
Setelah menghabiskan liburan akhir pekan di kota Makasar, Keluarga Sasono kembali ke Jakarta bersama Bramasta Wiguna yang memutuskan ikut serta ke Jakarta sebelum kembali ke Singapura.
"Kamu mau langsung kembali ke hotel atau apartement?" tanya Dirga pada Bram ketika mereka sudah tiba di bandara Soekarno Hatta.
"Aku akan langsung ke apartement saja Om, karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan dan selesai kan dulu," jawab Bram sambil tersenyum kearah Laras yang sedang bicara dengan Indah.
"Baiklah, apakah kamu akan naik taxi atau sudah ada yang menjemput?"
"Sudah Om. Ferdy sudah dalam perjalanan, sebentar lagi dia sampai kok," katanya menyebut nama salah seorang sepupunya yang menempati apartemennya selama dia kembali ke negaranya.
"Baiklah, kami duluan ya, jangan lupa main kerumah." kata Dirga setelah ia melihat Didi berjalan ke arah mereka.
"Tentu Om," katanya lalu ia memandang Laras dan mendekati gadis itu yang terlihat santai. "Yank, aku akan ke apartement dan mungkin lusa aku baru ke rumah. Jangan lupa untuk selalu ingat aku ya!"
"Iya say, aku akan selalu ingat kamu kok," jawab Laras membalas senyum Bram dan oa sangat terkejut ketika Bram meraihnya dan memeluk nya tanpa memperdulikan Dirga dan Indah yang tersenyum memandangnya.
"Apa Ferdy sudah datang?" tanya Indah saat melihat Bram mengambil tas nya setelah melepaskan pelukannya pada tubuh Laras.
"Sudah Tante, itu mobilnya sudah datang," beritahunya menunjuk mobil sport keluaran terbaru.
"Baiklah, kami pergi dulu ya..hati-hati dan jangan suka keluar malam!" pesam Indah dan Dirga pada Bram.
"Om dan Tante tenang saja, keluar malam tanpa ada kepentingan bukan kebiasaan ku kok," katanya sambil tertawa.
"Itulah salah satu sifat yang kami sukai dari mu." kata Indah.
Setelah Bram menghilang dengan mobil yang menjemputnya, keluarga Sasono berjalan mengikuti Didi menuju mobil mereka untuk kembali kerumah.
Perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta menuju rumah mereka pada Senin sore ternyata memakan waktu cukup lama, mungkin penyebabnya adalah karena mereka semua para warga Jakarta baru kembali berlibur hingga lalu lintas sangat padat, dan mereka baru tiba di rumah setelah mendekati waktu makan siang.
Laras baru akan melangkah ke kamarnya ketika Indah memanggilnya hingga ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Indah.
"Iya Mam kenapa?" tanya Laras.
"Mama kemarin sudah bicara mengenai Tante Zenia, nanti kalau papa tanya kamu, kamu jawab saja apa yang disampaikan oleh Amora. Jangan mengatakan apa pendapatmu, biarkan ini menjadi urusan papa bersama Amora dan Tante Zenia, kecuali Kaka sudah cukup mengenal mereka. Kaka mengerti maksud Mama bukan?" kata Indah pada Laras.
"Ya Mam, aku ngerti kok. Aku naik ke atas dulu Mam."
__ADS_1
"Setelah Indah pergi ke kamarnya, Indah segera menyusul Dirga dan Danish yang sudah lebih dulu masuk ke kamar."
"Ada apa? kok lama?" tanya Dirga ketika melihat Indah masuk kamar sementara dirinya sedang bermain dengan Danish.
"Tidak apa-apa. Papa mau mandi dulu atau mau istirahat?" tanya Indah setelah melihat DIrga masih asik bermain dengan Danish.
"Nsnti saja, papa mau main sama Danish dulu."
"Ya sudah kalau begitu mama mandi duluan ya," sahut Indah berjalan ke kamar mandi.
Indah mengerti sikap Dirga sedikit berbeda karena berita yang dia sampaikan pada malam hari sebelum mereka kembali ke Jakarta. Dirga sangat terkejut dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa Zenia bisa menderita stres seperti itu dan ia merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan dirinya. Bagaimanapun apa yang terjadi pada Zenia adalah akibat kesalahan dirinya yang terlalu sibuk mengejar wanita lain dan tidak memperhatikan keluarganya.
Dirga memperhatikan pintu kamar mandi yang masih tertutup dan ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Amora untuk menanyakan keadaan mereka.
"Halo sayang, kamu dimana?" tanya Dirga setelah Amora menjawab teleponnya.
"Mora masih berada di Magelang Pah. Amora minta maaf tidak menghubungi papa dan tidak jujur pada papa," katanya pelan. Ia khawatir kalau Dirga dan Indah akan mengunjunginya di Sydney sementara dirinya justru berada di Magelang Indonesia untuk melihat keadaan mama nya yang sedang menjalani perawatan di sana.
"Papa mengerti sayang. Tante Indah sudah bicara pada Papa dan menjelaskan semuanya. Kapan Amora akan kembali ke Jakarta?" tanya Dirga dan ia melihat Indah yang sudah keluar dari kamar mandi dan tersenyum saat mendengar Dirga menyebut nama Amora.
"Kalau begitu, Papa akan menemui dirimu lusa. APakah kamu masih berada di sana?" tanya Dirga.
"Papa sungguh mau kesini? menemani Amora disini?" tanya Amora dengan penuh kegembiraan karena mendengar Dirga akan berkunjung dan menemani dirinya.
"Maafkan papa sayang. Papa memang akan menemui diri mu, tapi papa tidak bisa menemani diri mu karena tidak mungkin papa berlama-lama disana," jawab Dirga merasa tidak tega.
"Aku mengerti kok Pap. Mendengar papa mau datang kesini saja aku sudah senang banget," jawab Amora dengan nada siara yang terdengar ceria.
"Baiklah, kamu hati-hati ya. Jaga diri mu kalau boleh papa minta pada mu, kau jangan terlalu mengkhawatirkan mama lagi ya! mama sudah ada yang merawat."
"Ya Pap."
Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Amora, Dirga menatap Indah yang tersenyum penuh dengan rasa bangga dan juga pengertian terhadap apa yang dilakukan oleh Dirga.
"Papa sudah mengatakan pada Amora akan menemui nya lusa. Apakah mama keberatan?"
"Tidak Pah. Mama sama sekali tidak keberatan. Sebenarnya mama juga ingin meliahat keadaan Zenia tapi mama khawatir dengan kehadiran mama nanti membuat kalian tidak nyaman. Jadi kami akan menunggu kabar dari kalian saja. Bagaimana menurut papa?"
__ADS_1
"Walaupun sebenarnya papa ingin mama ikut menemani tetapi setelah mendengar penjelasan dari Mama, papa mengerti dan mungkin untuk saat ini mama tidak perlu ikut dulu.' jawab Dirga bangga memiliki isteri yang sangat pengertian seperti Indah.
__ADS_1