Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
eEpisode 74


__ADS_3

Amora merasakan kepedihan yang teramat dalam. Hidupnya yang selama ini penuh dengan tawa dan keceriaan terkadang kenakalan berubah menjadi penderita an yang disebabkan oleh ibu kandungnya sendiri.


"Aku sungguh tidak mengira kalau mama sampai tega berbuat seperti itu. Ternyata aku sama sekali tidak mempunyai arti dalam hidup Mama kecuali sebagai anak yang bisa dimanfaatkan agar bisa mengambil uang papa," Amora tidak tahu yang harus dilakukan. Yang dia punya sekarang hanya Dirga.


Sambil menangis Amora menghubungi Dirga dan hanya dalam hitungan detik, Dirga menjawab panggilan Amora.


"Papa...."


"Sayang, Papa sudah membeli tiket dan kamu tunggu ya sayang. Kamu tinggal di mana. Papa akan langsung menemui dirimu," kata Dirga cepat.


"Aku masih di depan Rumah Sakit Pap. Aku akan ke hotel sekarang,"


"Baiklah. Kamu tunggu di hotel. Kamu sabar ya sayang." pinta Dirga lembut hingga membuat tangis Amora pecah.


Setelah sambungan telepon terputus, Amora langsung memesan taxi kemudian menuju hotel tempat dia menginap selama ini.

__ADS_1


Dirga sudah dalam perjalanan menuju bandara, dan wajahnya begitu geram dan sangat gelap sehingga siapa pun tidak akan ada yang berani untuk berbicara dengannya, sementara Indah hanya memegang tangannya lembut mencoba membuatnya tenang.


Dirga baru saja keluar kamar, ketika Laras dengan cepat menuju ke arahnya dengan nafas memburu dan memberikan isi pesan dari Amora. Tidak perlu waktu lama bagi Dirga untuk memutuskan mana yang harus dia dahului antara istirahat atau menemui putrinya.


Setelah hampir 3 jam perjalanan, .Dirga dan Indah sudah berada di depan kamar penginapan tempat Amora menginap selama di Magelang. Kemudian mereka segera mengetuk pintu kamar dan tidak berapa lama kemudian Amora membuka pintu.


"Papa..." Amora langsung memeluk Dirga sambil menangis. Wajahnya sendiri sudah sembab.


"Papa ada di sini sayang, Tante Indah juga di sini. Kamu tidak sendirian ada papa dan Tante Indah. Di rumah juga Laras dan Danish" bisik Dirga.


"Ya Pap. Terima kasih Papa dan Tante sudah datang ke sini. Aku ga tau harus bagaimana... Mama sungguh keterlaluan. Dia tega menipu aku," kata Amora tertunduk dan mulai menangis lagi.


"Amora, bagaimana kalau Mora tinggal bersama kami? Kami semua tentu sangat senang kalau kita tinggal bersama." kata Indah mencoba membujuknya.


"Terima kasih Tante. Tapi tahun ini adalah tahun terakhir Amora sekolah high school. Mora sudah mendaftar untuk melanjutkan ke Universitas. Hanya karena masalah Mama yang membuat aku harus mondar-mandir. Aku pasti berkunjung kerumah Tante kalau liburan," katanya dengan senyum penuh rasa terimakasih.

__ADS_1


"Sekarang apa keputusan Mora? kapan mau kembali ke Sekolah?" tanya Dirga sambil menatap putrinya yang sudah mulai tenang.


"Aku kembali besok Pap. Tapi aku dari berangkat dari Jakarta. Karena ada teman yang harus aku kunjungi dulu," katanya masih tertunduk.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita kembali ke Jakarta sekarang?" tanya Dirga setelah menatap Indah yang menyetujui nya.


"Apakah Papa tidak lelah?" tanya Amora.


"Papa tidak ingin kamu berada di sini memikirkan Zenia yang tidak bertanggung jawab, kalau begitu kamu rapikan barang-barang mu sementara papa akan pesan tiket ke Jakarta!" kata Dirga.


Dengan di bantu Indah, Amora merapikan barang-barang nya.


"Mora sudah berapa lama tinggal disini?" tanya Indah.


"Sudah hampir seminggu Tante, waktu aku tahu mama mengalami depresi dan dirawat di sini aku langsung kesini."

__ADS_1


"Siapa yang memasukkan Mama kesini?" tanya Indah heran.


"Om Dicky. Dia bilang ke Mora kalau Mama sudah tidak waras dan dia tidak bisa terus-terusan diikuti oleh wanita yang selalu minta uang untuk melakukan operasi plastik. Mama memang sudah tidak masuk akal dengan obsesi nya itu. Dan aku tidak bisa mengatakan seperti apa wajah Mama," jawab Amora pelan sambil melirik Dirga yang sibuk. "Aku senang Tante bisa membuat Papa betah tinggal di rumah."


__ADS_2