
Amora tidak percaya dengan apa yang di lihat dan rasakan pada saat ini. Sepanjang ingatannya ayahnya tidak pernah sekalipun mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Amora tidak merasa iri pada Laras karena ia yakin kalau adiknya selalu mendapatkan ucapan tetapi dia juga yakin, seperti drinya Laras juga belum pernah mendapatkan pesta kejutan seperti yang dia alami sekarang.
Dirga melihat Amora dan merasa bersalah karena tidak pernah memberikan perhatian padanya, Dan ia sangat beruntung memiliki Indah yang mengingatkan dirinya tadi pagi sebelum berangkat kerja kalau hari ini Amora berulang tahun sehingga ia memutuska untuk membuat pesta kejutan atas bantuan Laras yang bersikap pura-pura kalau dia merasa kesal karena acara shoping mereka gagal.
"Aku minta maaf karena aku bisa menghubungi Zahra, dan aku memutuskan untuk mengundangnya datang kesini. Aku harap kau tidak keberatan," bisik Laras pada Amora.
"Benarkah? Jadi pesta ini kalian semua mengetahuinya?" tanya Amora tidak percaya.
"Hem. Aku baru mengetahuinya waktu istirahat tadi. Papa menelpon ku dan minta di carikan teman smp mu. Aku tidak tahu sama sekali sehingga aku minta bantuan Dinar. Dan hanya nomor telepon Zahra yang bisa aku dapatkan," beritahu Laras.
"Aku tidak mengira kalau papa merencakan semuanya tanpa bantuanmu."
"Aku juga tidak percaya. Aku pikir papa hanya mengajak makan siang bersama," jawab Laras tertawa.
"Nah itu Zahra sudah datang," beritahu Laras pada Amora sambil menunjuk ke arah pintu.
"Amora...." kata Zahra sambil bergegeas menghampiri Amora yang tertawa dengan gembira kembali bertemu dengan teman SMP nya.
"Apa kabar? Aku sangat kangen dengan mu, bagaimana kabar mu?" tanya Amora sambil memerluk erat temannya.
"Aku baik-baik saja, Aku tidak menduga waktu Laras menelpon ku dan memintaku datang kesini. Sayang sekali aku tidak bisa menuruti keinginannya agar aku mengundang teman-teman kita karena mereka sedang sibuk belajar. Kau tahu sebentar lagi kita akan lulus SMA," kata Zahra dengan suara pelan.
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku bisa bertemu denganmu saja sudah membuatku sangat gembira. Sayang sekali aku besok sudah harus kembali. Kalau tidak aku pasti akan bersama dengan kalian lebih lama," kata Amora.
"Kamu kembali besok kan? Kenapa kita tidak membuat rencana bertemu dengan yang lainnya pada hari ini saja?" kata Zahra mengusulkan.
"Aku minta maaf. Hari ini kami sudah memiliki rencana. Dan jujur aku tidak akan mau menukar waktu bersama dengan keluarga ku dengan apapun juga." kata Amora dengan wajah yang bergitu terlihat bahagia ketika menatap ayahnya yang sedang tertawa bersama Indah,
"Bukankah itu Mamanya Laras?" tanya Zahra ingin tahu.
"Benar. Mereka lah keluarga ku yang sekarang," jawab Amora dengan rasa bangga.
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Zahra tidak yakin.
Amora tiba-tiba merasa tidak suka dengan sikap Zahra yang sepertinya memberi penilaian buruk pada Laras dan juga Indah.
Hari sudah sore ketika jam kantor sudah waktunya pulang dan keluarga Dirga sudah bersiap-siap untuk pulang sementara Zahra sudah pulang sejak tadi.
Indah melihat Laras sedang meerima telepon sehingga ia bertanya pada putrinya.
"Siapa?" tanya Indah pelan.
"Bram Mam," jawab Laras pelan.
__ADS_1
Laras melihat Indah keluar ruangan di ikuti yang lainnya dan ia juga mengikutinya masih sambil berbicara dengan Bram.
"Bagaimana? Bisa ga Yank?" tanya Bram
"Aku ga tahu. Memangnya kamu kembali kapan sih?" tanya Laras.
"Kalau kamu mau ikut, kita akan pergi Jum'at sore, setelah kamu pulang sekolah. Tapi kalau kamu tidak ikut ya mungkin aku pulang pada hari Jum'at pagi," jawab Bram.
"Kamu tidak bohong kan dengan mengatakan kalau Om Rizal yang memintaku datang?" tanya Laras meminta kepastian pada Bram.
"Ngapain juga aku berbohong. Papa juga pasti akan mengatakan pada Om Dirga kok," jawab Bram dengan nada kesal.
"Say, kamu ngambek ya? Aku jadi pengen lihat wajah kamu kalau lagi ngambek loh," kata Laras tertawa.
"Ya sudah, ayo kita ketemu. Mumpung aku masih di Jakarta nih," katanya tertawa.
"Hari ini aku akan makan malam bersama. Papa mengajak kami makan di luar karena hari ini adalah ulang tahun Amora," beritahu Laras.
"Benarkah? Apa aku boleh ikut bergabung?"
"Tentu saja boleh. Kamu kan sudah seperti keluarga. Aku akan bertanya pada papa di mana alamatnya. Kamu tutup dulu teleponnya ya Say. Soalnya papa sudah berjalan jauh ke depan," katanya dan Laras langsung mematikan teleponnya untuk berjalan lebih cepat menuju ayahnya yang sedang berbicara dengan Amora sementara Indah berjalan di samping kanan Dirga sambil menggendong Danish.
__ADS_1