Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 53


__ADS_3

Enabel School adalah salah satu sekolah favorit yang selalu mendapat nilai terbaik dan mendapatkan ranking prestasi akademik, tidak heran mereka yang berhasil masuk dan diterima di Enabel School merasa sangat bangga.


Hari pertama kegiatan disekolah berjalan lancar. Semua siswa dapat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah sampai waktunya istirahat.


Didalam kelas X-9 siswa yang pertama mengusulkan pemilihan mendekati Laras yang sedang menunggu Dinar untuk pergi ke kantin.


"Nama kamu Larasati kan?, kenalin aku Aryo Gumelar," katanya sambil mengulurkan tangan.


"Hay, karena kamu aku jadi perwakilan. Males tahu, aku ga suka ikutan jadi pengurus kelas. Pokoknya cuma selama MPLS aja ya, selanjutnya aku akan mundur."


"Kenapa sih La, bukannya enak jadi pengurus kelas?, dikenal sama siswa dari kelas lain?. Kenalin aku Fachri" tanya siswa yang bernama Fachri.


"Buat yang lain. Buat aku mah engga. Eh, kalian ga ke kantin?, Nar cepetan dong, kamu ngapain sih lama banget?," panggil Laras.


"Ya udah kita bareng aja, kita juga mau ke kantin kok!," jawab Aryo setelah Dinar berjalan kearah mereka.


"Ayo...,-


Mereka berempat baru sampai pintu ketika dari arah kursi belakang ada yang memanggil Aryo.


"Yo, jangan lupa beliin cemilan, males keluar nih!."


"Air galonnya sekalian ga?," jawab Laras membalas panggilan dari arah belakang meskipun panggilan tersebut ditujukan pada Aryo.


"Boleh, kalau ada galon yang 15 liter ya."


"Sarap."


"Bener La, kita belum sarapan. Sekalian beliin ya!."


"Udah, Tisna ga usah di ladenin. Ga ada habisnya," kata Fachri tertawa.


"Kamu kok udah akrab aja, satu SMP sebelumnya?, oh iya aku Dinar. Aku dan Laras satu sekolah waktu SMP," kata Dinar ingin tahu.


"Iya, aku, Aryo, Tisna dan Abid dari sekolah yang sama. Ga tau kenapa kita sekelas terus. Padahal udah bosen bener," jawab Fachri tertawa kesal.

__ADS_1


"Kamu pikir aku mau apa sekelas terus sama kalian?," balas Aryo jengkel.


"Eh, La kemarin si Almer ngomong apa sama kamu?, kepo nih?," tanya Fachri membuat Laras tertawa geli.


"Eh, situ cemburu Almer negur aku?," tanya Laras membuat Fachri menarik rambutnya.


"Kepo aja, yang lain ga diajak ngomong kok malah deketin situ."


"Tau tuh. Males aku ngomong nya."


"Jangan kebanyakan bilang males, ntar disangka kamu pemalas lagi?," tegur Aryo kalem.


"Emang. Aku mah rajin nya dirumah aja. Kalau diluar mah malesss," jawab Laras tertawa.


"Yo, aku dibelakangnya nih, mau ditarik in rambutnya ga?."


"Ga usah. Kasihan ntar kalau rontok aku disuruh bayar biaya perawatannya lagi. Iya kalau cuma disuruh beli shampo, kalau bayar lainnya. Males aku juga," jawab Aryo.


"Dasar para pemalas," kata Dinar.


"Mau beli apa La?," tanya Dinar.


"Ga tau. Eh sepertinya ada donat tuh. Kamu mau beli ga?," tanya Laras.


"Tumben jam segini kamu makan donat?, bukannya kamu tadi udah sarapan?," tanya Dinar.


"Emang iya sih. tapi rasanya aku mau somay, cuma kalau makan disini kayanya ga ada tempat duduk deh."


"Biasakan bawa tempat makan. Disini udah ga sediain plastik lagi?," kata Fachri dan Aryo yang mendekati mereka dengan tangan yang penuh botol minuman.


"Kenapa ga dikasih tau kalau kita mesti bawa wadah makanan?, ya udah kita beli donat aja, coba Din kamu tanya berapaan harganya sekalian kita pinjam tempatnya," ucap Laras pada Dinar.


"Kamu mau beli selusin La?, buat siapa aja?," tanya Aryo.


"Ga tau. Buat siapa aja deh yang mau. Tapi jangan bilang aku yang beli ya. Bilang aja kamu yang beli." kata Laras pada Aryo.

__ADS_1


"Ga mungkin percaya mereka. Ya udah, kalau anak cowok ga ember kok mulutnya," kata Fachri tertawa.


Karena tidak memungkinkan untuk makan di kantin, akhirnya mereka kembali ke kelas dengan membawa makanan yang sudah dibeli dan Laras memilih salad buah karna sudah ada wadahnya.


"Jam segini udah makan salad memang nya kamu udah sarapan?," tanya Aryo ketika Laras membawa mangkuk berisi salad.


"Udah."


"Terus donat ini buat siapa?," tanya Fachri.


"Buat kalian. Din kamu mau ga donat nya?."


"Mau lah. kamu tahu kan kalau perutku ini selalu merasa lapar," jawab Dinar tertawa.


"Pantas aja body kamu montok," kata Aryo membuat Dinar memukul bahunya hingga dia harus terdorong ke depan.


"Wooi, kalau donatnya jatuh tanggung jawab ya," teriak Aryo membuat mereka yang melihatnya tertawa.


"Gila temen kamu parah La," kata Aryo sambil berjalan cepat sebelum ia merasakan dorongan dari Dinar yang memang memiliki tubuh montok tetapi sangat lincah.


Selama menuju kelas mereka selalu bercanda dan tertawa tidak terlihat kalau mereka baru saling mengenal.


Apa yang mereka lakukan mulai dari kantin sampai menuju kelas, Almer memperhatikan mereka dengan penuh perhatian.


"Kenapa Al?, kaya nya kamu tertarik sama anak yang bernama Laras?," tanya Shiraz yang satu kelas dengannya di kelas XII ini.


"Hemm, aku ingin tahu apa reaksinya kalau aku minta perwakilan kelas harus pulang sore dan datang pagi-pagi sekali." kata Shiraz mengusulkan sebuah rencana pada Almer.


"Jangan macam-macam, sekolah kita sudah mendapatkan predikat terbaik," tegur Almer.


"Aku ingin tahu apakah dia mau aku ajak pulang bersama. Bagaimana menurutmu?," tanya Almer pada Shiraz.


"Kamu memang tahu tempat tinggalnya?," tanya Shiraz.


"Aku akan cari tahu," jawab Almer. Dia tidak ingin mengatakan pada Shiraz bahwa ia akan berusaha meminta data pada pihak sekolah walaupun sangat kecil kemungkinannya untuk bisa mendapatkan nya.

__ADS_1


__ADS_2