Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 69


__ADS_3

Penerbangan dari Jakarta menuju Makasar berlangsung dengan lancar tanpa ada gangguan yang berarti karena cuaca begitu cerah hingga pesawat yang mereka tumpangi landing di landasan bandara Hasanudin Makasar. Indah bersama kedua anaknya berjalan keluar untuk mencari orang yang diperintahkan Dirga untuk menjemput mereka dan dari kejauhan Laras melihat seorang laki-laki setengah baya mengangkay karton bertuliskan nama Dirga.


"Mam, sepertinya bapak itu yang akan menjemput kita," beritahu Laras pada Indah.


"Benar, ayo kita kesana!" katanya pada Laras.


"Selamat siang, apakah Anda Pak Andi yang diberi tugas untuk menjemput keluarga Pak Dirga Sasono?" tanya Indah pada laki-laki itu.


"Benar Bu, saya Andi yang ditugas kan untuk menjemput keluarga Pak Dirga. Apakah saya bicara dengan Bu Indah?"


"Benar, saya Indah isteri dari Pak Dirga."


"Kalau begitu mari ikut saya ke hotel tempat keluarga Pak Dirga menginap!" katanya dan Indah bersama kedua anaknya segera mengikuti Andi setelah ia mengambil alih membawa rollie milik Indah.


"Pak Dirga dan Pak Bram saat ini sedang berada di proyek jadi tidak bisa menjemput langsung ibu," beritahu Andi pada mereka saat mereka sudah berada didalam mobil yang akan membawa mereka ke hotel. Indah hanya tersenyum menanggapi pemberitahuan dari Andi karena Dirga sudah mengatakannya pada mereka sebelumnya.


"Ini hotel tempat Pak Dirga menginap, mari bu!"

__ADS_1


Setelah memberikan informasi bahwa dirinya adalah isteri dari Dirga, Indah diberikan kunci yang dititipkan oleh Dirga sebelum dirinya pergi ke proyek.


"Terima kasih." jawab Indah saat menerima kunci kamar.


"Mam, aku jadi satu kamar dengan kalian ya?" tanya Laras karena mereka hanya menerima 1 kunci saja.


"Hm, soalnya kamar ini lebih seperti suite yang memiliki 2 kamar didalamnya. Jadi papa lebih memilih agar kita dapat berkumpul sekeluarga," jawab Indah.


:Oh gitu."


"Kamar kaka sebelah kiri ya, dan Adek tidur sama Kaka ya?" beritahu Indah pada Laras yang sedang mengambil tas bepergiannya dari depan pintu kamar.


Setelah mereka selesai merapikan diri dan menyimpan pakaian mereka semuanya Indah mengajak Laras untuk menikmati pemandangan kota Makasar di siang hari.


"Mama sudah menghubungi papa?" tanya Laras saat mereka sudah berada di trans studio.


"Tentu saja sudah. Papa dan Bram akan kesini menemui kita," jawab Indah mulai mengikuti Danish yang tidak bisa diam.

__ADS_1


"Kak, kita kesana dulu ya, sekalian makan siang. Danish sepertinya sudah lapar," ujar Indah mengajak Laras untuk menuju tempat makan yang berada disana.


Mereka sedang menunggu pesanan ketika Laras menatap sosok seorang pria yang tersenyum menatapnya. Garis wajahnya tegas dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya hinggs terkesan cool. Sementara badannya atletis khas cowok-cowok yang suka berolah raga dan ia sangat terpesona oleh senyum yang ditujukan untuknya.


"Kak, mandangnya ga gitu juga kali, seperti ga pernah lihat dan videocall sama Bram aja," tegur Indah pada Laras yang hanya terpaku menatap sosok Bram yang terlihat berbeda saat mereka melakukan videocall. Dengan wajah merona karena malu, Laras hanya bisa menunduk dan terispu malu sementara  mereka yang melihatnya hanya tertawa melihat Laras.


"Kenapa sih suka banget lihat orang malu?" katanya pelan dengan nada begitu kesal.


"Bukannya senang sayang, kalian itu hampir setiap hari melakukan videocall jadi bagaimana mungkin kamu tidak bisa mengenali wajah Bram?" ucap Indah memberi alasan mengapa mereka tertawa.


"Mau tahu dong apa yang tadi kamu pikirkan saat menatapku seperti itu?" goda Bram ditelinga Laras membuat gadis itu menjauhkan kepalanya dan menatapnya jengkel.


"Serius mau tahu apa yang aku pikirkan?" tantang Laras dengan senyuman menggoda,


"Apa?"


"Aku akan rela berkenalan pada pria tersebut walaupun aku sudah mempunyai tunangan yang sedang menunggu ku?" jawabnya yang langsung membuat Bram tersedak.

__ADS_1


__ADS_2