
"Yang tolong dong!," kata Bram menunjuk potongan pizza dimeja.
"Ambil sendiri kenapa sih," ucap Laras sambil menyerahkan potongan pizza pada Bram.
Indah dan Dirga memperhatikan mereka, rasanya mereka seperti memiliki sepasang anak. Yang satu remaja putri dan yang satu lagi seorang putra yang beranjak dewasa.
"Bram, kamu masih tinggal di hotel atau sudah kembali ke apartemen?," tanya Dirga.
"Di apartemen Om. Karena lebih dekat ke kampus," jawab Bram.
"Hmm."
"Kenapa Om?."
"Tidak apa-apa. Setelah kuliah, apa rencana mu?."
"Tentu saja aku akan bekerja meneruskan perusahaan Papa."
" Berarti kalian akan melakukan hubungan jarak jauh?, karena saat kamu selesai kuliah, maka Laras baru masuk SMA."
"Mengapa Laras tidak sekolah di Singapura saja Om. Laras bisa tinggal bersama Mama dan Papa, kalau Om khawatir tentang dirinya."
"Kamu benar, tapi itu tergantung pada Laras. Bagaimana menurutmu ?," tanya Dirga pada Laras yang berada didepannya.
"Laras belum memikirkannya Pap, masih jauh."
"Tapi tidak salah kalau dipikirkan dari sekarang bukan?."
"Ya emang ga apa-apa sih Pap, tapi yang jadi masalah kan Aku belum mau memikirkannya."
"Ya sudahlah. Laras kamu sudah mengerjakan PR mu ?."
"PR udah selesai tapi yang ngerjain Ka Bram, bukannya aku."
"Kenapa bukannya kamu?."
__ADS_1
"Lagi males mikir Mam," jawab Laras membuat Indah geleng kepala.
Laras meninggalkan orang tuanya dan memilih untuk menonton tv diikuti oleh Bram.
Mereka masih menikmati makan pizza sambil berbincang saat Dirga menerima pesan dari Zenia.
"Ada apa?," tanya Indah ketika melihat wajah Dirga berubah.
"Zenia marah besar karena aku memblokir semua kartu bank miliknya?," jawab Dirga kalem.
"Mas Dirga memblokirnya?, kenapa?."
"Aku sudah mengatakan padanya kalau dalam waktu setengah jam dia tidak mengirim lampiran pembelian tiket ke Jakarta untuk sore tadi, maka aku akan membiarkan mereka kelaparan di sana, karena aku akan menutup keuangannya."
"Aku tidak mengerti, apakah ia tidak memiliki tabungan pribadi?."
"Zenia tidak pernah berpikir sampai ke sana, lalu bagaimana dengan Amora?."
"Amora dalam asuhannya dan dia sudah besar jadi dia bisa memilih dengan siapa dia akan tinggal, dan dia memutuskan untuk tinggal di Australia sendiri, karena untuk tinggal bersama neneknya pun dia tidak akan kerasan."
"Dia anak yang baik, dan ia selalu berusaha untuk mengingat kan Zenia bahwa yang dilakukan olehnya salah, tapi Zenia adalah wanita keras hati yang merasa dirinya wanita yang paling benar dan wanita yang tersakiti," jawab Dirga.
"Lalu apa yang akan Mas lakukan?."
"Biarkan dia menerima kebodohan dan keserakahan nya yang tidak pernah ada batasnya."
"Mas akan membiarkan Zenia tinggal di negara asing tanpa uang sepeserpun?."
"Tergantung apakah Dicky mau membantunya atau tidak."
"Dicky, siapa dia?."
"Lelaki yang dapat memuaskan kebutuhannya dan membuatnya tidak memiliki apa-apa, karena Dicky sudah tinggal bersamanya sudah sekian lama dan memberikan pria itu semua kemewahan yang seharusnya diterima Amora."
"Aku tidak mengira Zenia bisa melakukan tindakan serendah itu sebagai wanita."
__ADS_1
"Jujur aku turut bersalah, itulah sebabnya aku akan membebaskan dirinya dari perkawinan agar ia bisa berhubungan dengan pria lain tanpa harus melanggar ikatan perkawinan."
"Lalu Amora tidak menolak keinginan mu?."
"Ya, walaupun pada awalnya dia menolak. Tapi melihat Zenia lebih mementingkan Dicky dan juga penampilan fisiknya, Amora akhirnya bersikap tidak peduli."
"Aku tidak mengerti dengan penampilan fisiknya, apa artinya?."
"Kamu akan mengerti setelah bertemu dengannya. Bukankah terakhir kalian bertemu saat usia Laras baru 1 Minggu."
"Benar juga, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak itu."
"Bram, kamu akan bermalam disini atau di apartemen?," tanya Dirga.
"Di apartemen Om, ini aku sedang pesan taxi online," jawab Bram.
"Bram, kamu mau bawa makanan tidak?," tanya Indah.
"Ga usah Tante, nanti aku akan beli diluar saja," jawabnya.
"Yang, besok kamu bisa datang ke apartemen ga?," bisik Bram pada Laras.
"Mam, besok aku boleh ke apartemen Bram ga?," tanya Laras meneruskan pertanyaan Bram padanya.
"Tumben, ada apa Bram?," tanya Indah.
"Sebenarnya aku lupa membawa titipan Mama untuk Laras Tante, aku tadi kesini langsung dari kampus," jawab Bram.
"Bagaimana Laras akan berangkat ke sana?."
"Aku akan menjemputnya sepulang sekolah. Yang jam berapa kamu pulang sekolah?."
"Sekitar jam 1.30."
"Aku akan menjemput nya Tante."
__ADS_1
"Baiklah. Besok Laras boleh pergi ke apartemen mu."