
Harapan dan keinginan 2 keluarga untuk menyatukan keluarga mereka akhirnya tiba pada tujuan yang mereka sepakati.
Rizal memperhatikan Bram dan Laras yang sedang bergurau dan bercanda secara alami.
Dirga dan Rizal pernah membuat rencana untuk menjodohkan anak-anak mereka.
Rizal tidak memaksakan dengan siapa Bram, putranya akan memilih di antara kedua putrinya Dirga untuk menjadi istrinya.
Dan Rizal menyukai cara Dirga untuk mengenalkan kedua putrinya sehingga Bram bisa menilai siapa yang bisa menjadi wanita disisinya.
"Apa yang sedang papa perhatikan?" suara lembut Syafira membuat Rizal tersenyum.
Rizal lalu menunjuk obyek perhatiannya dengan dagunya. "Di sana...mereka terlihat sangat serasi walaupun usia mereka memiliki rentang waktu yang lumayan jauh. Kau tahu apa yang aku pikirkan saat Bram memilih Laras sebagai teman hidupnya?"
"Bahwa Bram hanya bisa mengalah karena mendekati anak kecil," jawab Syafira tertawa.
"Benar.apalagi yang bisa aku pikirkan. Aku mengira Dirga gila karena menjodohkan putrinya yang masih SMP dengan anak kita yang sudah bekerja," kata Dirga, menimpali.
Dalam jarak pandang yang memungkinkan, Bram dan Laras selalu tersenyum. Tidak ada penyesalan selain kebahagiaan karena mereka akhirnya bersama.
L
siapa yang akan menjadi istrinya dari
Semua harapan dan keinginan 2 keluarga yang sudah lama menunggu bersatunya hubungan Laras dengan Bram akhirnya berhasil diwujudkan dalam ikatan perkawinan yang dilakukan dengan megah dan penuh dengan kemewahan.
Tidak banyak yang mengenal Laras di negara tempat keluarga Rizal Wiguna tinggal selama ini, tetapi dengan pernikahan tersebut membuat Laras menjadi perhatian dan berbagai media berusaha meliput dan mencari tahu tentang latar belakang Larasati Sasono.
"Aku tidak percaya, kalau kalian akhirnya menikah juga," kata Amora ikut bahagia.
"Terima kasih karena kamu menyempatkan hadir, Mora," balas Laras.
"Aku pasti hadir, Laras. Sulit untuk berpura-pura ngambek karena kamu yang lebih dulu menikah," jawab Amora tertawa.
Amora maupun Laras tidak tahu siapa yang akan menikah lebih dulu.
__ADS_1
Amora selama tinggal di Australia terkenal sebagai wanita yang pendiam dan lebih memilih memberikan perhatiannya pada pendidikan kini terlihat bersemangat, berdiri di sebelah seorang pria tampan dan gagah.
"Semoga tidak lama lagi kalian menyusul," ucap Laras.
"Jangan khawatir, Laras. Aku pasti berusaha membujuknya. Tidak mudah mendapatkan perhatian darinya," kekeh pria asing yang bernama Billy.
Begitu banyak tamu yang datang tapi begitu sedikit yang dikenal Laras, bahkan teman-teman terdekatnya-pun tidak datang.
"Mungkin ketika pesta di Indonesia, mereka pasti akan datang," gumam Laras.
Harapan yang menjadi kenyataan setelah bertahun-tahun bersama membuat keduanya yakin dengan masa depan mereka.
Tetapi...apakah masa depan mereka akan selalu baik sementara tidak ada yang pasti di dunia ini.
Bram sudah mengucapkan janjinya bahwa ia akan selalu setia dan menjaga Laras sampai maut memisahkan mereka.
Pesta yang megah, mewah akhirnya berakhir dan kini keluarga inti Dirga Sasono sudah kembali berada di rumah yang sudah disewa oleh Rizal sebagai tuan rumah selama mereka berada di negara tersebut. Sementara Laras dan Bram tetap berada di hotel sebelum pergi keluar negeri untuk bulan madu.
"Akhirnya salah satu putriku sudah mendapatkan imam yang bisa mengajarinya menjadi istri yang baik dan bertanggung jawab," ujar Dirga pada Indah ketika mereka sudah berbaring di atas kasur empuk yang nyaman.
"Entahlah. Kau tahu Amora sangat tertutup. Dia seperti belum bisa menghilangkan trauma akibat tindakan Ibunya," jawab Dirga.
Sudah berulang kali Dirga dan Indah mengatakan bahwa yang terjadi pada ibunya bukan kesalahan Amora melainkan ambisi tidak terbatas untuk menjadi wanita tercantik.
"Benar, aku melihat Amora sudah lebih berani. Selama ini, setiap kali dia pulang dan tinggal bersama kita, Amora tidak pernah bicara soal teman dekatnya, tetapi hari ini, dia membawa Billy dan memilih tinggal di hotel sementara kita tahu mereka lebih sering bertengkar daripada akurnya," kata Indah menyampaikan pendapatnya.
"Apa kau bermaksud menjadi makcomblang?" tanya Dirga tidak bisa menahan tawanya.
"Seandainya aku kenal Billy lebih dekat dan tahu siapa dia, kenapa tidak? Billy sudah berhasil menarik perhatianku dan ia pun pasti bisa menarik perhatian Amora walaupun gadis itu, lebih memilih berlindung dibalik sikap dinginnya," kata Indah.
Indah sudah menyayangi Amora sejak gadis itu terluka karena sikap ibunya.
Cinta dan perhatian yang selama ini diberikan Indah dan Dirga pada kedua putrinya tanpa pilih-pilih berhasil mengembalikan kepercayaan Amora.
Di hotel tempat Amora dan Billy menginap, Amora masih duduk di dalam kamarnya setelah ia selesai bicara dengan neneknya yang tinggal di Australia.
__ADS_1
Baru saja ia meletakkan ponselnya, sudah masuk lagi panggilan telepon yang baru dan orang yang memanggilnya adalah Billy.
"Ya, Billy, ada apa?" tanya Amora setelah tersambung.
"Sedang apa? Aku telepon tapi jaringannya sibuk."
"Aku barusan telepon nenek. Kamu sedang apa selain sedang telepon aku?"
Terdengar suara tawa Billy yang menulari Amora.
"Menurutmu, bagaimana pesta pernikahan adikmu? Kamu tidak tertarik untuk mengikutinya?"
"Karena aku wanita normal, sudah pasti aku tertarik, tapi aku belum tahu kapan pernikahan itu terjadi."
Jawaban Amora membuat Billy terdiam cukup lama sampai Amora memanggil namanya.
"Aku masih disini, Amora. Bagaimana kalau aku mengatakan kalau aku ingin menikahimu awal tahun? Aku serius denganmu dan ingin kau mendampingi hidupku, Amora."
Suara Billy terdengar begitu jelas di telinga Amora.
"Apakah kamu sedang melamarku? Kalau benar, aku rasa lebih baik ditujukan pada orang tuaku."
"Aku pasti akan melakukannya asalkan kamu menerimaku. Apakah kamu menerimaku, Mora?"
"Tidak mungkin aku menolak kalau aku sendiri sudah menyuruhmu datang bertemu keluargaku."
Suara teriakan bernada gembira dilakukan Billy dari kamar yang berbeda. Penantiannya selama ini tidak berakhir sia-sia. Amora membalas cintanya.
"Kalau aku boleh tahu, berapa lama orang tuamu tinggal di sini? Mereka tidak buru-buru meninggalkan negara ini, kan?"
Ada nada was-was kalau ia tidak bisa bertemu dengan orang tua Amora.
"Aku belum tahu. Kalau kamu ingin menemui mereka, kamu bisa berkunjung ke Jakarta," saran Amora yang langsung di iyakan oleh Billy.
Billy begitu puas dan mengatakan pada Amora bahwa ia rela tidurnya diganggu oleh mimpi asalkan mimpi indah bersama dengan Amora.
__ADS_1