Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 49.


__ADS_3

Keluarga Dirga sedang menikmati makan malam dengan penuh kebahagiaan dan juga kehangatan diselingi oleh percakapan diantara mereka.


"Papa dengar Bram tadi siang telepon Kaka?," tanya Dirga yang mulai membiasakan memanggil Laras dengan sebutan Kaka agar Danish menjadi terbiasa.


"Iya, dia ngasih tau kalau besok dia akan pergi mewakili Om Rizal."


"Kaka tau kemana Bram akan pergi?."


"Engga, memang nya harus Pah?,"


"Tidak ada salahnya kalau Kaka bertanya. bukan?," kata Dirga kalem.


"Ya udah nanti kalau Bram telepon lagi aku tanya deh. Hemm, Papa dikasih tau Mama ya kalau besok aku berangkat pagi?," ucap Laras.


"He eh."


"Ka, besok pulangnya jam berapa?, nanti Mama jemput aja ya, ga usah naik angkutan Umum," ucap Indah saat Laras merapikan piring kotor mereka.


"Memangnya Mama mau pergi?," tanya Laras menuju dapur.


"He eh, bukannya kamu janji mau kekantor Mama?," tanya Indah kalem.


"Nanti Mam bukannya sekarang. Aku ga mau waktu ku untuk menikmati masa putih abu-abu harus berkurang karena bekerja. Masih ada saat kuliah untuk aku belajar bisnis."


"Memangnya kaka mau belajar bisnis?, bisnis apa?," tanya Dirga ingin tahu.

__ADS_1


"Salah Pap, bukan belajar bisnis tapi belajar bekerja di kantor Mama," ucap Laras mengoreksi ucapannya tadi.


"Oh, menurut Papa tidak perlu dipaksakan kalau Kaka belum berminat, tapi untuk tahu bagaimana kita bekerja ga apa-apa Kak, nanti kalau Kaka udah tahu pasti bisa menilainya sendiri," kata Dirga membuat Laras tersenyum.


"Makasih Papa..." ucap Laras manja membuat Indah tertawa.


Setelah selesai semuanya mereka menuju ruang keluarga yang sudah dirubah oleh Indah menjadi ruangan bersantai, karena ia menyingkirkan kursi-kursi dan menggantikannya dengan bantal-bantal besar dengan dialasi karpet tebal.


Dengan duduk bersila, Laras menyetel tv dan menonton film kesukaan nya, sementara Dirga dan Indah hanya ikut menikmati saja.


Indah melihat Laras sudah menjadi gadis remaja yang cantik, tetapi memiliki sikap tidak perduli akan kecantikan yang dimilikinya. Sikapnya kadangkala terlihat masih seperti anak-anak.


"Buat besok sudah rapi semuanya kan?," tanya Indah saat putrinya masih asik dengan film didepannya.


"Pap, boleh tanya sesuatu ga?," tanya Laras tiba-tiba.


"Boleh, mau tanya apa?," tanya Dirga yang duduk bersandar.


"Bagaimana kabarnya Amora?, apakah dia tidak ingin kembali ke Jakarta?," tanya Laras dengan suaranya yang terdengar ragu-ragu.


"Kabarnya baik. Amora belum bisa kembali ke Indonesia karena ia merasa tidak nyaman bila harus tinggal bersama Mama nya," jawab Dirga dengan suara pelan seperti tidak ingin membahas mengenai Amora.


"Mengapa?, apakah Tante Zenia bersikap jahat pada Amora?, tapi bukankah mereka adalah ibu dan anak?," kata Laras meminta penjelasan.


"Ka, tidak semuanya hubungan antara ibu dan anak berjalan dengan baik. Ada kalanya timbul perselisihan dan Amora mungkin mencoba untuk menjaga jarak sementara sampai rasa tidak suka atau apapun yang dirasakan pada Mama nya menghilang, setidaknya dengan berjauhan mungkin ia merasa lebih nyaman. Mengapa Kaka tiba-tiba bertanya tentang Amora. Apakah ia menelepon mu?," kata Indah pelan.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah sebulan lalu, ketika kita pulang makan malam bersama keluarga Om Rizal. Dan entah mengapa tadi aku ingat tentang Amora yang tinggal jauh dengan keluarganya."


"Amora tinggal bersama dengan Kakek dan nenek sayang, dan Papa juga tidak melupakan nya. Bukankah baru Minggu lalu Papa kesana melihat keadaannya. Jadi Kaka tidak perlu khawatir kalau Amora kesepian di sana. Apa saja yang kalian bicarakan kalau menelepon?," kata Indah ingin tahu sementara Dirga hanya mendengarkan pembicaraan anak dan isterinya.


"Dia cerita kalau sedang dekat dengan seorang cowok asal Indonesia. Tapi ia merasa ragu kalau Papa tidak akan merestuinya, jadi dia belum memberi jawaban pada cowoknya. Lalu soal rindunya pada kota Jakarta. Mungkin karena cowoknya mengajak bertemu dengan keluarganya." jawab Laras pelan.


"Siapa nama teman pria nya?, coba kalau nanti Amora telepon Kaka lagi, bilang Papa ingin menemuinya bersama dengan teman prianya," ujar Dirga kalem.


"Sekarang Kaka tidur, sudah malam dan hujan juga sudah mulai turun. Besok harus bangun pagi bukan?," kata Indah ketika beberapa kali ia melihat Laras menguap.


"Ya, aku naik ke atas dulu. Malam Papa, Mama."


"Malam sayang," ucap Indah dan Dirga bersamaan.


Setelah Laras naik ke kamarnya, Dirga dan Indah pun masuk ke kamar mereka dan melihat Danish yang masih tidur nyenyak ditempat tidurnya yang nyaman.


"Menurutmu apakah ada yang disembunyikan oleh Laras tentang Amora?," tanya Dirga sambil melepaskan pakaiannya.


"Mama tidak tahu, kalaupun ada yang disembunyikan oleh Laras, Mama yakin nanti dia pasti akan mengatakannya. Apakah Papa belum juga mengerti tentang jalan pikiran Laras?," tanya Indah yang kini memakai baju tidur tipis.


"Ya, selama tinggal bersama kalian, sedikit banyak Papa mulai mengerti tentang Laras, pertama ia mencoba mencari tau tentang reaksi kita, setelah dirasa aman ia akan mengatakan maksudnya."


"Heeh, jadi sabarlah. Nanti Laras akan mengatakannya apa bila memang dianggap perlu."


"Hemm, kalau begitu mengapa Mama masih berdiri disitu?, dan tidak kesini ?," tanya Dirga mengulurkan tangannya yang disambut Laras, dan Dirga memeluknya dengan mesra.

__ADS_1


__ADS_2