
Laras sudah berpakaian rapi ketika turun dari kamarnya untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya dan ia segera duduk di sebelah di kursi yang berhadapan dengan Dirga karena Amora dan Indah sudah duduk di kanan dan kiri Dirga.
"La, siang ini kamu bisa menyusul papa ke kantor ga? soalnya papa ingin mengenalkan kamu dan Amora pada lingkungan kerja papa agar kalian terbiasa!" kata Dirga sambil menatap Laras dan Amora secara bergantian.
"Maaf Pap. Hari ini aku sepertinya tidak bisa. Aku ingin menemui teman lama, karena aku kan sudah lama meninggalkan Jakarta. Jadi aku ingin bertemu dengan teman-teman SMP aku dulu," kata Amora setelah diam sesaat.
"Kenapa kamu tidak mau? apa kamu tidak tertarik dengan bisnis Papa? Amora kamu adalah putri pertama papa jadi kamu harus bisa membantu papa."
"Maaf Pap. Aku ingin menjadi seorang Dokter hewan. Menurutku Danish bisa meneruskan usaha Papa karena aku sudah berjanji pada kakek bahwa aku akan mengurus peternakan beliau. Bisnis dan hotel bukan bidang aku Pap." jawab Amora dengan suara pelan.
"Amora, Danish masih kecil. Dia belum mengerti apa-apa. Kalian berdua yang nanti akan membimbing Danish sehingga dia menjadi yang terbaik."
"Maaf Pap. Aku tidak bisa. Aku mengatakannya sekarang karena aku tidak ingin setuju dengan rencana papa tetapi pada akhirnya aku justru menolaknya," jawab Amora lagi. "Bagaimana dengan Laras?"
"Hah?"
"Bagaimana kalau kamu dan Danish yang akan meneruskan usaha Papa. Kamu ingin menjadi koki tetapi kamu juga bisa menjadi seorang direktur di hotel milik Papa. Bagaimana? kamu bisa kan?" tanya Amora pada Laras.
"Maaf Pap. Aku rasa masih terlalu dini untuk meminta kami meneruskan usaha Papa. Kami masih pelajar dan belum mempunyai keinginan tersebit. Tetapi Amora bukankah seorang dokter juga bisa menjadi seorang pengusaha? menurutku tidak ada salahnya mengenal dan belajar cara papa menjalankan bisnisnya?"
"Kalau begitu aku mau melakukannya asal kamu juga bersama denganku. Aku tidak mau sendirian menjadi orang asing yang tidak mengerti apa-apa,"
"Tapi hari ini aku sekolah dan tidak bisa bersama denganmu mengunjungi kantor Papa?" tanya Laras.
"Laras, Amora! selesaikan sarapan kalian dulu. Sebentar lagi Dinar datang dan kamu akan diantar oleh Didi. Nanti Amora mama yang akan mengantar nya ke kantor papa setelah menjemput Laras di sekolah. Gimana, papa setuju?" kata Indah dengan suaranya yang terdengar tegas setelah mendengarkan kedua putrinya sama-sama menolak meneruskan usaha Dirga.
Mendengar teguran Indah, Dirga hanya tersenyum simpul dan setuju dengan pengaturan isterinya yang terlihat tidak ingin mendengar bantahan dari suami dan anaknya.
__ADS_1
"Ya udah. Aku akan menunggu Mama menjemput aku di sekolah," jawab Laras yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Tas kamu sudah dibawa turun?" tanya Indah melihat Laras menghampiri Dirga yang masih duduk menghadapi sarapannya.
"Sudah Mam," jawabnya.
"Aku berangkat Pap," katanya sambil mencium pipi Dirga sambil tersenyum membuat Indah menatapnya curiga.
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Indah langsung.
"Engga kok Mam."
"Serius?"
"Iya mama ku cantik. Mama kepo banget sih?" katanya dengan tertawa geli.
"Iiih Mama, sejak kapan sih jadi kepo gitu?" kata Laras tertawa.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau bicara. Sekarang cepat bawa tas kamu ini sudah siang! Dinar sudah datang belum?"
"Sudah tante, ini sudah menuggu diluar," sahut Dinar yang rupanya sedang bicara dengan Amora di luar.
"Ooh, ya sudah sana berangkat kalian."
"Iya mama. Aku berangkak Mam, Amora aku sekolah dulu ya, jangan lupa nanti ikut sama mama ke kantor papa!" katanya sebelum masuk kedalam mobil.
"Ya." jawab Amora sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Setelah mobil yang dikemudikan Didi pergi, Indah kembali ke dalam rumah dan ia melihat Mba Sri sedang merapikan meja makan.
"Bapak kemana Mba?"
"Bapak tadi sama Den Danish ke atas Bu." jawab Sri.
"Imas?"
"Imas itu di dapur bu sedang membuat minuman untuk Den Danish," katanya sambil menunjuk pengasuh Danish yang terlihat sibuk di dapur.
"Ibu mencari saya?" tanya Imas sambil membawa botol yang berisi jus buah.
"Iya, ibu minta tolong kamu sama Mba Sri antarkan ini ke rumah tetangga sama kerumahnya Dinar. Sekalian kalian bawa pulang kerumah keranjang yang ini. Kalian bawa motor saja," kata Indah pada kedua orang yang bekerja padanya.
"Baik Bu. Tapi minuman Den Danish apa ibu yang akan membawanya? Mba Sri Den Dansih kemana?" katanya sambil mencari Danish karena ia tadi meninggalkan nya pada Sri.
"Di atas sama Bapak. Ya udah, berikan pada ibu," katanya sambil tertawa dan ia melihat Amora yang berjalan masuk.
"Kita ke atas Yuk! Papa dan Danish ada di atas."
"Papa tidak berangkat kerja Mam?" tanya Amora heran.
"Sebentar lagi. Didi kan sedang mengantar Laras."
"Ooh."
"Ayo ikut mama!" katanya sebelum berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
__ADS_1