
Laras sedang mengajak main Danish di teras depan saat Dirga tiba dirumah. Dengan senyum bahagia dia memperhatikan anak-anaknya yang begitu ceria.
"Assalamualaikum," sapa Dirga mengucapkan salam.
"Waalaikum salam," jawab Laras dan ia mencium tangan Dirga diikuti oleh Danish yang menjulurkan tangannya mengikuti Laras membuat Papanya tertawa.
"Anak Papa sudah pintar ya, kenapa tidak main didalam?," tanya Dirga pada Laras.
"Aku sedang nunggu Mba Sri Pap," jawab Laras.
"Memangnya Mba Sri kemana?."
"Ke minimarket didepan."
"Ya sudah tunggunya didalam saja, anginnya kencang sayang, sepertinya akan turun hujan," kata Dirga meminta Laras agar masuk kedalam rumah.
"Iya Pah," kata Laras dan ia segera mengangkat Danish kedalam gendongan nya tetapi adiknya tidak mau digendong dan minta diturunkan sehingga Laras memegang kedua tangan kecil adiknya yang mulai berjalan.
"Mama sedang apa?," tanya Dirga sambil berjalan masuk.
"Tadi sih di dapur, sedang masak," jawab Laras.
"Permisi Tuan, Tas nya saya letakkan dimana?,"tanya Didi yang sudah selesai memasukan mobil ke garasi.
"Letakkan saja di kursi. Didi besok kamu datang lebih pagi sampai 3 hari ke depan. Kamu antar Laras ke sekolah dulu baru kita kekantor!," kata Dirga pada Didi yang menjadi sopirnya.
"Baik Tuan. Apakah ada pesan lainnya?."
"Tidak ada. Yang penting kamu besok datang pagi-pagi jangan sampai Laras terlambat sampai sekolah!."
__ADS_1
"Baik Tuan, kalau tidak ada yang lainnya saya permisi dulu," katanya berpamitan.
"Ya. Oh ya Didi paket untuk keluargamu sudah kamu keluarkan dari mobil?," tanya Dirga saat ia ingat sesuatu.
"Sudah Tuan."
"Ya sudah, hati-hati bawa motornya," pesan Dirga.
Didi segera mengeluarkan motornya dengan wajah bahagia. Sejak Dirga tinggal bersama Indah, semua karyawan kantor merasa gembira, karena pimpinan mereka begitu peduli pada karyawan nya, tidak ada lagi sikap arogan dan juga tidak peduli akan kesejahteraan karyawannya. Dirga yang sekarang sangat perhatian dan ia selalu memberi bonus pada karyawan yang rajin dan penuh semangat dalam memberikan pelayanan kepada tamu hotel sehingga banyak tamu yang memilih hotel mereka untuk menginap.
Indah sedang sibuk memasak dan ia tidak tahu kalau Dirga sudah pulang.
"Laras, Mama mandi dulu ya, mungkin sebentar lagi Papa sampai dirumah," kata Indah setelah ia meletakan hasil masakannya dimeja makan.
"Memangnya kenapa kalau Papa sudah sampe rumah Mama belum mandi?," tanya Dirga pelan membuat Indah terkejut.
"Bau lah Pah. Masa suami pulang kerja isterinya masih bau bawang," jawab Indah tersenyum malu.
"Ya, dijaga adiknya ya sayang!," pesan Indah pada Laras yang sudah naik ke kamarnya.
"Kenapa Papa tadi tidak memberi kabar kalau sudah dijalan," tegur Indah pada Dirga.
"Hemm, Papa ingin lihat apa yang dilakukan oleh Nyonya Dirga dirumah bila suaminya tidak memberinya kabar," jawab Dirga tersenyum senang.
"Dan Papa akhirnya melihat kalau nyonya rumahnya masih bau keringat," kata Indah tertawa.
"Papa menyukai Mama yang memberi perhatian pada keluarganya. Lagipula siapa yang bilang kalau Mama bau bawang atau keringat. Papa tidak menciumnya," ujar Dirga memeluk erat pinggang Indah hingga isterinya merasa geli.
"Lah, malu kalau Laras melihat tingkah orang tuanya seperti ini!," tegur Indah dan ia berjalan keruang tamu untuk mengambil tas kerja Dirga yang diletakkan Didi di kursi tamu.
__ADS_1
Dirga sudah berada dikamar dan ia sudah melepas jas nya saat Indah masuk ke kamar.
Setelah menyimpan tas kerja Dirga, Indah membantunya melepaskan dasi dan juga kemeja suaminya, setelah itu ia mengambilkan kaos untuknya.
"Papa, istirahat dan tubuhnya didinginkan dulu, Mama akan mandi sebentar," ucap Indah memberikan kaos pada Dirga yang sekarang hanya memakai pakaian dalam saja.
"Bagaimana kalau kita mandi bareng saja, lebih menghemat waktu," usul Dirga dengan nada merayu membuat Indah tersenyum dan ia menyetujui tawaran dari Dirga.
Bercinta setelah pulang kerja membuat tubuh Dirga menjadi lebih segar dan bersemangat dan bersama Indah, Dirga tidak pernah lelah untuk memuaskan kebutuhannya.
Mereka baru keluar kamar dan keduanya terlihat begitu mesra, sama sekali tidak terlihat kalau mereka sudah mempunyai anak SMA.
"Apakah Laras dan Danish masih di atas?," tanya Dirga pada Indah.
"Aku akan memanggil mereka," kata Indah.
"Tidak perlu. Ada yang ingin Papa bicarakan dengan Mama."
"Hem, ada apa?," tanya Indah sambil duduk didepan Dirga.
"Duduklah di samping Papa!," perintah Dirga yang membuat Indah pindah tempat.
"Ada apa?."
"Rizal tadi menghubungi Papa di kantor dan mengatakan kalau Bram sudah mendapat kepercayaan dari klien dan besok ia akan berangkat keluar negeri mewakilinya. Ia bertanya apakah akhir pekan Laras bisa menyusul untuk menemani Bram dan memberinya dukungan."
"Lalu apa yang Papa katakan?."
"Laras baru masuk sekolah, tidak mungkin kalau ia sudah bolos dihari pertamanya menjadi siswa SMA. Menurut Mama sendiri bagaimana?."
__ADS_1
"Bram keluar negerinya kemana dulu?, kalau ke Amerika memang tidak bisa dilakukan oleh Laras, tapi kalau hanya sekitar Korea atau Jepang, Mama rasa tidak masalah. Bukankah akhir pekan Laras libur. Lagipula hari Seninnya hari libur bukan. Yang jadi masalah apakah mereka bisa menahan diri dan tidak khilaf?, itu yang harus kita pikirkan." jawab Indah tertawa.