
Laras dan ketiga teman lelakinya berjalan kembali ke kelas dan mereka disambut gembira dan ucapan terima kasih karena Laras sudah berbaik hati dan sangat mengerti akan keadaan mereka yang sedang kelaparan.
"Laras kamu memang teman terbaik kami, "gerti aja kalau kita lagi laper begini," ucap Aris dengan suara menghiba hingga Aryo melempar botol minuman kearahnya.
"Kurang memelas RIs! coba kalau bisa lebih memelas lagi, pasti langsung dibawa ke dinas sosial," ucap Aryo yang dibalas dengan cibiran Aris.
"Dasar kurang peka!" omel Aris hingga kelas mereka kembali dipenuhi oleh tawa dari candaan yang mereka lakukan.
Dinar menghampiri Laras yang sedang duduk mengamati mereka sambil senyum-senyum sendiri hingga Dinar menegurnya.
"Jangan kebanyakan senyum, nanti di anggap kurang se ons!" tegur Dinar tertawa dengan lebar.
"Sembarangan. Siapa juga yang bisa nahan senyum kalau lihat kelakuan mereka," jawab Laras menunjuk kearah teman-temannya yang masih saja ribut dan saling menggoda.
"Yeah kadang aku ga ngerti dengan mereka semua, mereka itu berasal dari keluarga yang mampu, tapi untuk sebuah roti yang diberikan oleh teman mereka secara gratis rasanya seperti mendapat ribuan bintang," ucap DInar dengan senyum tertahan ketika Aryo menerima plastik kosong dari Aris.
"Kamu suka sama Aryo ya?" tanya Laras langsung pada Dinar sehingga temannya itu mengelak dengan kata-kata yang tidak jelas.
"Aryo ganteng kok, ga kalah ganteng sama Almer," jawab Laras karena ia tahu sejak awal Dinar sepertinya menaruh hati pada Almer kakak kelas mereka sekaligus kakak Aryo hanya beda ibu.
"Apa hubungannya dengan Almer? kamu kok bisa sampai sana sih La?"
"Loh memang gitu kan? atau aku salah? kalau salah aku minta maaf ya," kata Laras dengan wajah yang sengaja disetel bersalah.
"Ga cocok muka kamu seperti itu!" omel Dinar sehingga Laras tertawa karena maksudnya memang menggoda Dinar.
__ADS_1
"Kamu pulang hari apa? terus Bram nanti mampir ke Jakarta? asik dong ketemuan sama tunangan," goda Dinar yang dibalas Laras dengan cengiran.
"Senang lah, kan udah lama ga ketemuan. Gimana ya Bram sekarang, kira-kita berbeda ga ya dengan penampilannya kalau aku ketemu angsung sama dia," kata Laras seperti bicara pada diri sendiri.
" Kalau berbeda bagaimana La?" goda Dinar karena temannya itu seperti tidak berada dikelas.
"Ga mungkin berbeda lah. Walaupun kita ga ketemu langsung tapi kan sudah diwakili dengan videocall,"jawab Laras kesal dan tiba-tiba ia tertawa malu begitu menyadari godaan Dinar padanya.
"Astaga La, sampai segitu nya. Beneran udah jkangen banget ya?" tanya Dinar berubah serius.
"Ga tau. Aku juga ga ngerti kenapa perasaan ku seperti ini. Selama ini aku selalu mengaanggapnya sebagai teman tapi mesra. Tapi sekarang rasanya berbeda. Menurut kamu wajar ga?"
"Ya wajar aja sih. Namanya juga sama tunangan, masa ga ada rasa kangen sementara dia begitu sepesial ," jawab Dinar mencoba menerangkan pertanyaan Laras tetapi justru semakin membuat bingung Laras.
"Din, aku mau tanya,kamu sebenarnya ngerti ga sih sama yang barusan kamu ucapkan. Aku kok ga ngerti sama sekali ya. Kamu bisa menjelaskan ulang ga? Tapi pelan-pelan supaya aku ngerti!" pinta Laras membuat Dinar nyengir dan akhirnya mereka berdua tertawa geli dan sudah jelas apa yang mereka lakukan menarik perhatian para pengawal Laras yaitu para pria ganteng dikelas mereka siapa lagi kalau bukan Aryo, Fakhri dan Tisna yang langsung datang menghampiri mereka.
"Fakhri sok tahu. Udah jelas-jelas kita berdua. Aryo teman kamu gimana sih, masa dia ga nganggap kalau kita tertawa berda!" ucap Laras mencoba memprofoasi Aryo.
"Laras apaan sih!" tegur Dinar malu sementara Aryo hanya cengengesan yang tidak penting.
"Ini acara mau jadi engga sih? udah siang begini belum juag di mulai," ucap Laras mengeluh tentang acara yang sangat molor dari jadwal.
Baaru saja Laras mengeluh tentang keterlambatan, Dari speaker dikelas terdengar pengumum an bahwa acara akan segera dimuali dan para siswa diminta untuk segera berkumpul dilapangan yang saat ini sudah diabngun sebuah panggung besar.
"Turun Yuk!, biar cepat selesai," kata Laras pada teman-temannya yang langsung disetujui oleh mereka semua.
__ADS_1
"La, boleh tanya ga? kenapa kita mesti turun duluan? kan lebih enak dibelakang. Jadi ga begitu menaik perhatan," tanya Weni dan Laras tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Weni yang kini menjadi teman sebangkunya.
"Alasannya kalau kita berada dbarisan paling depan pada awal acara maka kita akan dilihat oleh para guru dan nilai disiplin kita pasti bagus. Tapi kalau kita dibelakang siapa yang bisa mengenali kita?. Kalau guru-guru sudah naik keatas sih, aku lebih memilih untuk pulang," jawab Laras tertawa.
"Bagus tuh ide nya. Memangnya kamu mau langsung pulang, ga nunggu sampai selesai. Kalau ketua nanyain kamu bagaimana? tanya Weni.
"Ketua? maksud kamu Almer? kan ada Aryo dan Fakhri. Mereka juga pengurus kelas kok. Jadi semuanya ga harus aku yang tangani." jawab Laras.
"Benar jga sih. Ngapain juga harus mengandalkan kita kalau ada cowok-cowok aktif dikelas kita."
"Betul itu."
__ADS_1
.