengerti dengan reaksi Dirga yang terlihat tenang. Indah berpikir kalau dia yang menghadapi Dicky, sudah pasti dia akan meradang dan mengamuk.
"Diam sementara keluarga ku sedang di ancam. Berarti mama belum mengenal papa. Papa merekam semua yang dikatakannya dan papa telah meminta sebelumnnya kepada sekuriti kalau Dicky mulai mengeluarkan ancaman, mereka harus memanggil pihak keamanan," jawab Dicky.
"Hanya begitu saja? Papa tidak memukul Dicky?" tanya Indah semakin gemas pada Dirga, terutama ketika ia melihat suaminya tersenyum kecut.
__ADS_1
"Hanya tiga kali pukulan yang membuat papa tahu siapa Dicky," jawab Dirga dan kini ia mulai tertawa hingga Indah yang melihannya melotot kesal.
"Mama tahu tidak, dari pukuluan yang papa berikan di wajah Dicky, ternyata dia adalah seorang wanita. DIcky terlihat sangat shock ketika papa memukul wajahnya," beritahu Dirga dan kini ia sudah tertawa keras sementara Indah memandangnya tidak percaya.
"Benarkah? Mengapa mama tidak percaya. Papa yakin kalau Dicky adalah wanita? Apa dia tidak berpura-pura saja agar dia mendapat ... mungkin keringanan?" tanya Indah.
"Entahlah. Tapi polisi sedang menyelidiki identitasnya. Tidak perlu membicarakan tentang Dicky. Mama tadi sudah bertemu dengan Ardi. Dan bagaimana hasilnya?"
"Ya, mama tetap mendukung keputusan Desi. Pekerjaan kali ini terlalu jauh dan mama tidak mau menjadi tidak maksimal. Karena Desi kan sekaang sedang hamil. Mama tidak yakin Abi akan mengijinkan Desi pergi keluar kota," jawab Indah. "Lalu apa boleh mama tahu ada apa papa minta mama untuk mampir keruangan Papa?"
"Mau membicarakan masalah Bram dan Laras. Tadi pagi, Rizal menelepon papa dan keluarga Wiguna menginginkan agar pernikahan anak kita di percepat," jawab Dirga.
"Mereka tidak perlu tinggal bareng. Hanya status mereka saja yang berubah."
"Apa Rizal mengatakan apa alasan keluarga mereka mempercepat pernikahan Bram dan Laras?"
"Bram akan segera menduduki posisi yang sudah dipersiapkan oleh Pak Rashyid dan Rizal. Dan untuk mendapatkan kedudukan tersebut, Bram sudah harus memiliki seorang isteri."
"Mengapa? Bukankah memang akhirnya mereka juga akan menikah sementara Bram juga pasti akan mendapatkan posisinya tersebut."
__ADS_1
"Memang. Pak Rashyid menganggap kalau Bram sudah menikah, maka dia akan lebih berpikir lebih bijak dan tidak berpikir berdasarkan emosi semata," jawab Dirga.
"Papa yakin itu yang mereka inginkan? Tidak ada alasan lainnya?" tanya Indah belum merasa yakin.
"Papa yakin. Papa sudah lama mengenal keluarga Rizal dan papa yakin tidak ada yang mereka sembunyikan. Terutama yang berhubungan dengan masa depan anak-anak kita," jawab Dirga.
"Lalu kapan mereka akan melakukan lamaran. Nanti masih akan ada acara lamaran bukan? Maksud mama walaupun mereka sudah bertunangan."
"Tentu saja. Nanti mama katakan saja pada Laras mengenai keputusan keluarga Bram. Kalau Laras keberatan, dia bisa menyampaikan keberatannya pada saat dia berkunjung akhir pekan. Menurut Rizal, Bram baru akan diberitahukan masalah ini nanti malam. Jadi papa yakin dia pasti akan membicarakannya dengan Laras. Dan papa yakin usia Bram yang lebih dewasa dapat memberi pengertian pada Laras," kata Dirga.
"Baiklah nanti mama akan sampaikan pada Laras. Dan semoga Bram dapat bertindak bijaksana. Apa papa sudah makan siang?"
"Belum. Kita pesan makan siang di sini saja ya. Hari ini papa ada janji dengan klien dan waktunya sangat sempit bila harus makan siang di luar."
"Kenapa kita tidak ke restoran yang ada di atas saja?" kata Indah memberi saran.
"Maksud mama restoran yang ada di gedung perkantoran ini juga?"
"Benar. Jangan katakan kalau papa tidak tahu," kata Indah dengan pandangan menyelidik dan dia hanya tertawa ketika Dirga hanya tertawa kecil dengan pertanyaan yang diucapkan oleh Indah.
__ADS_1