
Di teras depan yang menghadap jalan Laras dan Bram menanti kedatangan Dirga dan Indah yang akan datang bersama dengan Amora sementara Danish sudah tidur dan dijaga oleh pengasuhnya.
"Amora ikut bersama papa dan mama ya?" tanya Bram sambil melirik Laras yang asik dengan hanphone nya.
"He eh. Kamu tahu ga say, aku dekat dengan Amora itu setelah dia lulus sekolah dan kami berhubungan melalui telepon," kata Laras.
"Masa sih? bukannya kalian bersaudara?" tanya Bram seolah tidak mengetahui hubungan mereka.
"Yakin kamu ga tahu?" tanya Laras dengan nada menggoda.
"Tahu sih. Tapi memang Amora kakak kamu kan?"
"Ya memang Amora kakak aku dan kau tahu kan kalau dia cantik dan baru putus dari kekasihnya?" kata Laras memancing reaksi Bram.
"Memangnya masalah kalau dia ga punya pacar?" tanya Bram tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti.
"Buat aku sih ga masalah. Mungkin buat kamu? bukankah kamu tahu kalau dia cantik?" tanya Laras lagi membuat Bram tertawa.
"Kamu cemburu ya? akhirnya aku mengetahui juga kalau tunangan ku bisa cemburu. Kamu tahu ga Yank kalau cemburu itu tandanya apa? itu sama dengan artinya kalau kamu suka sama aku, sayang sama aku, mencintai dan ga mau ditinggalin aku. Benar ga?" goda Bram tertawa.
"Tahu ah, aku ngomong apa kamu jawab apa," kata Laras cemberut.
"Iya aku tahu kok kalau Amora itu cantik dan lebih cantik dari kamu. Tapi aku ga mau yang berlebihan karena sesuatu yang berlebihan rasanya akan kurang enak, kurang sedap dan kurang segalanya-galanya. Karena aku suka dengan wanita yang memiliki kecantikan secara pas. Pas dilihat lagi senyum, terus pas dilihat lagi sedang tertawa, eh pas dilihat lagi sedang nangis dan dilihat lagi..lagi minta di cium," goda Bram sehingga wajah Laras memerah dengan kata-kata yang diucapkan oleh pria yang duduk di sampinnya.
"Kamu selalu deh kaya gitu," kata Laras merajuk sehingga Bram segera menggenggam tangannya.
"Yank terakhir aku bertemu dengannya yaitu sebelum aku bertemu dengan mu. Sejak awal aku tidak menyukainya dan hanya menganggapnya sebagai adik, tidak lebih. Tapi aku tidak tahu mengapa ketika bertemu dengan mu, aku merasa lain. Dengan sikap mu yang manja dan galak membuatku ingin dekat denganmu dan aku tidak tahu mengapa aku mengatakan bahwa aku akan menikah dengan mu. Mungkin aku memang jatuh cinta padamu pada pandangan pertama." kata Bram menjelaskan tentang kedelatan dirinya dengan Amora yang tidak memiliki arti apa-apa.
__ADS_1
"Sungguh kamu tidak menyukainya meskipun dia cantik?" tanya Laras masih berusaha memastikan perasaan Bram pada Amora.
"Sungguh. Aku menyukai kalau kamu cemburu bila aku dekat dengan wanita lain, tetapi ada kalanya seorang pria merasa terganggu bila wanita yang dicintainya tidak memiliki kepercayaan pada pasangannya, bukan hanya pada kekasihnya tetapi juga tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa dia mampu meenjadi wanita satu-satunya dalam hidup pria yang menjadi kekasihnya," kata Bram dengan suara kalem.
"Dengan kata lain, kamu tidak menyukai diriku kalau aku tidak percaya padamu?" tanya Laras dengan tatapan yang curiga.
"Apakah kamu suka kalau aku selalu curiga dengan teman-teman pria yang dekat dengan mu sementara aku tahu sebagian besar teman mu adalah lelaki. Apakah kamu suka kalau aku melarangmu bergaul bersama mereka lalu apakah kamu tidak merasa terikat dan tidak bebas dalam pergaulan? sangat tidak menyenangkan bukan kalau apa yang kita lakukan tidak mendapat kepercayaan dari kekasihnya."
"Aku minta maad kalau kata-kataku sudah menyinggung mu," kata Laras menyesal.
"Aku tahu. Yank, kamu bisa pijat bahu aku ga? rasanya aku masuk angin. Ga enak banget," kata Bram sambil memukul-mukul bahunya.
"Oke. Sini duduk didepan aku!" katanya sambil menunjuk tempat didepannya.
Bram segera pindah duduknya lalu ia duduk di lantai di depan Laras yang duduk di kursi kecil milik Danish sehingga Laras bisa dengan mudah mengurut bahunya.
"Halo Bram, sudah lama?" tanya Indah pada Bram sementara Dirga masih berbicara dengan Amora di dalam mobil.
"Sudah sejak siang Tante," jawab Bram tertawa.
"Kamu ditelepon Laras atau sengaja datang kesini?" goda Indah pada mereka.
"Ditelepon Tante, katanya takut dirumah ga ada Om sama tante," katanya tertawa dan langsung mendapat pukulan ringan di pundaknya.
"Sembarangan," omel Laras membuat Indah tertawa.
"Danish dimana Kak?"
__ADS_1
"Sudah tidur Mam. Di jaga sama Mba," jawabnya.
"Oh gitu, ya udah Mama ke dalam dulu ya, nanti bawa Amora ke kamarnya. Kamu sudah siapkan bukan?"
"Sudah Mam, Mama ga usah khawatir semuanya sudah rapi kok," jawab Laras.
Sementara itu Amora menahan lengan Dirga agar jangan turun dulu.
"Aku tidak tahu, ternyata rumah Tante Indah sangat menarik. Apa papa tahu kalau aku sering merasa kangen dan ingin memiliki keluarga secara utuh," kata nya dengan suara pelan.
"Benarkah? kalau begitu kamu bisa memanggil tante Indah dengan sebutan Mama. Papa rasa tidak akan ada yang keberatan. Ayo kita turun sepertinya Bram ada dirumah," kata Dirga pada Amora.
"Bram? maksud Papa Bram Wiguna tunangannya Laras?" tanya Amora.
"Benar. Kamu sudah mengenalnya bukan?" tanya Dirga sambil membuka pintu.
"Ya tapi tidak terlalu. Apakah mereka akan segera menikah?" tanya Amora ingin tahu.
"Bram ingin secepatnya, tetapi Laras maunya nunggu sampai lulus sekolah," jawab Dirga.
Dirga dan Amora keluar dari mobil dan mereka berjalan ke arah Laras dan Bram yang menunggu meeka di teras.
"Halo Amora, aku sangat suka kamu mampir kesini," kata Laras sambil memeluk Amora yang membalasnya dengan erat.
"Aku juga senang sekali akhirnya aku bisa mampir kesini. Terima kasih sudah membantuku selama ini," katanya dengan senyum terima kasih.
"Sama-sama. Ayo masuk ke dalam. Oh iya, kamu sudah kenal Bram bukan?" kata Laras ingat dengan Bram yang berdiri disampingnya.
__ADS_1
"Halo Bram. Senang bertemu dengan mu." sapanya ramah.