Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 77


__ADS_3

Laras membawa Amora masuk ke dalam rumah sementara Bram mengikuti mereka dari belakang dan ia melihat Amora sangat berubah, tidak seperti yang dia kenal dulu. Sombong, angkuh dan selalu memandang rendah orang. Tidak ada kata-kata sopan yang keluar dari mulutnya kecuali kalimat yang merendahkan dan melecehkan orang yang tidak disukainya. Tetapi hari ini ia melihat wajah lelah, sedih dan tidak bersemangat. Tubuhnya yang tinggi memperlihatkan bahwa Amora sangat kurus meskipun bagi sebagian wanita tubuh seperti Amora adalah yang diinginkan karena dibilang tubuh model, tetapi untuk dirinya ia lebih suka dengan tubuh yang pas seperti tubuh Laras yang selalu membuatnya kangen karena Laras begitu seksi meskipun ia tidak pernah melihatnya secara langsung. Pikiran liar Bram membuatnya tertawa sehingga Laras segera menghentikan langkahnya untuk menoleh ke arah Bram yang berjalan dibelakangnya.


"Kenapa?" tanya Bram pada Laras yang melotot ke arahnya.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Laras menghampirinya.


"Karena sudah lama kita bertunangan tapi sekalipun aku belum pernah melihatmu pakai bikini," bisik Bram ditelinga Laras sehingga wajah nya sangat merah karena malu dan tiba-tiba ia merasa malu atas ucapan Bram yang memandang usil kearahnya.


Dan tiba-tiba saja dengan ke usilannya Bram tertawa keras dan langsung menyentuh bibir Laras dengan cepat sebelum gadis itu menyadarinya ia sudah berjalan mendahului mereka dengan Amora yang menatapnya geli.


"Bram jelek, awas ya kamu..." panggil Laras mengejar Bram meninggalkan Amora sendirian diluar dan ia baru akan melangkah ke dalam ketika dilihatnya Indah datang menghampirinya bersama dengan seorang anak lelaki yang baru berusia 3 tahun.


"Sayang, kenalkan Danish Sasono dan dia adalah adik lelaki kamu. Bagaimana ganteng tidak?" kata Indah mengenalkan Danish yang baru bangun tidur pada Amora.


"Halo Danish. Ganteng Tante," kata Amora tersenyum saat Danish mengulurkan tangannya mengajaknya untuk bersalaman.


"Laras kemana?" tanya Indah ketika dia tidak melihat Laras maupun Bram.


"Ga tau Tante. Sepertinya Laras mengejar Bram yang mencuri ciuman darinya," jawab Amora tertawa.


"Anak itu selalu saja seperti itu. Ayo Tante antar ke kamar kamu," kata Indah pada Amora.


"Mora, ini adalah kamar kamu saat kamu tinggal disini. Tante memang tidak memiliki kamar yang banyak karena saat tante membeli rumah ini, Tante tidak berharap lebih. Kamu mengerti maksud Tante bukan?"


"Ya Tante. Aku sangat menyukai rumah ini. Apakah Bram menginap di sini Tante?"


"Tidak. Dia mempunyai apartemen sendiri. Sementara kamar Laras dan Danish berada di lantai atas. Kamu bersihkan badan dulu, kami akan menunggu mu di meja makan. Oke!"


"Ya Tante." jawab Amora.


Setelah Indah menutup pintu kamarnya, Anora segera membuka tas dan mengambil baju ganti dan perlengkapan mandi sebelum ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Indah berjalan ke arah kamarnya setelah menidurkan kembali Danish yang masih mengantuk dan ia melihat Dirga sedang duduk seperti memikirkan sesuatu.


"Ada apa? Apa yang Papa pikirkan?" tanya Indah pada Dirga dan ia berdiri dibelakang suaminya dan ia memijat bahu Dirga dengan sedikit tekanan sehingga Dirga tersenyum dengan perlakuan isterinya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, kamu memang paling mengerti dengan kebutuhan ku," katanya tersenyum.


"Bagaimana kalau Papa mandi sekarang sementara Mama menyiapkan makan malam. Mama tadi sudah bilang sama Amora kalau sudah selesai mandi langsung keruang makan," beritahu Indah.


"Dimana laras?" tanya Dirga.


"Kata Amora lari mengejar Bram yang mencuri ciuman dari nya," jawab Indah tertawa begitu juga dengan Dirga.


"Mereka, mau di nikahkan lebih cepat tidak mungkin karena starus Laras yang masih siswi SMA tetapi Bram sepertinya sudah tidak sabar untuk menganggapnya sebagai wanita dewasa. Menurut Mama bagaimana?" tanya Dirga.


"Biarkan saja Laras dewasa dengan sendirinya. Dan biarkan juga Bram memberi pelajaran pada Bram bagaimana menjadi seorang wanita yang sudah bertunangan. Mama yakin Bram memiliki iman yang kuat dan akan menjaga kesucian Laras sampai mereka menikah. Memang Bram sudah lebih dewasa tetapi Mama yakin dengan sikap dewasanya dia akan mampu menjaga Laras dengan baik," jawab Indah memberikan handuk pada Dirga yang sudak melepaskan pakaian dan hanya mengenakan pakaian dalam.


"Yakin tidak mau mandi bersama?" tanya Dirga menawarkan diri dengan penuh semangat.


Indah tersenyum memandangnya sebelum mengangguk setuju untuk menemani suaminya mandi.


Amora keluar dari kamar dan tidak melihat siapapun di ruang makan, tetapi ia mendengar suara dari dapur sehingga ia langsung menuju dapur untuk melihat Laras dan Bram yang sedang masak dan mencuci piring.


"Halo Mora, kamu bisa bantu aku bawa in masakan yang sudah siap ke meja makan ga?" tanya Laras sementara Bram sedang mencuci perabotan yang digunakan Laras memasak.


"Aku tidak mengira dengan berada dirumah ini, aku merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sangat bahagia dan tidak memiliki beban atau keterpaksaan untuk melakukan sesuatu. Laras walaupun dia anak papa dan memiliki uang yang banyak tetapi sikapnya seperti anak kebanyakan. Bahkan dia ikut memasak dan dengan enaknya dia menyuruh pria yang sangat berkuasa seperti Bram membantunya mencuci piring," kata Amora dalam hati.


"Papa dan Tante kemana? kok belum kelihatan?" tanya Amora.


"Sebenatar lagi juga mereka keluar," jawab Laras yang tiba-tiba merasa aneh dengan panggilan Amora terhadap mama nya.


"Mora, mengapa kamu tidak memanggil mama dengan sebutan Mama Indah?" tanya Laras sementara Bram hanya mendengarkan saran Laras.


"Mama Indaj?" tanya Amora.


"Benar. Karena mama adalah mama kamu juga. Seperti aku memanggil Mama Zenia." jawab Amora.


"Benar, aku rasa lebih baik kamu memanggil dengan sebutan Mama Indah, rasanya lebih enak didengar daripada kamu memanggilnya dengan sebutan tante sementara beliau adalah mama kamu juga." saran Bram.


"Apakah Mama Indah tidak keberatan aku memanggilnya dengan sebutan tersebut?" tanya Amora dengan suara ragu-ragu.

__ADS_1


"Tentu saja Mama tidak keberatan karena kamu adalah anak mama juga, bukan orang lain," kata Indah dari arah belakang Amora.


"Benarkah Mana tidak keberatan?" tanya Amora.


"Tentu Mama tidak keberatan. Mama dan Papa ingin setiap kali kamu liburan, pulanglah ke rumah ini. Karena di sini kamu akan selalu diterima dengan baik. Kamu tidak perlu memikirkan apa kah diterima atau tidak bila kamu main ke sini. Karena kamu akan selalu diterima dengan baik karena kita semua adalah keluarga baik-baik. Kecuali kamu mempunyai niat untuk mencelakai kami. Itu baru tidak kami terima." kata Indah tertawa, ingat dengan sikap Amora pada Laras dulu.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2