Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 14.


__ADS_3

Laras baru memasuki halaman sekolah ketika Amora cs menghadangnya.


" Kamu gadis pengecut, apa kamu tidak mampu menghadapi ku sendiri tanpa harus melibatkan orang tua ?," kata Amora galak dan mereka berempat mengepung Laras dan membawanya ketempat yang tidak terlihat siswa lain.


" Menghadapi mu sendiri, bukankah aku yang memintamu untuk berhadapan satu lawan satu. Aneh sekali ucapan mu ," jawab Laras dengan nada mengejek.


" Kalau berani mengapa tidak menerima tantangan ku ?, bukankah itu artinya kamu takut ?," ejeknya.


" Aku tidak takut. Aku akan menerimanya saat aku sudah memiliki SIM. Aaah, aku tahu kamu ke sekolah tanpa SIM bukan. Bagaimana kalau aku meminta polisi untuk merazia diri mu. Sangat mudah bukan ?" balas Laras.


" Kau." Amora sangat marah dan ia meminta temannya untuk bertindak kasar pada Laras tetapi gadis itu malah tertawa.


" Apakah Mama mu tidak mengatakan kalau surat tantangan dan ancaman yang kamu kirimkan padaku ada ditangan pengacara mamaku ?, pikirkan sebelum bertindak kasar padaku." kata Laras dengan senyum menantang.


" Kau..., kau akan merasakan akibatnya !,"


" Mengapa kamu harus menekankan ku ?, bukankah ada hal yang lebih penting daripada mengganggu ku ?," kata Laras sambil melepaskan diri dari pegangan teman-teman nya Amora.


" Jangan sok menggurui ku anak kecil !," bentak Amora marah.


" Aku tidak menggurui tapi memang kenyataannya. Sebentar lagi bel berbunyi, sebaiknya hari ini kamu jangan terlambat sampai rumah karena aku dengar ada sangat kecewa karena tidak dapat menemui dirimu kemarin jawab x," jawab Laras.


Mendengar ucapan Laras seketika Amora terdiam dan ia berbicara dengan pelan.


" Apakah Papa benar menemui dirimu ?," tanya Laras.

__ADS_1


" Tentu, seperti yang aku katakan kemarin. Atau.. kamu pikir Mama mu berbohong saat mengatakan kalau ada yang ingin bertemu ?," kata Laras.


Amora baru akan membalas ucapan Laras saat bel sekolah berbunyi sebagai tanda jam sekolah akan dimulai.


Dengan berlari Laras menuju kelasnya dan ia tersenyum lega karena masih ada temannya yang belum tiba.


" Kok tumben kamu terlambat ?," tanya Raisya.


" Terlambat ?, tidak lah..., kan guru belum datang, lagipula masih ada yang belum datang kan ?," jawab Laras sambil meletakan tas nya di laci meja.


Dirumah Dirga sudah siap berangkat kerja dan ia sedang menunggu Indah keluar dari kamar.


" Aku akan mengantarmu ke kantor," katanya saat Indah keluar.


" Aku rasa tidak perlu karena kantor kita tidak searah." jawab Indah.


" Siapa dia ?," tanya Dirga pada wanita yang baru datang.


" Oh, itu Mba Sri, yang membantu pekerjaan rumah," jawab Indah.


" Permisi Bu," kata Sri pada Indah sementara pada Dirga ia hanya mengangguk sopan.


" Mba Sri, Beliau adalah Papa nya Laras ," beritahu Indah karena Sri belum pernah bertemu dengan Dirga.


" Maaf Pak." katanya mengangguk hormat yang dibalas Dirga dengan anggukan kepala.

__ADS_1


" Apakah tidak masalah meninggalkan rumah sementara ada orang lain dirumah ?," tanya Dirga ketika mereka sudah berada dijalan.


" Aku percaya padanya."


" Bagaimana kamu tahu ?," tanya Dirga sementara Indah mengambil handphonenya dan terlihat membuka aplikasi.


" Aku memasang cctv dirumah. Dan Mba Sri sama sekali tidak mengetahuinya," kata Indah menunjukkan aplikasi cctv di handphonenya.


" Kamu memasang cctv dirumah, apakah Laras mengetahui nya ?."


" Tidak, hanya aku dan Abi yang mengetahuinya dan sekarang ada kamu yang juga mengetahuinya Mas."


" Apakah itu caramu untuk mengetahui apakah Laras maupun Sri berkata benar atau tidak."


" Hanya Allah yang mengetahui ucapan manusia benar atau salah. Aku hanya mengharap mereka bersikap jujur," jawab Indah.


" Banyak sekali perubahan pada wanita yang menjadi isteri dan juga ibu dari anakku yang tidak aku sadari sebelumnya. Dulu Indah wanita yang egois dan juga sangat sombong saat aku memilihnya sebagai kekasihku, dan sikap menguasainya melebihi Zenia saat aku menikahinya hingga membuatku berpaling. Tapi sekian tahun kemudian Indah ternyata berubah menjadi wanita yang bertanggung jawab. Sama sekali tidak terlihat sombong dan menguasai." ucap Dirga dalam hati.


" Apa yang membuatmu menjadi wanita yang berbeda ?," tanya Dirga.


" Aku bukan wanita yang berbeda, aku tetaplah Indah, Isteri kedua yang kamu nikahi Mas." jawab Indah tersenyum datar.


" Kamu tahu maksudku !."


" Aku tetap wanita yang sama, aku hanya berusaha menjadi wanita yang berusaha untuk tidak egois." jawab Indah.

__ADS_1


" Apakah aku yang menyebabkan dirimu berubah ?."


" Kamu tahu dengan jelas apa yang menyebabkan aku harus beruban," jawab Indah memandang lurus ke depan berusaha untuk tidak mengingat apa yang dirasakan saat ia memiliki harapan yang sangat besar pada lelaki yang menjadi suaminya.


__ADS_2