
Kedua keluarga saling berbincang dan menikmati makan siang.
" Apakah kalian tahu, betapa bahagianya Papa ketika mendengar cucu lelaki Papa berjanji didepan seorang wanita disaksikan oleh orang tuanya akan menikahi wanita yang baru pertama ditemuinya . Papa sangat terkejut benarkah Bram, cucu Papa yang tidak perduli dan selalu menganggap wanita sebagai temannya mengucapkan janji tersebut. Buat kami, suatu kewajiban seorang pria muda mempunyai seorang calon pendamping, karena wanita itu harus belajar mengerti kesibukan dari pria yang akan menjadi suaminya kelak. Kami tidak ingin Bram berhubungan dalam waktu singkat dengan seorang wanita dan langsung menikahinya. Kami tidak menginginkan pernikahan yang dilakukan secara mendadak tanpa mengenal lebih jauh pribadi dan juga keluarga calon istrinya. Maaf Dirga, kami sudah mengenalmu bahkan sejak dirimu masih kuliah bersama dengan Rizal. Itulah sebabnya Papa menyetujui wanita yang akan dinikahi oleh Bram, meskipun kami tidak mengira bahwa Laras baru berusia 12 tahun, masih sangat belia. Tetapi kembali ke awal Papa menyetujuinya karena mereka akan saling mengenal dan mengerti satu sama lain karena memiliki waktu yang panjang sebelum menuju ke pernikahan." ujar Kakek Rashid panjang lebar.
" Ya Pa. Terus terang kami juga tidak mengira Bram bisa berjanji seperti itu, bagaimana pun putri kami masih kecil, jadi mereka berdua bisa memiliki waktu lama untuk saling mengenal," kata Dirga menanggapi ucapan Rashid.
" Ya, walaupun aku yakin lebih banyak waktu yang dihabiskan oleh mereka untuk saling meledek dan berdebat tentang hal yang tidak penting sama sekali. Lihatlah, apa yang diperdebatkan mereka berdua hingga Bram terlihat begitu menyesal," ucap Rizal memperhatikan putranya yang seperti sedang membujuk Laras.
" Mungkin itu cara mereka untuk saling mengenal," ucap Syafira tertawa.
Bram sangat menyesal telah menyebabkan gadis didepannya seperti akan menangis.
Sebelumnya Bram menggoda Laras yang lebih memilih memakan soup cream dan roti dibandingkan makan nasi seperti yang lainnya.
" Hey, cewek galak, inget ya kalau nanti kamu jadi isteri aku, kamu harus makan nasi, karena aku tidak akan menyediakan makanan yang lainnya."
" Dasar pelit. Suka-suka akulah mau makan apa ?, memangnya yang punya mulut itu kamu, yang punya perut itu kamu. Aku bisa kok beli sendiri ."
__ADS_1
" Masa, memang nya nanti kamu mau bekerja ?."
" Ya iya lah, aku ga akan mengandalkan kamu, walaupun kamu sangat kaya."
" Oh ya ?, serius ?, tidak akan mengandalkan aku ?,"
" Serius. Aku tidak akan bergantung pada seorang lelaki untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."
" Sungguh ?, bukankah kamu sangat bahagia ketika aku mengatakan akan menikahi mu."
" Maksud kamu apa sih ?, aku ga ngerti. Asal kamu tahu, aku tidak pernah memikirkan untuk menjadi istrimu. Kalau kamu ga suka dan nyesel sana bilang sama Papa kamu." ucap Laras marah.
" Hey hey aku itu punya nama, kalau itu kemauan mu, aku akan katakan pada mereka bahwa kamu tidak menginginkan pertunangan ini." kata Laras dan ia bermaksud untuk bicara pada orang tua mereka , tetapi Bram segera mencegahnya.
" Ngapain kamu melarang ku ?, bukankah itu kemauan kamu ?,"
" Laras, aku minta maaf. Bukan maksudku berbicara seperti itu. Aku hanya menggoda mu, sungguh ," katanya menyesal.
__ADS_1
" Kalau kamu mau menggoda, bukan seperti itu caranya. Aku sama sekali tidak suka sama cara kamu."
" Iya, aku tidak akan melakukan nya lagi. Jangan marah ya ?, bagaimana kalau aku mengajakmu ke suatu tempat ?," bujuk Bram.
" Gak, Aku ga mau. Memangnya aku anak balita. Pergi aja sendiri." ucap Laras dan ia berjalan cepat kearah orang tua mereka berada.
Merasa tidak ada yang dapat dilakukan bila Laras pergi, akhirnya ia mengikuti gadis itu dengan berjalan dibelakangnya.
" Kamu takut aku mengadu bukan ?," ledek Laras membuat Bram gemas dan menarik rambut panjang gadis didepannya itu.
"Awh sakit. Awas kamu.." kata Laras dan ia mengejar Bram yang lari menghindar.
" Aku tidak mengira Bram mempunyai sikap jahil seperti itu." ucap Rizal tertawa.
" Ya. Papa juga tidak menduganya. Mungkin karena sikap Laras yang kekanakan hingga tanpa disadari Bram mengimbanginya."
" Benar. Laras memang terkadang masih bersikap kekanak-kanakan." ucap Indah merasa tidak enak hati melihat sikap putrinya .
__ADS_1
" Aku justru menyukai putri kalian, sikapnya sesuai dengan usianya tidak dibuat-buat. Dan Bram sepertinya sama denganku, menyukai sikap apa adanya dari seorang anak perempuan yang baru memasuki masa remaja." ujar Syafira tertawa kecil.