
Bab 102
Laras bergeming di depan Bram. Dia terlalu shock mendengar Bram mengumpat.
"Yank, kok bengong? Kamu gak kenapa-napa, kan?"
"Hah?"
"Kamu kenapa melihatku seperti itu. Ada apa?" Bram mengerutkan alisnya.
"Aku hanya terkejut saja."
"Tentang?"
"Selama ini aku belum pernah mendengarmu mengumpat. Apa ada yang mengganggumu?" Laras terus menatap Bram menunggu penjelasan.
Ada kegelisahan yang coba ditutupi oleh Bram, tetapi Laras bertekad tidak akan melepaskan begitu saja.
"Tidak ada."
Jawaban yang diberikan Bram sangat tegas hingga Laras hanya bisa menatapnya.
"Sekarang, apakah kau mau kembali menemui para tamu denganku atau tetap disini dengan segala praduga tentang wanita yang kau temui?"
"Kembali bersamamu."
Dengan jawabannya tersebut Laras langsung meraih telapak tangan Bram. Entah mengapa Laras berpikir Bram tidak akan menawarkan tangan untuk dia gandeng sehingga pilihan Laras adalah mendahuluinya.
Tidak ada yang bicara saat mereka sudah bersama tamu yang lainnya. Laras yang merasa diacuhkan mulai tidak tahan sehingga sekali lagi dia menarik lengan Bram, menjauh dari para tamu.
"Ada apa?"
"Kau marah karena ucapanku tadi?"
Laras tidak berani mengangkat wajahnya. Laras khawatir seandainya dia menatap Bram maka dia akan terpancing untuk terus bicara.
"Tidak."
"Aku gak percaya kalau kamu gak marah," cetus Laras cemberut.
__ADS_1
"Yank, apa aku pernah marah padamu?"
Laras menggeleng. Bram memang tidak pernah marah padanya tapi bukankah selalu ada yang pertama?
Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut Bram. Tetapi Laras sudah menundukkan kepalanya lagi hingga Bram mengulurkan tangan lalu jarinya menyentuh dagu Laras agar mereka bisa saling berpandangan.
"Kenapa malam ini sangat berbeda, Yank? Aku suka dengan penampilan dirimu yang berubah drastis tetapi aku tidak menyukai kalau sikap dan sifatmu pun ikut berubah! Perlihatkan dan tetaplah seperti Laras yang sudah aku kenal sekian tahun. Kau mau melakukannya untukku?"
"Maafkan aku. Aku tidak tahu mengapa aku begitu terpengaruh dengan ucapan wanita yang tidak aku kenal. Tetapi apakah kau benar-benar tidak mengenalnya?"
Masih ada keraguan dan Bram tersenyum. Dia seperti baru sadar bahwa Laras adalah wanita yang berbeda. Bukan saja dari usia mereka yang terpaut jauh tetapi juga dari segi pemikiran, Laras mungkin masih belum memahami berbagai intrik yang dilakukan oleh wanita yang tidak menyukainya.
"Maafkan, aku. Sekarang orang di sekitarku mungkin mulai memperhatikanmu dengan cara yang berbeda. Tetapi aku berharap kau bisa percaya bahwa aku tidak akan berubah dari lelaki yang selama ini kau kenal."
"Hemm."
Gerakan kepala Laras saat mengangguk sudah cukup bagi Bram bahwa mereka sudah sepakat apa pun yang terjadi kepercayaan mereka tidak akan berubah.
Baru saja mereka berniat menemui tamu, wanita yang sebelumnya menemui Laras terlihat sedang berbincang dengan Safira, ibunya Bram.
"Say, dia yang tadi bicara denganku dan bilang kalau kau akan pergi meninggalkan aku, bahkan sebelum acara ini berakhir," tunjuk Laras bermaksud memberitahu Bram.
"Aku tidak kenal. Tetapi melihatmu terganggu, aku tiba-tiba ingin mengenalnya. Ayo!"
Tanpa menunggu persetujuan dari Laras, Bram membawa Laras berjalan menemui Safiira. Dia perlu kejelasan tentang wanita yang menurut temannya bernama Halimah.
Ada perdebatan yang terjadi membuat keduanya menjadi perhatian. Peringatan yang diberikan oleh Syafira seolah tidak digubris oleh Halimah.
"Pergilah! Kehadiranmu di tempat ini tidak pernah diterima. Atau, kau memang selalu menginginkan dirimu dipermalukan?" ancam Syafira.
Laras dan Bram menghentikan langkahnya ketika Indah menahan tangan Laras.
"Maafkan Mama, tetapi kami akan membawa Laras pulang. Kau bisa menemuinya setelah masalah yang ditimbulkan Halimah sudah berhasil diatasi."
Peringatan Indah menjadi tanda tanya bagi Laras maupun Bram. Mereka saling berpandangan, tidak mengerti mengapa acara yang sebelumnya dipenuhi oleh kebahagiaan tiba-tiba berubah penuh kecurigaan.
"Aku minta maaf, Dirga, tetapi kalian memang harus membawa Laras pergi dulu," saran Rizal berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa sebenarnya? Mengapa aku seperti tertinggal di belakang? Tidak mengetahui apa pun?" tanya Bram.
__ADS_1
"Kau akan tahu nanti tetapi Laras dan keluarganya lebih baik pergi dulu."
Ada penyesalan di dalam suara Rizal saat dia menatap Dirga dan Indah. Rizal bahkan tidak berani menatap Laras yang menurutnya memiliki pertanyaan yang sama seperti Bram, putranya.
Tidak mengetahui yang sebenarnya sedang terjadi, Laras bersama orang tuanya pergi menuju hotel tempat mereka menginap.
Sepanjang perjalanan, Laras berulang kali melirik Indah maupun Dirga tetapi kedua orang tuanya sama-sama tutup mulut. Hanya genggaman tangan Indah yang terasa menekan dengan kekuatan yang lembut seolah berusaha memberikan janji bahwa sebagai orang tua, mereka akan berdiri dan melindungi putri mereka.
"Pah, Mah, sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah acara ini belum selesai? Apa artinya?"
Mereka sudah berada di dalam kamar yang ditempati Indah bersama Rizal setelah Laras menolak masuk ke dalam kamarnya.
Indah menatap Laras lalu Dirga yang memilih berdiri membelakangi mereka dengan menatap keluar jendela. Seolah pemandangan diluar jendela lebih menarik dari semua yang ada di dalam kamarnya.
"Kami tidak tahu. Mama dan tante Fira sedang berbincang dengan tamu yang lainnya saat wanita yang mengenalkan diri sebagai Halimah menuntut tanggung jawab dari Bram. Tante Syafira sebagai ibu jelas menolak mengakui wanita tersebut sebagai istri Bram. Bukan karena dia suka dengan mu tetapi karena tante Fira tahu bahwa Bram tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya," beritahu Indah.
Laras yang mendengar penjelasan tersebut nyaris lupa menutup mulutnya hingga sebuah pernyataan terlontar dari mulutnya Indah tentang keraguan bahwa seseorang telah sengaja membuat acara pertunangan Bram dan Laras berantakan.
"Pah, apakah mungkin ada yang tidak suka dengan hubungan Bram dan Laras? Bagaimanapun keinginan Rizal besanan dengan kita mungkin tidak masuk akal bagi kerabat maupun kenalan mereka."
Dirga yang sejak tadi berdiri menghadap jendela perlahan berbalik, mengamati kedua wanita yang sangat dia cintai.
"Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Wanita yang bernama Halimah memang mengenal Bram, tetapi hanya sebatas kenal saja tidak lebih. Halimah mungkin berharap lebih pada Bram tetapi, Bram hanya menganggapnya teman."
"Lalu, bagaimana bisa Halimah mengatakan kalau mereka sudah menikah? Dia bahkan punya buktinya?" tanya Indah penasaran. Indah bahkan lupa bahwa di sebelahnya berdiri Laras yang menjadi pendengar setia.
"Hanya sebuah foto tidak membuktikan apa pun. Berbeda bila bukti yang diberikan Halimah adalah surat nikah. Mama sudah dengar ucapan Halimah kalau Bram menikahinya sejak 3 tahun lalu sementara kita semua tahu saat itu Bram ada dimana," ucap Dirga tenang.
"Benar juga. Saat itu bisa dikatakan kalau Bram dan Laras bahkan tidak bisa dipisahkan," gumam Indah.
"Menurut papa, lebih baik kita menunggu tindakan yang akan dilakukan oleh Rizal dan keluarganya. Papa yakin hubungan Laras dan Bram tidak terpengaruh oleh kejadian tadi."
Dirga kemudian bicara pada Laras dengan nada suara yang lebih mirip bujukan daripada sebuah penjelasan apalagi pemberitahuan.
"Sayang, papa yakin kalau Laras sudah bisa menilai Bram apakah dia lelaki yang patut dicurigai ataukah tidak. Laras sudah cukup lama mengenalnya sehingga papa berharap kejadian tadi tidak berpengaruh pada hubungan kalian."
"Laras percaya mas Bram tidak seperti yang mama katakan tadi dan Laras hanya berharap bahwa Mas Bram bisa memberikan penjelasan. Tidak peduli apakah penjelasan tersebut baik didengar atau tidak," jawab Laras.
"Papa dan mama yakin bukan hanya Bram yang akan menjelaskan tentang kejadian hari ini tetapi keluarganya pun pasti akan datang."
__ADS_1
Berharap semuanya akan baik-baik saja, Laras kemudian kembali ke dalam kamarnya meninggalkan kamar orang tuanya yang menurut Laras sendiri tidak sesuai. Bagaimana bisa kamar yang sangat luas justru memiliki tempat tidur yang sempit?