Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 8.


__ADS_3

Mereka masih asik berbincang sementara Laras sudah mulai bosan dengan hanya mendengarkan mereka saja.


Dengan malas ia bangun dari duduknya dan menuju dapur diikuti tatapan Indah.


" Ada yang mau buah tidak ?,"tanyanya.


" Apakah kalian tadi membeli buah ?," tanya Dirga dengan tatapan mesra yang ditujukan pada Indah.


" Tidak, Tadi pulang sekolah Laras yang memetiknya di kebun belakang," jawab Indah yang langsung mendapat teguran dari Dirga.


" Laras sudah jarang memanjat lagi Mas, dia juga malu sudah besar masih suka manjat pohon," jawab Indah tersenyum tipis.


" Lalu bagaimana dia memetik buah nya ?," tanya Dirga.


" Pakai galah bambu yang panjang, kalau cukup pendek ya naik tangga,"" jawab Laras sambil meletakan piring berisi potongan buah di meja.


" Mam, aku telepon Om Abi dulu ya, Laras lupa kalau hari ini ada latihan," katanya pada Indah.


" Ya," jawab Indah dan Laras segera mengambil handphonenya menuju teras.


" Memangnya Laras suka manjat pohon Tante ?," tanya Bram setelah gadis itu berada diluar.


" Ya, Kalau sudah berada diatas pohon kadang lupa untuk turun, kadang Tante harus teriak-teriak menyuruhnya turun. Anak itu tidak seperti anak perempuan lainnya yang suka main boneka, rumah-rumahan atau mainan anak perempuan. Dia lebih suka dengan permainan anak lelaki makanya kulitnya coklat seperti itu, terlalu sering berada diluar," kata Indah.


" Itu karena kamu terlalu memanjakan dirinya. Seharusnya kamu tidak perlu bekerja diluar, cukup awasi Laras agar anak itu tidak salah pergaulan." tegur Dirga tajam.


" Maaf Tante, apakah aku bisa pinjam toiletnya ?," tanya Bram yang merasa sungkan karena Dirga dan Indah sepertinya siap berdebat.


" Toiletnya ada disamping dapur tapi... kamu ke kamar Laras saja Bram, anak itu sepertinya masih diluar," kata Indah.


" Kamarnya dimana ya Tante ?."


" Dilantai atas dan hanya ada kamar Laras saja," jawab Indah tersenyum.


Bram berjalan menuju kamar dilantai atas sementara Indah menatap tajam Dirga yang sedang mengelus lengannya.

__ADS_1


" Jangan katakan kalau Mas mempunyai rencana tersembunyi dengan membawa Bram kerumah ini ?," tegur Indah pada Dirga.


" Tidak ada samasekali, aku hanya mengikuti keinginan Rizal untuk mengenalkan putranya pada keluarga ku," jawab Dirga tersenyum dan ia memberikan kecupan dileher Indah dengan mesra.


" Apakah Mas sudah mengenalkan Bram pada Amora ?," tanya Indah lagi.


Sebelum Dirga menjawab pertanyaan Indah terdengar suara teriakan Laras dari lantai atas diikuti suara benda jatuh.


Dengan langkah cepat Indah dan Dirga menuju sumber suara teriakan Laras.


Mereka dengan cepat membuka pintu kamar Laras dan melihat Bram yang berada dilantai.sambil memegang perutnya sementara dari dalam kamar mandi terdengar suara Laras yang masih mengomel dan memaki dengan suara keras.


" Laras, pelan kan suara mu setelah itu diam," tegur Indah didepan pintu kamar mandi yang tertutup.


" Apa yang terjadi ?, bisa kamu menjelaskan ?," tanya Dirga setelah Bram berdiri.


" Maaf Om, Tante. Aku tadi bermaksud ke toilet, dan sudah mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada jawaban. Karena aku pikir Laras berada diluar aku langsung masuk dan membuka pintu kamar mandi. Aku tidak tahu kalau Laras sedang mandi," jawab Bram menyesal.


Mendengar ucapan Bram, Dirga segera menarik tangan pemuda itu dan membawanya keluar sementara Laras masih mengomel tidak karuan.


" Laras, apakah kamu sudah memakai baju ?," tanya Indah.


" Keluarlah. Papa dan Bram sudah keluar kamar," kata Indah pelan.


Laras keluar dari kamar mandi dan terlihat pipinya yang memerah antara marah dan malu.


" Segera berpakaian, Mama menunggu diruang tamu !," kata Indah sambil geleng kepala.


Diluar Dirga sedang menekan bahu Bram ke tembok dengan lengannya.


" Apa kamu shock karena melihat putri ku ?,"tanya Dirga dengan nada mengancam.


" Om, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau Laras sedang mandi," kata Bram mencoba membela diri.


" Lalu mengapa kamu berada dilantai ?," tanya Dirga lagi.

__ADS_1


" Aku terkejut karena mendapatkan tonjokan dari tangannya Om, Aku sungguh tidak tahu Om," kata Bram cepat ketika melihat wajah Dirga yang memerah.


" Tidak tahu, memangnya kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu ?," tanya Laras yang sudah berada ditengah mereka.


" Hey, aku tahunya kamu itu diluar. Lagipula kenapa mandi pintunya tidak dikunci !," sahut Bram membela diri.


" Kamu, sudah tahu salah malah nyalahin orang. Itukan kamar ku dan kamar mandi ku, terserah mau aku kunci atau tidak. Lagipula Mama aku saja mengetuk pintu lebih dulu untuk tahu didalam ada orang atau tidak."


" Lalu apa mau mu ?,"


" Kamu harus bertanggung jawab, enak saja nyelonong masuk kamar mandi orang. Kamu tahu kamu sudah melihat yang tidak perlu kamu lihat."


" Ya aku akan tanggung jawab. Cepat katakan apa yang harus aku lakukan !," ucap Bram kesal sementara Dirga dan Indah saling berpandangan mendengar perdebatan antara Bram dan Laras.


" Bagaimana kalau kamu memakai kacamata kuda selama setahun sebagai akibat dari perbuatan mu ," kata Laras membuat Dirga dan Indah tidak dapat menahan tawanya tetapi tidak diacuhkan oleh Bram maupun Laras.


" Enak saja. Aku akan menikahi mu kalau kamu tidak laku," kata Bram tanpa berpikir.


" Enak aja, siapa yang mau menikah denganmu ?, hey aku ini masih kelas 1 SMP sedangkan kamu sudah jadi mas-mas." jawab Laras tidak terima.


" Aku kan cuma memberi saran, daripada pakai kacamata kuda setahun. Lagipula siapa yang mau menikahi anak bau kencur yang sok galak dan bawel," ujar Bram sambil duduk setelah ia sadar bahwa sejak tadi Dirga sudah melepaskan tekanan pada bahunya.


" Kamu,- " katanya tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Indah menatapnya untuk menyuruhnya diam.


" Kamu tahu apa yang kamu ucapkan dihadapan Om dan Tante itu sebuah janji ?," tanya Dirga dengan suara tajam.


" Aku tahu Om. Aku akan menghubungi Papa mengenai janji yang aku ucapkan," jawabnya dan ia segera mengambil handphonenya.


Melihat apa yang akan dilakukan oleh Bram, Laras segera memprotesnya.


" Hey siapa yang mau menikah dengannya?," katanya dengan suara keras.


" Siapa yang mau menikahi mu sekarang dasar bawel." ucap Bram dengan mata melotot jengkel.


" Baru sehari aku di Jakarta sudah membuatku gila dengan bertemu gadis galak dan bawel ini," omel Bram dalam hati.

__ADS_1


Laras sangat marah dan juga kesal dengan sikap Bram dan ia langsung menuju kamar dan menyalakan musik dengan kencang.


Dan sudah menjadi kebiasaan Indah dalam menghadapi putrinya sehingga ia langsung menegur Laras dengan suara kencang disertai ancaman lupa kalau ada Dirga yang menatapnya tidak percaya sekaligus geli dengan kelakuan isteri dan juga putrinya.


__ADS_2