Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 78


__ADS_3

Di Meja makan seperti biasa, Laras selalu di goda oleh Bram karena cara makannya yang sangat lama, sehingga di meja makan tidak pernah sepi bila Bram makan bersama dengan keluarga Sasono.


"La, orang-orang udah sampe bulan, kamu masih di meja makan, Kapan berangkatnya," goda Bram yang gemas melihat Laras yang belum juga menyelesaikan makannya sementara yang lainnya sudah selesai termasuk dengan Amora yang pada awalnya malu-malu.


"Bram bawel," kata Laras menanggapi godaan Bram. "Say, kamu belum makan ini kan? enak loh."


"Siapa bilang aku belum makan. Aku udah makan banyak kok. Ya kan Mam?" kata Bram tapi tangannya mengambil sendok dan memasukan sayur kedalam mulutnya membuat Laras tersenyum.


"Bram, biarkan Laras menyelesaikan makannya. Bukankah selama ini kamu selalu mengawasinya makan. Jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak menyelesaikan makanannya!" tegur Indah sementara yang lainnya hanya tersenyum.


"Mam, aku tadi ngambilnya kebanyakan." katanya dengan suara memohon.


"Tidak ada drama Laras. Cepat selesaikan atau malam ini tidak ada yougurt untukmu!" ancam Indah.


"Makanya kalau ngambil makanan itu sesuai kemampuan," kata Bram mengomel sambil menyendok nasi dipiring Laras begitu juga dengan Dirga yang mulai ikut menghabiskan makanan di piring Laras membuat Amora memandang heran.


"Karena ulah kalian berdua, kalian tidak akan mendapat buah. Dan kamu Laras jangan harap mama akan memberi kamu minuman kesukaan mu."


"Mam, kalau Laras di biarkan makan sendiri kapan selesainya. Sementara papa sudah ingin istirahat!" kata Dirga membela diri.

__ADS_1


"Benar Mam, kalau kita tidak membantunya, kapan aku pulang ke apartemen." sahut Bram dengan wajah tidak berdosa, sementara Laras begitu gembira tidak memperduliakan mama nya yang mengomel.


"Lihat Mam, piring aku bersih kan? Tidak ada tersisa makanan di piring ku," kata Laras dengan nada bangga sementara Bram dan Dirga hanya tersenyum.


"Memangnya Laras makannya sulit ya Mam?" tanya Amora pada Indah.


"Sangat sulit. Kalau tidak disuapin ga mungkin habis. Makanya dia lebih suka makan roti atau buah daripada harus makan nasi," jawab Indah yang mulai bangun untuk merapikan meja makan termasuk dengan Laras dan Bram.


Dengan wajah tidak enak, Amora ikut bangun dan membantu mereka, tetapi ketika Amora akan membantu mencuci piring Indah hanya menatapnya. Indah tidak mau menganggap Amora berbeda dengan Laras dan Bram dengan mendapat keistimewaan untuk merapikan meja makan, karena mereka adalah anak-anaknya dan memiliki tugas yang sama didalam rumah.


"Apakah kalian biasa melakukan ini bersama-sama?" tanya Amora yang mengelap piring yang sudah dicuci oleh Laras dan Bram dan meletakkannya di rak piring.


:Hm, ini memang kebiasaan yang selalu kami lakukan sehabis makan. Agar semuanya kembali bersih," jawab Laras dan ia melihat Amora seperti tidak terbiasa dengan pekerjaan dapur.


"Sejak awal Mama hanya memakai jasa bersih-bersih dan cuci setrika saja, karena kami masih bisa melakukannya. Pokoknya apa yang bisa dilakukan, akan kami lakukan," jawab Laras.


"Masakan yang tadi kita makan, siapa yang memasaknya? apakah kamu yang memasaknya?" tanya Amora lagi.


"Yang memasaknya yang berdiri di sampingku karena dia adalah koki terbaik, Bener ga say?" kata Laras sambil menyenggol Bram dengan pinggulnya.

__ADS_1


"Diam Yank, kalau ga mau aku balas!" ancam Bram membuat Laras tertawa.


"Kamu bisa masak Mor?" tanya Bram.


"Tidak. Aku tidak bisa. Kamu sendiri apakah bisa memasak La?"


"Lumayan. Makanya kalau ada yang bertanya padaku apa yang akan aku lakukan setelah dewasa maka aku akan menjawab akan menjadi seorang pemilik hotel sekaligus sebagai koki  khusus makanan penutup," jawab Laras.


"Benarkah? aku tidak mengira kamu memiliki keahlian untuk memasak. Lalu apakah kamu akan sekolah khusus boga?"


"Itu mau aku. Tapi mereka tidak setuju. Termasuk dengan Bram. Dia juga tidak setuju," jawab Laras tiba-tiba sedih.


"Kamu sendiri setelah lulus SMA, mau lanjut kemana?" tanya Laras pada Amora.


"Aku ingin bekerja sebagai Dokter hewan. Selama tinggal di Australia bersama dengan kakek dan nenek ku yang seorang peternak sapi. Maka aku sepertinya menginginkan pekerjaan seperti itu. Rasanya sangat menantang karena harus berhadapan dengan binatang dari yang kecil sampai dengan yan besar. Sepertinya sangat seru," jawab Amora membuat Laras menatapnya terkejut.


"Benarkah? Aku tidak pernah bisa membayangkan untuk menjadi seorang dokter hewan. Mungkin karena seumur hidupku aku belum berhadapan langsung dengannya. Apakah kamu sering menyaksikan saat mereka bekerja?"


"Iya. Aku selalu membantu nya dan rasanya seperti memiliki tantangan tersendiri," sahut Amora tertawa. Suara tawa yang tidak pernah keluar dari mulutnya sejak ia mendengar Zenia masuk rumah sakit dan ternyata hanya kebohongan semata.

__ADS_1


 


 


__ADS_2