
Indah dan Astri baru selesai makan siang ketika Dirga menelepon nya.
" Halo Mas ada apa ?," tanya Indah.
" Kamu ada dimana ?, aku baru akan mengunjungi Zenia."
" Aku dirumah. Sedang menemani Laras makan siang."
" Belum jam 12 Laras sudah pulang sekolah ?, ada apa ?, apakah dia sakit ?."tanya Dirga khawatir.
" Laras pulang lebih cepat, perutnya sakit ternyata dia baru mengalami haid pertamanya." kata Indah menjelaskan.
" Oh. Berarti tidak masalah kalau sore ini kita ke Singapura bukan ?,"
" Ke Singapura ?, untuk apa ?." tanya Indah heran.
" Rizal tadi menghubungiku, dia minta agar pertunangan antara Bram dan Laras dilakukan besok siang."
" Apa !, Mas, Laras masih kecil dan usianya baru 12 tahun, itupun masih 2 bulan lagi."
" Indah, jangankan usia 12 tahun, anak bayi pun bisa melakukan pertunangan. Rizal hanya ingin menepati janji yang sudah diberikan Bram putranya, nanti mereka berjodoh atau tidak biarkan mereka yang memutuskan bila sudah sama-sama dewasa. Apakah kalian sudah memiliki paspor dan visa. Kalau sudah kamu kirim datanya ke kantor berikan pada Eka untuk mengurusnya. Aku sudah tiba dirumah Zenia. Bersiaplah kita akan berangkat sore ini sedangkan Bram baru saja mengirim pesan bahwa ia sudah berada di bandara." jawab Dirga menjelaskan.
Indah menutup teleponnya dan menghampiri Laras yang sedang merapikan meja.
" Siapa yang telepon Mam ?," tanya Laras.
" Papa. Papa telepon beritahu Mama kalau sore ini kita ke Singapura."
" Asiik. Shopping ya Mam," kata Laras senang.
" Shopping nanti bilang sama Papa. Papa bilang Om Rizal minta pertunangan kalian dilakukan besok siang."
" Hah ?, ga salah Mam ?, anak SMP tunangan sama mas mas, sama anak SMA mendingan kali Mam." jawab Laras tertawa geli.
__ADS_1
" Kamu ga marah karena harus tunangan ?," tanya Indah heran atas reaksi Laras.
" Tunangan kan bukan berarti menikah Mam." jawab Laras santai.
" Laras, kamu sungguh ga marah ?."
" Memangnya Laras bisa menolak ?, buang-buang tenaga saja." jawab Laras dan ia segera meninggalkan Indah dan masuk ke kamar.
Indah menatap Laras dan ia tahu apa yang dirasakan putrinya meskipun Laras menanggapinya secara santai.
Indah segera masuk ke kamar dan mengambil dokumen untuk dikirimkan ke sekretarisnya Dirga untuk keberangkatan mereka ke Singapura. Setelah itu ia menghubungi Ayah dan Ibunya yang sekarang tinggal di Jogja.
" Halo Bu, bagaimana kabarnya ?," tanya Indah pada Shinta.
" Kabar ibu baik. Bagaimana dengan kalian ?."
" Kami semuanya baik Bu."
" Ada apa Indah ?, apakah ada sesuatu ?,"
" Tunangan ?, Apakah ini atas keinginan kalian ?."
" Tidak Bu, semuanya ini bermula dari ketidaksengajaan Bram yang membuka pintu kamar mandi disaat kami semua mengira Laras masih berada diluar hingga terjadi keributan." jawab Indah.
" Oh seperti itu, baiklah kalian hati-hati dan Indah selalu beri perhatian pada Laras."
" Ya Bu."
" Apakah hubungan kalian membaik ?," tanya Shinta dan Indah mengerti siapa yang dimaksud.
" Aku hanya berharap terus membaik Bu. Seperti yang ibu katakan dulu, buat Mas Dirga untuk melihat kelebihan yang kita miliki."
" Baiklah. Sampaikan salam ibu pada Dirga dan juga Laras."
__ADS_1
" Ya Bu, akan aku sampaikan pada mereka ." jawab Indah.
Setelah itu Indah segera menyiapkan tas bepergian miliknya, setelah itu ia menuju kamar Indah.
"Indah, Mama boleh masuk ?," tanya Indah dengan mengetuk pintu kamarnya.
" Masuk aja Mam !."
" Kamu sudah menyiapkan tas bepergian mu ?," tanya Indah.
" Hanya itu, menurut Mama ada yang kurang tidak ?," kata Laras menunjuk tas miliknya.
" Tidak sayang, Mama senang kamu menyiapkan keperluan pribadimu," kata Indah dan ia mengecup pipi Laras.
" Istirahatlah, Mama akan membangunkan mu kalau Papa sudah pulang!."
" Ya Mam."
Sementara itu Dirga masih berada didalam mobil dan ia terpaksa menghentikan mobilnya tidak jauh dari pintu gerbang rumah besar dan mewah Zenia ketika sebuah mobil mendahului memasuki pintu gerbang memasuki halaman rumah Zenia. Mereka memperhatikan dari luar .
Andri asistennya menunjuk mobil yang baru memasuki halaman rumah Zenia.
" Itu adalah mobil Dicky salah seorang karyawan konsultan keuangan ," beritahu Andri.
"Bagaimana kamu tahu ?."
" Saya beberapa kali melihat Dicky mengendarai mobil tersebut ketika saya mengunjungi kantor nya," jawab Andri.
" Apakah perusahaan kita masih memakai jasa konsultan ?,"
" Sudah 10 tahun terakhir kita mempunyai konsultan dari pegawai kita sendiri Pak," jawab Andri.
" Zenia memakai jasa konsultan keuangan ?, untuk apa ?, apakah dia mempunyai usaha sendiri ?," tanya Dirga merasa heran.
__ADS_1
" Setahu saya tidak Pak."
" Kalau begitu kita masuk dan tinggalkan mobil disini," kata Dirga keluar dari mobil dan ia segera berjalan memasuki halaman diikuti oleh Andri.