
Setelah liburan dan dilanjutkan dengan pendaftaran sekolah kini Laras sudah menjadi siswi SMA dan bersama dengan Dinar ia diterima disekolah yang sama sementara Raisya disekolah yang lain.
"La, besok kamu berangkat sama siapa?," tanya Dinar saat mereka selesai melihat jadwal kegiatan siswa baru.
"Belum tahu, kalau sama mama kaya nya ga mungkin. Kenapa kamu mau bareng?, kalau mau pagi-pagi kamu kerumah aku aja."
"Kan kamu belum tahu diantar sama siapa?."
"Ya paling sama sopir Papa aku nanti dianter nya."
"Maksudnya nanti bareng sama Papa kamu?, malu ah."
"Engga, nanti kita dianter duluan, soalnya kalau bareng sama papa pasti kesiangan."
"Oh, gitu. Ya udah besok pagi-pagi aku kerumah ya, ditungguin kan?."
"Iya, asal jangan lewat jam 6 ya."
"Sip. Terus sekarang pulangnya naik apa?."
"Naik angkot aja. Kan kita berdua pecinta angkot sejati," jawab Laras tertawa dan Dinar pun akhirnya ikut tertawa.
Akhirnya angkot yang mereka tunggu pun datang, dan tanpa harus menunggu disuruh mereka berdua segera naik.
Didalam angkot yang menuju komplek perumahan tempat tinggal Laras dan Dinar, terlihat beberapa siswa dan siswi sekolah mereka yang sama-sama menggunakan jasa angkutan umum.
"Al, besok kamu ikut acara ospek kan?,"
"Iya," jawabnya sambil memperhatikan Laras dan Dinar sebagai siswi baru disekolah mereka.
"Ya tentu saja Almer ikut. Dia kan ketua panitia nya kamu bagaimana sih Met."
"Iya aku lupa," jawab Meta sambil tersenyum.
"Almer, kamu perhatiin apaan sih?, tanya Rayna.
"Hemm," hanya itu jawaban yang keluar dari siswa yang dipanggil Almer.
"Ooh, kamu perhatiin tuh cewek. Kaya nya dia anak baru disekolah kita deh," ucap Meta.
Meta adalah gadis cantik yang memiliki rambut panjang dan ia seringkali merasa tidak suka bila ada orang yang berusaha menarik perhatian orang yang disukainya. Sementara Rayna adalah gadis yang memiliki wajah ayu tapi ia seringkali terlihat marah-marah pada orang yang tidak disukainya.
"Kamu kelas berapa?," tanya Almer dengan sikap kalem.
"Aku?, aku kelas 7.9," jawab Dinar spontan karena ia yang berada didepan Almer.
"Yang nanya kamu siapa?, aku tanya cewek yang di samping kamu," kata Almer tajam hingga kedua teman wanitanya tertawa mengejek membuat Laras tidak suka.
__ADS_1
"Pak Sopir, stop disini ya Pak," kata Laras tiba-tiba dan ia menarik tangan Dinar untuk turun.
"Wah tuh anak cari masalah," kata Rayna tajam.
"Mungkin memang dia turun disitu." kata Meta.
"Besok jam berapa mulai ospek nya?," tanya Almer pada Meta.
"Jam 7.30. Kenapa?, kamu mau majuin?, sepertinya ga bisa soalnya ini sudah diketahui kepsek," kata Raina.
"Engga, aku hanya mau tau aja," jawab Almer, sepertinya ia sudah mempunyai rencana.
Sementara itu, Laras dan Dinar masih berada di minimarket untuk membeli sesuatu.
"Kamu kenapa kok turun disini sih?," tanya Dinar pada Laras saat mereka berdiri didepan kasir.
"Males ngeliat orang yang kaya gitu," jawab Laras.
"Maksud kamu kakak kelas kita?, tapi besok juga kita pasti ketemu kan?."
"Besok ya besok. Pokoknya hari ini ga banget. Kamu juga main jawab aja," tegur Laras pada Dinar yang hanya tersenyum.
"Ya secara dia kan Kaka kelas, terus pertanyaan nya ditujukan pada kita," jawab Dinar.
"Hem, bagus juga sih, kita jadi tahu seperti apa tuh cowok sifatnya. Udah yuk kita naik angkot lagi!," ajak Laras.
Laras dan Dinar naik angkot, dan baru sebentar Laras sudah turun didepan rumahnya sementara Dinar masih beberapa rumah lagi.
"Oke."
Laras membuka pintu pagar rumahnya dan ia mendengar suara tawa Danish adik kecilnya.
"Eh, itu Kaka Laras sudah pulang," sapa Indah saat Laras mencium tangannya.
Sejak Indah hamil tua sampai usia Danish kini memasuki 22 bulan Indah memutuskan untuk bekerja dirumah, dan ia baru berangkat ke kantor bila Desi membutuhkan bantuannya.
"Halo Sayang, Kaka ke kamar dulu ya," kata Laras pada adiknya.
"Laras, kamu telepon balik Bram ya, tadi dia telepon kerumah tapi kamu nya belum pulang."
"Iya Mam."
Dikamar Laras sudah berganti pakaian dan ia mengambil handphonenya untuk menghubungi Bram.
Sudah beberapa kali, Bram belum juga menjawab panggilan teleponnya dan Laras pun memutuskan untuk menemui Mama serta adiknya dan ia sengaja membawa handphone nya.
"Sudah menelepon Bram?," tanya Indah begitu Laras duduk disampingnya.
__ADS_1
"Ga diangkat. Mungkin masih sibuk," jawab Laras.
"Kamu makan dulu, nanti Mama minta tolong jaga Danish ya."
"Memangnya Mama mau kemana?,"
"Ga kemana-mana, nanti Tante Desi mau kesini bahas pekerjaan, makanya Mama minta kamu jagain Danish dulu, soalnya dia terlihat sudah mengantuk."
"Ooh, kira in Mama mau keluar. Mam, besok mulai ospek dan kita siswa baru ga boleh terlambat, besok Laras diantar siapa ya?."
"Kan nanti bisa diantar sama Pak Didi sebelum Papa berangkat kerja."
"Tapi Dinar besok mau bareng Mam."
"Iya, udah bilang sama Dinar kalau dia datang pagi-pagi kan?."
"Udah. Kamu makan dulu sana."
Laras baru saja bangun, ketika handphonenya berbunyi dan ternyata Bram yang melakukan Videocall.
"Halo Yang..., sedang apa?," tanya Bram dengan senyumnya yang tipis.
"Mau makan. Kamu sendiri sedang apa?."
"Baru selesai meeting. Maaf ya, tadi teleponnya ga diangkat."
"Iya, aku juga udah nebak gitu kok."
"Yang, aku kangen deh sama kamu?," rayu Bram dengan nada genit membuat Laras tertawa.
"Kangen apanya?, kangen mau narik rambut aku?."
"Tau aja. Yang kamu belum makan siang kan?, bagaimana kita makan sambil tetap seperti ini?, maksudnya tetap Videocall an."
"Boleh."
Lalu Laras meletakan handphonenya dimeja makan disandarkan pada gelas tinggi hingga mereka berdua tetap bisa berhubungan.
Tanpa mereka ketahui Desi sudah datang dan ia tertawa serta geleng kepala melihat tingkah keponakan serta tunangannya.
"Makan aja mesti bareng begitu. Memangnya wajib ya?," tanya Desi yang baru menyapa setelah memperhatikan mereka cukup lama.
"Eh Tante. Suka aja Tante biar aku tahu kalau dia beneran makan."
"Tante juga ga ngerti kenapa Laras susah sekali untuk makan. Non, Mama ada dimana?," tanya Desi pada Laras.
"Mama ada dikamar Tante, sepertinya Danish mau bobo deh."
__ADS_1
"Ya sudah, Tante temui Mama kamu dulu ya, Bram bujuk Laras supaya makannya banyak."
"Siap Tante," jawab Bram tertawa apalagi ketika melihat Laras yang cemberut.