Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 51.


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Didi tersendat, karena padatnya lalu lintas.


"Sekolahnya yang didepan itu ya Kak?," tanya Didi pada Laras.


"Iya Pak."


Didi segera mengambil jalur kiri agar memudahkan saat Laras dan Dinar turun nanti. Sebelumnya Didi memanggil Laras dengan sebutan Nona, tetapi oleh Indah diminta memanggilnya dengan Kakak saja, karena sebutan Nona menurut Indah akan membuat Laras canggung.


Sebelum Didi menghentikan mobilnya terdengar nada panggilan pada handphone nya dan terlihat Bram menghubungi nya melalui Videocall.


"Siapa La?," tanya Dinar ketika dilihatnya Laras tersenyum.


"Mau tau?, ntar aku kenalin," ucap Laras.


"Halo Yang, udah sampai disekolah?," tanya Bram begitu terhubung.


"Ya, ini baru mau turun dari mobil," jawab Laras.


"Diantar siapa?, Mama atau Pak Didi?."


"Pak Didi, eh Say aku aku barang sama temen SMP ku yang diterima disekolah ini. Namanya Dinar. Dia penasaran sama kamu nih," beritahu Laras dan ia menjauhkan handphonenya agar Bram bisa melihat mereka berdua.


"Halo Dinar, salam kenal," sapa Bram sok akrab membuat Laras mencibir.


"Eh, halo kak, salam kenal juga," jawab Dinar gugup.


Bram yang mendengar sapaan Dinar tertawa membuat Laras kesal.


"Apa juga yang lucu," omelnya.


"Yang, Dinar aja manggil aku itu Kak, lah kamu?."


"Oh, jadi maunya dipanggil Kak, biar kelihatan kamu lebih tua gitu?, ya udah aku batalin deh manggil Say nya, diganti sama Kak aja," goda Laras membuat Bram terkejut.


"Eh, serius tadi kamu manggil aku Say,Yang?," tanya Bram dengan wajah kaget.


"Tau ah. Aku udah keluar dari mobil nih. Ada apa tumben pagi-pagi telepon."


"Aku mau bilang, hari ini aku mau berangkat ke Jepang. Akhir pekan bisa nyusul ga Yang, kan Senin libur?."


"Engga ah, takut kamu khilaf," jawab Laras.

__ADS_1


"Astaga, woi kalau mau khilaf mah udah dari kemarin kali. Ya udah kalau ga bisa, setiap aku Videocall kamu harus jawab ya?."


"Iya, ini aja udah disekolah aku masih jawab kok."


"Oke deh. Aku berangkat dulu ya, ingat kalau ada yang jahat sama kamu lapor ke pihak sekolah."


"Iya, pesan kamu sama seperti pesan Papa tahu."


"Ya iyalah, kita berdua kan lelaki yang mencintai dan menyayangi wanita yang sama," rayu Bram membuat Laras dan Dinar tertawa.


"Udah ah, Dinar tertawa tuh denger rayuan kamu," kata Laras.


"Ya udah, nanti malam aku hubungi kamu lagi ya, Bye."


"Bye."


Laras kembali memasukkan handphonenya kedalam tas dan ia melihat Dinar menatapnya heran.


"Gila, tuh cowok keren banget, siapa La?, cowok kamu?, kayanya udah akrab banget." tanya Dinar.


"He eh. Ganteng ya?."


"Udah. Dia kerja di perusahaan keluarganya."


"Ooh, ketemu dimana La?, secara kamu kan jarang keluar kecuali sama orang tua kamu?," tanya Dinar.


"Ketemunya sih dirumah aku. Dia putra dari rekan bisnis papa ku," jawab Laras.


"Asik dong, eh ternyata udah banyak yang dateng juga ya?," kata Dinar ketika mereka berada dihalaman sekolah.


"Kamu mau langsung masuk kelas atau nanti aja?," tanya Dinar pada Laras.


"Langsung aja lah, males aku bawa-bawa tas kaya gini."


"Sama. Untung kita satu kelas ya, jadi ga asing banget," kata Dinar.


"He eh."


Mereka berdua segera memasuki kelas dan melihat tempat duduk masih banyak yang kosong, mungkin mereka belum semua tiba karena terkena macet yang membuat mereka terlambat.


"Kamu mau semeja denganku atau sama yang lain?," tanya Laras.

__ADS_1


Karena masih banyak yang kosong dan belum ada pemiliknya, Laras memutuskan untuko duduk di bagian tengah.


"Pisah aja, aku lebih suka di bagian pinggir," kata Dinar.


"Kamu ga bosen apa pinggir terus?."


"Engga, enak lagi?," jawab Dinar tertawa.


Mereka sudah menyimpan tas di laci meja ketika seorang murid masuk kedalam kelas dan berpesan pada mereka yang berada didalam.


"Selamat pagi. Hari ini kita akan memulai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, jadi tolong siapkan 2 orang untuk perwakilan penanggung jawab kelas kalian, dan namanya berikan ke panitia sebelum acara dimulai!," katanya dengan suara yang cukup keras.


"Siap Kak." jawab mereka semua.


Salah seorang dari mereka melangkah keluar kelas dan mengambil daftar nama siswa kelas mereka.


"Wooi, berhubung kita semua belum saling kenal, gimana kalau kita pilih berdasarkan absensi nama yang ada disini. Yang paling banyak dipilih, maka dia yang menjadi perwakilan kelas kita?," katanya pada mereka semua.


"Mau tanya, kamu namanya siapa?," tanya seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh dari Dinar.


"Rahasia," jawabnya .


Dengan tersenyum ia memberi garis pada salah satu nama pada kertas absensi. Satu persatu mereka yang sudah datang maju ke depan untuk memberi tanda pada absensi hingga tiba giliran Dinar dan Laras.


"Hey, ga boleh berdua gitu, gantian," tegur murid yang pertama.


"Halah ribet banget sih," ucap Laras kesal.


Dan ia terkejut ketika berada didepan dan melihat namanya banyak sekali terdapat coretan.


"Eh, gimana bisa?, aku ga bisa ah?," kata Laras mengajukan keberatan


"Kenapa?, memangnya nama situ yang kepilih?,"


"Iya nih, namaku yang paling banyak coretan," ucap Laras.


"Ya udah, kan seperti yang aku bilang tadi, diantara kita belum saling kenal. Jadi kita pilih yang menurut kita baik aja."


"Baik darimana?, kalau aku bikin hancur kelas gimana?," tanyanya lagi.


"Resiko."

__ADS_1


__ADS_2