
" Pak Dirga akan berkunjung kesini Kak ?," tanya Desi, istrinya Abi.
" Iya, bersama Andri. Ayo kita selesaikan tugas ini, sebelum mereka datang," jawab Indah.
Mereka lalu melanjutkan pekerjaannya dengan lebih teliti karena tidak ingin kerja 2 kali dan mereka juga berharap bila hasil pekerjaan bagus dan memuaskan maka perusahaan lebih dikenal dan juga mendapat job lebih banyak lagi.
" Bagaimana kalau kita istirahat minum dulu, mungkin mereka akan tiba sebentar lagi," ucap Indah.
" Ayolah. Aku juga haus Kak."
Mereka memilih beristirahat didalam mobil sambil menikmati minuman dingin yang sengaja dibawa ketika mobil yang di kendarai Andri memasuki wilayah resort dan berhenti tidak jauh dari rumah makan dimana mobil Indah diparkir.
" Bukankah itu mobil Pak Andri Kak ?," tanya Desi.
" Benar. Itu mobil Andri. Lihatlah Mas Dirga keluar dari mobilnya dan menuju kesini," ucap Indah dan ia segera membuka pintu mobil dan keluar untuk menyambut Dirga.
" Aku pikir Mas Dirga masih lama tiba disini, jadi aku memilih beristirahat di dalam mobil. Kenalkan Mas, ini Desi isterinya Abi," sapa Indah sambil memperkenalkan Desi.
" Apa kabar Pak, senang bertemu dengan seorang pengusaha sukses seperti Bapak," ucap Desi sopan.
" Kabarku baik. Bagaimana kalian sudah selesai ?."
" Sudah. Dan kami akan memperlihatkan sketsa kasarnya padamu," jawab Indah.
" Kita bicarakan nanti. Apakah kalian mau ikut dengan kami, tentu saja sambil memberikan pendapat kalian ?," tanya Dirga.
" Baiklah, kami akan iku mendampingi kalian," jawab Indah.
Mereka berempat kembali memasuki bangunan yang sudah selesai dan hanya menunggu design interior yang dikerjakan oleh Indah dan Desi.
Indah dan Desi bergantian memberikan pendapat dan saran mengenai ruangan yang ada hingga akhirnya Dirga tersenyum puas.
" Baiklah, aku sudah menerima penjelasan kalian. Apakah kalian akan kembali kekantor ?,"
" Benar, kami harus menyelesaikan gambar kami sebelum menyerahkan pada pertemuan besok," jawab Indah.
" Baiklah, sampai ketemu lagi dirumah. Indah hari ini aku akan menemui Zenia dan memberikan gelang yang kamu belikan untuk Amora."
" Baiklah, tapi kamu jangan mengatakan kalau gelang itu aku yang membelinya," ucap Indah mengingatkan.
__ADS_1
" Ya, kamu tidak perlu khawatir." jawab Dirga sambil mencium kening Indah dengan mesra.
" Baiklah Mas, kami pergi dulu. Andri hati-hati bawa kendaraan nya."
" Kalian juga hati-hati, jangan ngebut dijalan !," pesan Dirga.
" Tenang saja Mas, kami bukan pembalap kok," jawab Indah sebelum masuk dan menjalankan mobilnya.
Dirga menatap mobil yang dikendarai oleh isterinya sambil tersenyum.
" Ayo Andri, kita kerumah Zenia, aku harap Amora sudah berada dirumah saat aku tiba," ucap Surga.
Andri segera menyalakan mesin mobil dan keluar dari area resort lalu menuju rumah mewah Zenia.
Dengan kondisi lalulintas yang mulai tersendat, mereka baru sampai dirumah Zenia setelah menempuh waktu 2 jam lebih.
Dirga memasuki rumah Zenia yang besar dan mewah dengan langkah pelan. Lalu ia bertanya pada pelayan yang membuka pintu untuknya.
" Dimana Nyonya mu, apakah dia tidak berada dirumah ?."
" Maaf Tuan, Nyonya baru kemarin malam berangkat ke Korea," jawab pelayan dengan suara pelan.
" Saya tidak tahu Tuan." jawabnya dengan suara takut dan khawatir kalau Dirga akan marah.
" Andri kamu hubungi Zenia, kalau tidak menjawab kirim pesan padanya kalau aku akan menjual rumah yang ditempatinya kalau dia tidak kembali dalam waktu setengah jam !," perintah Dirga tajam.
" Baik Tuan."
Andri segera menghubungi Zenia tetapi telepon nya tidak dijawab, lalu ia mengirim pesan sesuai perintah Dirga.
Sementara itu di salah satu klinik kecantikan yang sangat terkenal dengan operasi kosmetik atau estetik nya. Zenia sedang menunggu dokter yang akan memberikan penjelasan kepadanya ketika handphonenya berbunyi. Dengan jengkel ia mengabaikannya hingga ada pesan masuk yang memberitahunya bahwa rumahnya akan dijual bila ia tidak kembali dalam setengah jam.
" Gila, apa maunya Dirga. Mana mungkin aku membatalkan janji bertemu dengan dokter setelah aku menunggu begitu lama dan juga aku sudah membayarnya." ucap Zenia marah.
Dengan emosi ia menghubungi Dirga dan langsung menanyakan apa maksudnya.
" Mas, aku masih berada di klinik, tidak mungkin bagiku meninggalkan tempat ini begitu saja."
" Aku tidak perduli. Aku pernah mengatakan padamu, agar berhenti melakukan operasi plastik dan memberikan perhatian pada Amora. Tapi kamu sama sekali tidak perduli. Kamu beli tiket kembali ke Jakarta dalam waktu kurang dari setengah jam, atau ucapkan selamat tinggal karena aku akan segera memblokir kartu kredit maupun bank mu." jawab Dirga kejam.
__ADS_1
" Mas, kamu tidak bisa melakukan itu, aku sudah membayar mahal. Kalau aku kembali ke Jakarta kau harus ganti rugi atas biaya yang sudah aku keluarkan !."
" Aku akan menggantinya dengan memintamu meninggalkan rumah yang selama ini kamu tempati. Cepatlah , waktu akan terus berjalan." ucap Dirga sebelum ia memutuskan telepon.
" Apakah Amora sudah pulang sekolah ?," tanya Dirga dengan suara pelan pada pelayan yang berdiri mematung dan gemetar setelah mendengar perkataannya pada Nyonya majikannya.
" Sudah Tuan, Nona Amora ada di dalam kamarnya."
" Baiklah, aku akan menemuinya di kamar," jawab Dirga sambil melangkah menuju kamar Amora, sementara Andri menunggu diruang tamu.
Dengan pelan Dirga mengetuk pintu kamar Amora dan memanggilnya pelan.
" Mora, Amora..., buka pintunya, ada uang mau Papa katakan padamu !." panggilnya.
Tidak berapa lama pintu kamar terbuka dan Amora muncul dengan wajah seperti habis menangis.
" Amora ?, ada apa ?, mengapa kamu menangis ?." tanya Dirga khawatir dan ia segera memeluk tubuh putrinya.
" Kamu demam Mora, sebaiknya kita ke dokter." kata Dirga panik.
" Engga Pah, aku ga mau ke dokter. Setelah aku minum obat demamku pasti turun." jawab Amora dan ia memeluk tubuh Dirga dengan erat.
" Amora, ada apa ?, apakah ada sesuatu ?."
" Mora kangen Papa. Papa tidak pernah berada dirumah begitu juga dengan Mama. Apa Papa tahu, Mora iri dengan Laras yang selalu diantar oleh Tante Indah ke sekolah, sementara Mama, tidak pernah ada buat Mora." ucapnya pelan.
" Maafkan Papa sayang. Amora sudah besar dan tahu dengan jelas apa yang menyebabkan Papa tidak tahan untuk berada dirumah ini."
" Ya Mora tahu Pah, kalau boleh memilih aku juga tidak ingin tinggal disini."
" Apakah itu alasanmu memilih sekolah di Australia ?." tanya Dirga.
" Ya, lebih baik aku hidup sendiri jauh dari Mama daripada tinggal disini tapi sama aja Mama tidak ada untuk aku."
" Papa mengerti. Dan Papa sudah menyuruh orang untuk menyiapkan semua fasilitas untukmu saat kamu bersekolah di sana."
" Terima kasih Pah. Apakah Papa ingin menemui Mama. Mama tidak ada dirumah. Entah apalagi yang mau dirubah oleh mama dan untuk siapa Amora juga tidak tahu."
Dengan penuh kasih sayang Dirga memeluk dan mencium dahi Putri nya.
__ADS_1