
Indah dan Dirga tiba dirumah dengan membawa pesanan Bram dan Laras.
"Assalamualaikum, Laras...," panggil Indah.
"Waalaikum salam. Ya Mam, aku disini," jawab Laras dari dapur.
"Sedang apa?," tanya Indah.
"Ini, anak kuliahan minta dibuatin kopi..., katanya udah ngantuk," jawab Laras.
"Hmm, Bram nya mana?," tanya Dirga.
"Tadi sih nonton motor GP, ga tau kemana sekarang."
"Coba kamu cari dikamar, Mama mau ganti pakaian dulu," kata Indah pada Laras sementara Dirga sudah masuk kedalam kamar.
Setelah meletakan cangkir kopi pesanan Bram, Laras mengetuk pintu kamar tamu, tetapi tidak ada jawaban hingga ia membukanya pelan.
Ditempat tidur yang terletak dekat jendela terlihat Bram tertidur membuat Laras nyengir.
"Ih, gampang banget tidurnya. Padahal barusan minta dibikinin kopi," kata Laras sambil mendekati Bram.
Laras mencoba memastikan dengan mendekati wajah pria itu dan meletakan jari tangannya didepan hidung Bram. Tetapi belum lagi jarinya berada didepan hidungnya, Bram sudah menarik lengan Laras hingga gadis itu terjatuh menimpa tubuh Bram.
__ADS_1
"Auh sakit tahu." ucap Laras kaget begitu juga Bram yang meringis kesakitan tertimpa tubuh Laras.
"Kamu pikir cuma kamu yang kesakitan. Lagian ngapain sih kamu disini,?." tegur Bram sambil memegang rusuknya yang terasa sakit.
" Aku nyariin kamu, tadi kan minta dibuatin kopi, eh malah tidur." kata Laras sambil duduk bersila di samping Bram.
"Eh Yang, kamu ga takut apa duduk ditempat tidurku begini. Kalau aku meluk atau mau cium kamu gimana?."
"Tinggal aku panggil Mama atau Papa aja. Gampang kan?."
"Bener juga, ntar kita disuruh cepet-cepet nikah deh. Emang kamu mau Yang nikah masih SMP ?," goda Bram membuat Laras jengkel dan memukuli tubuh pria itu dengan bantal.
"Hey, sakit nih...," teriak Bram dan ia dengan cepat merebut bantal yang dipegang Laras hingga untuk kedua kalinya tubuhnya tertimpa oleh tubuh Laras karena saat ia merebut bantal ditangan Laras, posisi duduk gadis itu tidak seimbang.
"Bram, sakit..,"
"Iya sebentar aku lepasin," kata Bram.
Sementara diluar kamar, Indah dan Dirga saling berpandangan mendengar keributan yang sejak tadi terjadi dikamar tamu yang ditempati oleh Bram.
"Bram, Laras..," panggil Indah pada mereka.
"Iya Mam, rambut aku nyangkut di kancing kaosnya nih."
__ADS_1
"Mama boleh masuk ga?."
"Masuk aja, ga ditutup kok Mam?," jawab Laras membuat Bram menjepit hidung Laras hingga gadis itu teriak.
"Ga ditutup apaan?, yang punya rumah gimana sih sampe lupa kalau pintunya itu nutup sendiri."
"Iya tapi ga pake jepit hidung orang tahu."
"Mama heran deh sama kalian, ga bisa apa yang mesra dikit kalau lagi berduaan?," kata Indah tertawa melihat mereka.
"Maunya mesra Tante, tapi takut khilaf. Kalau aku sih mau langsung dinikahkan, nah kalau yang cewek mau ga dinikahin. Mau ga Yang kita nikah besok?." goda Bram hingga ia harus merasakan cubitan di pinggangnya.
"Yang sakit," bales Bram sambil menjepit hidung Laras lagi.
"Sudah-sudah, sini Mama bantu lepasin rambut kamu dari kancing kaosnya Bram," tegur Indah.
Dengan sabar Indah melepaskan rambut Laras yang terselip dikancing kaosnya Bram, tetapi ternyata rambut tersebut bukan terselip dikancing tapi pada kalung yang dipakai Bram.
"Sudah lepas rambutnya. Kok bisa rambut kamu nyangkut dan kalung nya Bram?," tanya Dirga yang berdiri menyandar dengan tangan terlipat di dada.
"Beneran mau tahu Om?, Aduh...Yang awas kamu ya," ancam Bram saat Laras mencubit lengannya dengan keras.
"Tidak perlu dijawab, Om udah bisa menduganya. Ayo keluar, Papa khawatir kalian nanti khilaf lagi." ujar Dirga membuat mereka semua tertawa kecuali Laras yang langsung berteriak memanggil Papanya.
__ADS_1