Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 98


__ADS_3

Suara langkah kaki terdengar pelan saat menuruni tangga dari lantai dua. Tidak ada yang memperhatikannya. Namun, suara tersebut terdengar jelas di telinga seorang pemuda yang sejak tadi menunggu tidak sabar.


Mata Bramterbelalak dengan mulut terbuka melihat seorang gadis yang sangat cantik dan terlihat malu-malu saat membalas tatapan mata Bram.


Dengan langkah ragu Bram mendekati Laras yang berdiri mematung di bawah anak tangga terakhir.


Suara Bram yang memujinya membuat Laras semakin tertunduk. “Kamu Laras yang selama ini aku kenal kan?”


“Apaan sih. Memangnya ada berapa nama Laras yang kamu kenal?”


Warna merona pada pipi Laras yang sudah mendapat sentuhan makeup dari seorang ahli membuat wajahnya semakin cantik membuat Bram yang biasanya hanya menggoda saja secara tiba-tiba menjadi serius.


“Kenapa? Kok ga jawab?” tanya Laras saat Bram mengulurkan lengannya sehingga Laas bisa menggandengnya.


“Kamu mau ga kita nikah nya di percepat?” tanya Bram dengan nakal.


“Hah?”


“Serius.


Kayanya aku ga bisa jauh dari kamu Yank,” katanya dengan sinar mata jenaka.


“Ngaco ah. Tanggung sekolah aku masih setahun lagi,” jawab Laras tersenyum nakal.


“Tapi kenapa sih. Kamu kok tiba-tiba ngaco begini?”


“Woi … Aku itu ga ngaco. Tapi tergila-gila sama kamu.”


“Astaga. Jadi selama ini kamu ga tergila-gila sama aku?” kata Laras pura-pura marah.


“Bawel. Aku kemarin suka sama kamu. Tapi sekarang aku sangat tergila-gila sama kamu sebagai seorang pria dewasa yang menyukai wanita. Tahu ga maksud aku,” jawab Bram tidak sabar.


Mata Laras mendelik mendengar jawaban Bram dan dia sama sekali tidak mengerti.


“Aku ga ngerti.”


“Ya udah. Nanti aku jelasin kalau acaranya sudah selesai dan para tamu sudah pulang deh,” janji Bram pada Laras.


Laras hanya mengangkat bahunya dan mereka melangkah keluar menuju taman luas yang sudah di sulap sebagai tempat pesta outdoor yang sangat berkesan.


Semua mata para tamu tertuju pada pasangan muda yang baru datang. Dan mereka bertanya-tanya siapa wanita yang berada di samping Bram.


Suara bisik-bisik terdengar dari kelompok para wanita muda yang sepertinya berasal dari golongan borjuis.


“Siapa wanita itu? Aku tidak tahu kalau Bram sudah mempunyai kekasih,” bisik seorang wanita muda kepada rekannya.

__ADS_1


“Aku belum pernah lihat. Dan aku sama sekali belum pernah mendengar Bram mempunyai teman wanita yang special,” jawab rekannya dengan pandangan dengki.


“Sepertinya wanita itu bukan dari negara ini. Mungkinkah dari Indonesia?” tanya rekannya yang lain.


“Maksudmu kita semua tidak ada yang mengetahuinya karena dia tidak tinggal di sini? Tapi … Siapa sih yang tidak tahu siapa Bram? Aku yakin para wartawan selalu mengikutinya. Kalian lupa bahwa semua yang dilakukan oleh seorang Bramasta Wiguna selalu menjadi berita. Bahkan dia pergi ke mall saja menjadi berita,”


jawab wanita lainnya.


“Benar. Dan wanita itu. Walaupun sangat cantik dan sangat menarik perhatian, sepertinya masih sangat muda,” kata yang lain dengan kening berkerut.


“Muda? Hahahaha … Apa kamu pikir para wanita yang terlihat muda adalah yang sebenarnya? Jangan lupa kita memiliki uang untuk membuat penampilan kita menjadi muda,” suara tawa mencemooh mendengar kata muda.


“Benar. Selagi kita mempunyai uang, Kata muda itu bisa kita peroleh dengan begitu mudah,” timpal yang lainnya.


Di tempat lain, Bram membawa Laras kepada Kakek Rasyid yang sedang bersama dengan orang


tuanya dan beberapa kenalan bisnis mereka.


“Selamat siang kakek,” sapa Bram yang diikuti oleh Laras.


 “Selamat sore. Wah … Ternyata cucu kakek sangat cantik,” jawab Kakek Rasyid mencium lembut kening Laras.


“Siapa dia? Apakah kami tidak dikenalkan?” tanya seorang rekan bisnis kakek.


“Tunangan Bram? Kapan dia bertunangan? Apa kabar Nak? Nama ku Deva,” kata laki-laki setengah baya yang berada di samping Rizal ayahnya Bram.


Laras menyambut uluran tangan Deva yang menatapnya dengan pandangan menilai. “Saya Laras. Om.”


Laras cukup lama menemani Bram dan dia di ajak berkeliling untuk dikenalkan pada rekan-rekannya.


“Bram, bisa tidak kita duduk dulu? Di tempat yang sep,” pinta Laras saat mereka meninggalkan Syafira.


“Kenapa?” tanya Bram dengan mengerutkan keningnya.


“Aku capek. Dan kaki aku sakit,” keluh Laras dan dia meringis ketika mulai berjalan lagi.


“Kaki kamu lecet Yank?” tanya Bram.


“Iya.”


Bram memandang Laras. :Kamu tunggu sebentar ya. Aku akan ambil kursi untuk mu,” katanya.


“Cepat ya!” kata Laras tersenyum manis.


“Iya sayangku,” jawab Bram yang segera melangkah pergi untuk mengambil kursi.

__ADS_1


Laras sedang bersandar pada tiang gazebo ketika 2 orang wanita seusia Bram menghampirinya.


“Hello, boleh kami menemani kamu? Namaku Listy dan ini teman ku Lauren,” sapa wanita tinggi dengan body nya yang seksi.


“Hello.” Sapa Laras sambil meringis.


“Kamu kenapa? Di mana Bram?” tanya wanita yang bernama Lauren.


“Dia sedang mengambil kursi untukku,” jawab Laras.


“Ooh. Kamu sudah lama mengenal Bram?”


Laras mengangkat wajahnya dan menatap wanita yang bernama Listy.


“Lumayan. Sekitar 5 tahun.”


“Lima tahun? Tapi mengapa kami tidak pernah mengetahuinya?” tanya Laueren.


“Boleh aku bertanya? Apa hubungan kalian dengan Bram? Dan mengapa kalian harus mengetahui


berapa lama kami saling mengenal?”


“Kami memang tidak memliki hubungan keluarga dengan Tuan Wiguna. Tapi semua yang berhubungan dengan putra mereka yang bernama Bramasta semua orang mengetahui kegiatannya,” jawab Laueren dengan sikap sinis.


“Kalaubegitu aku akan katakan pada Bram kalau aku belum masuk daftar berita yang


kalian ikuti,” jawab Laras tersenyum.


“Daftar berita apa?” tanya Bram yang sudah datang dengan membawa sebuah kursi lipat.


“Hallo Bram. Apa kabar. Kami sudah lama tidak melihatmu pada acara social yang kami adakan,” sapa Listy dengan sikap menggoda membuat Laras tersenyum geli.


“Aku sibuk bekerja,” jawab Bram singkat saat dia membuka kursi lipat dan menyuruh Laras untuk duduk.


“Lepaskan sepatu kamu Yank!” kata Bram lembut sementara dia sendiri berlutut di depanLaras.


Dengan pelan Laras membungkuk, tapi segera membatalkannya ketika melihat sinar nakal di mata Bram.


“Maaf ya Say, aku ga jadi kasih hiburan ke kamu,” godanya nakal membuat Bram merengut.


Dengan hati-hati Laras melepaskan sepatunya denan menggunakan sebelah kakinya yang lain. Dan Laras harus hati-hati agar kakinya tidak sakit.


“Sini! Biarkan aku yang melepaskannya,” sergal Bram yang langsung mengangkat kaki Laras dan melepaskan sepatunya dengan hati-hati.


“Kaki kamu sangat cantik Yank,” ouji Bram tertawa.

__ADS_1


__ADS_2