
Dirga dan Andri menuju teras rumah yang terlihat sepi.
" Aku akan masuk lewat pintu belakang, sementara kamu masuk dari pintu depan. Aku akan memberi tanda kapan waktunya kamu mengetuk pintunya !," perintah Dirga, lalu ia menuju pintu belakang.
Rumah besar dan mewah milik Zenia sangat sepi. Dirga baru akan membuka pintu ketika seorang wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga melihatnya.
" Tuan, mengapa lewat pintu belakang ?," tanyanya terkejut.
" Apakah Nyonya sedang ada tamu ?,"
" Ya Tuan." jawabnya merasa takut melihat tatapan Dirga yang sangat tajam.
" Jangan katakan apapun pada Nyonya mu," perintah Dirga saat ia masuk kedalam rumah.
Dirga menuju ruang tamu dan melihat Zenia dan Dicky membicarakan sesuatu sementara didepan mereka banyak terdapat lembaran kertas yang tidak dapat dilihat dengan jelas oleh Dirga.
Dengan langkah pelan Dirga mendekat dan berdiri dibelakang sebuah rak pembatas dan tubuhnya terhalang oleh jam antik besar sehingga menutupi tubuhnya dari Zenia dan ia dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
" Apakah kau yakin kalau suamiku akan menandatangani surat ini tanpa curiga ?," tanya Zenia dengan ragu-ragu.
" Tentu saja, asalkan kamu tenang saat mengajukan berkas tersebut. Jangan lupa ingatkan pada suami mu kalau kamu sangat memerlukan tanda tangannya untuk sekolah Amora. Aku yakin dia tidak akan curiga. Bukankah Tuan Dirga tidak pernah berlama-lama untuk tinggal disini ?, jadi berikan berkas ini ketika Tuan Dirga akan pergi, aku yakin dia akan menandatangani nya tanpa perlu memeriksanya lagi, karena ia ingin segera meninggalkan tempat ini."
" Baiklah aku akan mencobanya. Karena aku sudah sangat bosan menjadi isterinya yang harus bersikap sabar bila didepannya. Aku ingin mendapatkan hak ku sebagai isterinya dengan memiliki lebih banyak dari kekayaan nya. Aku tidak ingin membaginya pada wanita dan anaknya itu."
" Mengapa kamu tidak mengajukan gugatan cerai kalau kamu sudah tidak tahan dengannya ?,"
" Dengan membuatku kehilangan kenyamanan yang selama ini aku terima ?, aku bukan wanita bodoh Dicky. Dengan terus menjadi isterinya aku masih bisa menerima tunjangan yang sangat besar." jawab Zenia tertawa sinis.
" Kamu sungguh wanita yang sangat ambisi Nyonya ," ucap Dicky tersenyum.
" Kau tahu betapa kecewanya aku ketika dia menolak memberikan saham untuk Amora, sedangkan dia tahu bahwa aku selalu memberikan dan menuruti semua keinginanku." ujar Zenia dengan penuh kebencian membuat Dirga terdiam.
__ADS_1
Dengan langkah pelan, Dirga kembali dari mana dia masuk dan menemui Andri yang masih berdiri didepan pintu.
"Kita kembali ke mobil dan beritahukan kedatangan kita ," ucap Dirga.
Sambil berjalan menuju pintu gerbang dimana mobil mereka terparkir, Dirga hanya diam.
" Betapa jahatnya aku pada mereka. Aku tidak mengira bahwa Zenia begitu membenciku. Sebenarnya dokumen apa yang Zenia ingin aku tanda tangani dan mengapa ia menginginkan lebih banyak kekayaan dariku," kata Dirga dalam hati.
Dirga masuk kedalam mobil dan Andri segera menyalakan mesin mobil dan segera menjalankannya menuju halaman depan rumah Zenia.
Suara mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat Zenia dan Dicky berjaga-jaga dan bersikap waspada karena mereka tidak tahu siapa yang datang.
"Siapa yang datang ?, tidak mungkin dia datang sekarang ?, karena dia bilang akan datang sepulang dari kantor ?," tanya Zenia menatap cemas Dicky.
" Tenanglah. Rasa panik mu hanya membuat dirimu gagal mendapatkan apa yang menjadi keinginan mu,"
" Aku tahu." jawab Zenia berusaha tenang.
Sebelum Andri mengetuk pintu, Zenia dan Dicky keluar dari dalam rumah dan bertindak seperti tidak ada apa-apa.
" Ya Nyonya, Pak Dicky kebetulan sekali kita bertemu disini." kata Andri dan ia tersenyum menyapa Dicky.
" Aku tidak mengira kamu mengenalnya. Ya Pak Andri memang konsultan keuangan yang sangat hebat." kata Zenia dan tiba-tiba senyumnya hilang saat Dirga keluar dari dalam mobil dan menatap Dicky tajam.
" Oh, sayang apakah kamu mengenal Pak Dicky ?, dia adalah seorang konsultan keuangan yang sangat hebat dalam melakukan perencanaan keuangan. Dan aku berharap ia bisa bekerja denganmu," kata Zenia dengan nada merayu.
" Aku tahu dengan baik kwalitas yang dia miliki sebagai konsultan. Dan mengapa kamu membutuhkan seorang konsultan ?," tanya Dirga tajam.
" Sayang, kamu baru sampai, bagaimana kalau kita masuk sekarang. Pak Dicky sudah ada janji itulah sebabnya ia berpamitan sekarang." ucap Zenia berusaha agar Dirga tidak mendesak Dicky.
" Benar Tuan Dirga. Saya sudah ada janji. Saya permisi dulu, Pak Andri," kata Dicky ramah.
__ADS_1
Dirga segera masuk kedalam diikuti oleh Zenia sementara Andri kembali masuk ke mobil menunggu Dirga menyelesaikan urusannya, karena Dirga sudah mengatakan padanya tidak akan lama.
Dirga duduk di kursi dan ia melihat lembaran kertas yang tersusun rapi sementara Zenia merasa menyesal karena bertindak ceroboh.
" Surat apa ini ?," tanya Dirga memperhatikan lembaran kertas ditangannya.
" Oh, itu beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh orang tua murid." jawab Zenia tersenyum dan berusaha bersikap tenang.
" Hem, mau sekolah dimana dia ?, bagaimana dengan pelajarannya ?," tanya Dirga dan ia meletakan kertas yang tadi dipegangnya dimeja.
" Aku ingin ia sekolah di Australia. Bukankah kita memiliki aset di sana ?, aku ingin ia belajar membantu Papa mengelola perusahaan di sana." jawab Zenia.
" Oh, apakah kamu lupa ketika waktunya anakku bekerja, aku ingin ia bekerja dari bawah, dan juga menjadi dirinya sendiri bukan memakai namaku," kata Dirga tajam.
" Papa, Amora adalah putriku satu-satunya, aku tidak ingin membuatnya menderita," jawab Zenia dengan nada merajuk.
" Maka buatlah dirinya menjadi anak yang dapat menghargai orang tua dan melakukan kewajibannya sebagai seorang anak. Aku akan memberikan haknya sebagai putriku, tapi ia juga harus melakukan kewajibannya."
" Aku mengerti . Apakah Papa mau istirahat sekarang ?,"
" Aku minta maaf, karena sore ini aku harus pergi, karena sudah ada janji dengan klien."
" Aku pikir Papa akan menginap disini."
" Aku harap kamu lebih banyak memberikan waktu pada Amora. Jangan buat dirinya menjadi anak yang tidak bertanggung jawab. Aku rasa kamu tahu bahwa Ia telah mengancam Laras."
" Apakah Papa mendapat aduan dari Indah ?, dan Papa percaya padanya ?," tanya Zenia tidak sabar.
" Aku tidak akan percaya pada Laras ataupun Indah kalau saja tidak ada buktinya. Ingatlah aku akan menahan haknya bila dia tidak dapat membuktikan dirinya menjadi lebih baik dan bertanggung jawab," ujar Dirga.
" Aku hanya ingin mengatakan padamu agar kamu mengawasi Amora. Atau aku akan mengurangi uang belanja mu bila Amora menjadi tidak baik. Dan saranku jangan melakukan operasi plastik lagi, karena resikonya sangat besar." Kata Dirga sambil berjalan kearah pintu.
__ADS_1
" Kamu awalnya sangat cantik dan aku menyukainya. Tetapi sejak kamu tidak puas dan melakukan operasi plastik aku sangat kecewa ," katanya sambil membuka pintu mobil dan menutup pintu mobil dengan suara keras menyadarkan Zenia bahwa Dirga belum mendapatkan tanda tangannya.
" Aku pergi dulu, sementara untuk sekolah Amora kamu urus dengan baik." ucap Dirga dan mobil melaju meninggalkan Zenia yang sangat marah .