
Bram melotot kesal saat mendengar ucapan Laras sementara gadis itu malah senyum-senyum tanpa merasa bersalah.
"Serius kamu?" tanya Bram dengan tatapan tajam.
"Tentu saja serius, kan cuma kenalan bukannya pacaran. Tinggal sebutkan nama secara asal gampang kan?" katanya santai.
"Ga ada yang lainnya selain berkenalan?" tanya Bram masih tidak puas atas jawaban Laras.
"Hm, memangnya kamu ga pernah kenalan sama cewek lain apa," tanya Laras.
"Sering. Tapi tidak dengan menyertakan dengan kalimat 'walaupun tuanangan ku sedang menunggu' seperti yang kamu katakan tadi," jawab Bram masih marah sehingga Laras mulai menyesal atas ucapanny tadi.
"Aku minta maaf atas candaan yang aku ucapkan tadi ya, kamu mau memaafkan bukan?" tanya Laras dengan pandangan menghiba membuat Indah dan Dirga yang berada didepan mereka hanya geleng kepala.
"Kalau mau dimaafkan harus ada syaratnya," jawab Bram hingga Laras langsung waspada.
"Kenapa pakai syarat segala sih? kalau aku ga mau gimana?"
"Terserah, berarti aku tidak akan memberimu maaf," jawab Bram yang masih juga terlihat kesal.
"Dasar. Kalau gitu kenapa aku harus datang kesini kalau hanya mendapat masalah. Mam aku ketempat lain dulu ya," katanya pada Indah yang langsung menegurnya dengan matanya yang melotot tetapi tidak lama karena ia tahu maksud dari putrinya.
__ADS_1
"Ya sudah sana, mau diantar sopir atau sendiri?" tanya Indah dengan wajah yang berusaha dibuat datar.
"Aku yang akan mengantarnya tante," jawab Bram berdiri dan ia segera menarik tangan Laras untuk ikut berdiri bersamanya.
Dengan tangan Laras yang masih berada didalam genggaman Bram, pria itu berjalan dengan cepat sehingga Laras setengah berlari mengikuti langkahnya.
"Bram? lepasin.., kamu kenapa sih? aku sudah minta maaf karena canda an yang aku ucapkan. Kalau kamu seperti ini kamu menyakiti aku tahu!" katanya dengan suara merajuk.
"Benar, kamu sudah minta maaf tapi kamu tidak setuju dengan syaratku bahkan tanpa tahu syarat yang aku ajukan."
"Aku paling tidak suka bila orang menerima permintaan maaf tadi dengan mengajukan syarat, itu artinya dia sebenarnya tidak rela. Bukankah lebih baik dengan mengatakan secara jelas bahwa kamu tidak memaafkan diriku sehingga aku akan selalu ingat bahwa ada ucapan atau kalimat yang tidak seharusnya diucapka. Kalau kamu tidak suka dengan candaanku, aku juga tidak suka denga satu sifatmu yang ini." ujar Laras sambil bersedakep.
"Benarkah kamu tidak suka dengan sifatku ini?"
"Lalu?"
"Ya kalau kamu menolaknya, paling aku akan mereweli kamu dan akan sangat cerewet mengganggu mu sampai kamu mau memaafkan diriku." jawab Laras dan ia memilih duduk ditangga karena cape harus bicara dengan Bram yang memilih tubuh tinggi sehingga ia harus menegadah saat bicara.
"Serius kamu akan menjadi wanita yang cerewet dan rewel hanya untuk mendapatkan maaf dariku?" ucap Bram ikut duduk disebelah Laras.
"Tadi, kalau sekarang sudah tidak. Ngapain juga mesti cerewet, toh kamu juga ga niat marah kok."
__ADS_1
Mendengar ucapan Laras, Bram tertawa keras dan ia segera menarik bahu Laras dan memeluknya erat.
"Kamu tahu ga sih Yang, sikap kamu seperti ini yang selalu membuatku kangen dan ingin..." tanpa diduga Bram mendaratkan kecupan dibibir Laras hingga gadis itu terkejut dan Bram menikmatinya untuk berlama-lama dibibir Laras.
"Bram kamu gila ya? kamu tahu aku masih kelas 1 SMA dan ini adalah ciuman pertama ku!" tegur Laras saat dirinya sadar dari apa yang dilakukan oleh Bram padanya.
"Kamu kelas 1 SMA dan aku sudah bekerja. Kau tahu aku sangat senang dan gembira karena akulah yang merasakan bibirmu pertama kali. Lagipula kita sudah bertunangan, apa masalah?"
"Ya masalah, bagaimana kalau orang lain melihat apa yang kamu lakukan padaku?"
"Sayang, kamu itu duduk ditempat yang jarang dilalui orang dan tidak akan terlihat kecuali kalau kita berdiri," jawab Bram.
"Ya sudah ayo kita kembali ke Papa dan Mama ku. Dari pada kamu nanti macam-macam sama aku." kata Laras mulai bangun dari duduknya sambil menarik tangan Bram untuk bangun.
"Yang, memangnya pernikahan kita tidak bisa dipercepat ya?" ucap bram dengan suara seperti mengeluh.
"Di negara ku siswa SMA belum mendapatkan izin untuk melangsungkan pernikahan kalau dia masih tercatat sebagai pelajar. Kamu tunggu lah sampai aku kuliah. Kenapa sih?"
"Aku mau cipika cipiki sama kamu tanpa harus dapat teguran karena menyentuh anak kelas 1 SMA," jawab Bram dengan wajah tidak puas.
"Memangnya hanya itu yang berada didalam pikiran kamu say,"
__ADS_1
"Sebenarnya banyak, tapi sementara ini, itu saja yang aku inginkan. Bisa ga sih kamu bayangkan mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan pada kekasih mereka tapi aku malah dibatasi untuk melakukan kemesraa pada tunangan ku sendiri," katanya mengeluh membuat Laras angkat bahu dan ia baru saja akan mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi khawatir kalau menimbulkan masalah baru pada mereka.