
Laras berjalan dengan cepat untuk menyusul Dirga yang berada jauh di depan.
"Ka, hati-hati kalau jalan!" tegur Indah pada putrinya yang dijawab dengan cengiran.
"Pap, kita mau makan di mana?" tanya Laras ketika ia sudah berada di samping Dirga.
"Kenapa memangnya? Kamu mengundang Dinar?" tanya Dirga tersenyum.
"Bukan, Ini Bram telepon, dia tanya Laras ada dimana. Laras bilang kita mau makan di luar. Terus dia bilang boleh gabung ga, ya udah Laras bilang boleh. Makanya Laras tanya papa kita mau makan di mana," katanya menjelaskan.
Dengan tersenyum mendengar penjelasan Laras, Dirga memberikan alamat restoran yang sudah dia pesan dan Laras segera mengirim pesan pada Bram alamat restoran tersebut.
"Sudah?" tanya Dirga dengan suara menggoda.
"Sudah." jawabnya. singkat.
Dirga membawa mobilnya ke restoran yang banyak di kunjungi keluarga kelas atas dan Dirga bersukur sekretarisnya sudah mengaturnya.
"Amora, kenapa diam saja?" tanya Indah pada putrinya.
"Ga apa-apa kok Mam. Aku sangat bahagia di ulang tahunku yang ke 17, aku bisa merayakannya bersama keluarga. Walaupun mama ku sendiri tidak bisa mengingat tanggal dan bulan kelahiranku," jawab Amora dengan suaa pelan.
"Hey, seperti yang mama katakan padamu, kami adalah keluarga mu. Mama mu sedang tidak ada di sini bukan berarti dia tidak mengingatnya. Sekarang ayo kita bergembira! Tidak ada alasan untuk bersedih," ujar Indah memberi semangat pada Amora.
Bram berjalan masuk ke restoran di bawah tatapan ingin tahu dan tatapan memuja para wanita yang sedang makan sehingga ia merasa terganggu.
"Apa sih yang mereka perhatikan? Sepertinya aku memakai baju yang benar. Dan pada wajahku juga tidak ada yang salah," katanya menggerutu kesal.
"Selamat sore, apakah Anda sudah reservasi?" tanya pelayan dengan ramah.
"Hemm... aku tamu Tuan Dirga," jawab Bram sambil mencoba menghubungi Laras dengan ponselnya.
__ADS_1
"Tuan Dirga Sasono? Mari kami antarkan!" katanya dengan ramah sementara Bram mengikutinya dari belakang.
"Malam Om, Tante...." salam Bram pada Dirga dan Indah yang tersenyum menyambut kedatangannya.
"Selamat ulang tahun Amora. Semoga selalu sehat dan sukses ke depannya," kata Bram pada Amora yang tertawa kecil menerima ucapan selamat ulang tahun serta kotak kecil dari Bram.
Setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada Amora, Bram menuju kursi yang berada di sebelah Laras dan ia menyapa Laras dengan memberikan kecupan singkat di kepala gadis itu membuat tersenyum yang memandangnya.
"Kenapa aku ngerasa seperti anak kecil ya? Ga ada sapaan dan ucapan kalau dia sudah datang tapi langsung ada kecupan di kepala," kata Laras dengan suara pelan.
"Jadi kamu mau sapaan juga Yank?" tanya Bram pelan yang dibalas Laras dengan kedikan bahu.
"Ya udah apa kabar sayangku-manisku-cintaku...." kata Bram membuat Laras cemberut kesal.
"Ga usah bicara kalau ga rela," katanya mengeluh kesal.
Bram melirik Dirga dan Indah yang hanya geleng kepala dengan senyum di bibir mereka melihat pasangan yang sringkali menarik perhatian dengan sikap mereka.
"Ooh, ya sudah kamu mau makan apa?" tanya Laras pada Bram karena piring mereka semuanya sudah terisi.
"Seperti kamu aja," jawab Bram
"Oke."
Setelah Laras mengisi piring Bram dan memberikan pada pria itu, ia melanjutkan kembali menyuap makanannya.
Bram tidak mengerti mengapa Laras tiba-tiba bersikap aneh padanya sehingga ia bertekad untuk mencari tahu apa yang menyebabkan gadis nya cemberut.
"Oh ya Bram, Mama kamu tadi telepon tante, katanya kamu mau kembali hari Jum'at dan meminta Laras untuk ikut bersama dengan mu? Memangnya ada acara apa?"
"Ulang tahun Kakek Rashid Tante. Mama mau Laras hadir pada acara tersebut sebagai anggota keluarga Wiguna. Sekaligus mengenalkannya pada keluarga dan kolega bisnis kakek," jawab Bram membuat Laras terkejut.
__ADS_1
"Kamu kok ga bilang sih?"
"Aku kan tadi udah bilang Yank," kata Bram dengan sabar.
"Maksudmu tentang mengajakku ikut pulang bersama dengan mu?"
"Hemm...."
Melihat Bram berusaha bersikap sabar membuat Laras tertawa geli.
"Ga lucu," kata Bram pelan melihat tawa Laras yang di tujukan padanya.
"Masa? tapi suka kan?" balas Laras.
"Kalau kamu kembali pada hari Jum'at pagi, itu artinya Laras tidak sekolah pada hari itu/ Kenapa tidak sore saja berangkatnya?" tanya Indah pada Bram yang masih sibuk menggoda putrinya.
"Maksudnya, Jum'at pagi kalau Bram pulang sendiri tante. Tapi kalau Laras ikut, maka kami akan kembali hari Jum'at sore. Jakarta-Singapur kan ga jauh Tan," jawab Bram.
"Ya sudah nanti kamu sampaikan pada mama kamu kalau Laras akan ikut dengan mu. Dan tante juga akan meneleponnya nanti," kata Indah membuat wajah Bram tersenyum bahagia.
"Kamu jadi kembali besok?" tanya Bram pada Amora yang sibuk dengan Danish. Entah mengapa gadis itu lebih suka bercanda dengan Danish dan dia hanya sesekali saja memberi perhatian pada obrolan mereka.
"He eh. Sudah terlalu lama aku meninggalkan sekolah. Bagaimana pun aku ingin mendapatkan nilai yang bagus agar aku bisa kuliah di kedokteran," jawab Amora.
"Tidak tertarik dengan bisnis?"
Tidak. Aku lebih suka berhadapan dengan hewan. Aku ingin menjadi dokter hewan. Sementara dunia bisnis aku serahkan pada Laras dan Danish. Aku sama sekali tidak tertarik," jawabnya tertawa.
__ADS_1