
Semua mata tertuju pada pasangan Laras dan Bram ketika mereka berdiri di apit kedua orang tua mereka.
Hari ini bukan resepsi pernikahan karena usia Laras belum cukup tetapi kedua keluarga sepakat untuk mengumumkan bahwa mereka sebagai pasangan yang sudah terikat satu sama
lain.
Begitu banyak ucapan selamat serta pujian yang diberikan kepada Laras dan Bram sampai Laras begitu capek karena dia terus-terusan dipaksa tersenyum walaupun jauh di dalam hatinya dia meringis.
Cukup lama mereka berdiri berdampingan sampai Laras berpamitan menuju toilet. Di bawah godaan semua orang, Bram yang semula mengantar Laras terpaksa hanya menunggunya di luar karena sangat tidak mungkin
dia menemani Laras sampai ke dalam.
Perasaan lega tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata saat Laras keluar dari dalam bilik kamar mandi dan dia melihat seorang wanita yang sedang berdiri di depan cermin sedang melakukan touch up.
"Sudah merasa hebat, Heh!"
Laras menoleh ke kiri dan kanan memastikan teguran tersebut
ditujukan padanya atau bukan tetapi di dalam toilet hanya ada mereka berdua,
jadi sudah dapat dipastikan teguran wanita itu ditujukan padanya.
“Bicara denganku?” tanyanya.
“Apakah ada yang lainnya?” ejek wanita tersebut.
“Aku memang tidak melihat ada orang lain, tetapi aku tidak tahu apa kau terbiasa bicara sendiri atau tidak. Atau apakah kita saling kenal?”
Wanita itu dengan cepat bergerak menghadap Laras membuat Laras yang sedang mencuci tangan hanya meliriknya sesaat.
“Mengenalmu? Siapa kau sampai aku harus mengenalmu!” kata wanita itu sinis.
“Kalau begitu kita sama. Aku tidak mengenalmu. Permisi!”
Laras berbalik dan berniat keluar dari toilet saat tangan wanita itu mencekal lengannya keras.
“Lepaskan!” kata Laras tajam.
“Bagaimana kalau aku tidak mau? Kau mau teriak agar semua orang tahu? Atau, kau mau memanggil tunanganmu? Asal kau tahu seandainya Bram datang-pun, dia tidak akan membelamu. Kau tahu kenapa? Karena dia adalah
milikku. Kami sudah bersama sekian lama. Dia bersama denganmu karena permintaan orang tuanya. Tidak lebih!”
“Kau pikir aku peduli? Tapi kalau kau tidak lepaskan tanganku, maka aku pastikan kau akan menyesal,” ancam Laras.
“Oh ya. Memangnya kau bisa apa?”
“Kau lihat kamera di sana? Kau tidak akan bisa memutarbalikkan keadaan seperti cerita-cerita yang kau tonton. Dan apa yang akan aku lakukan adalah bentuk membela diri,” ujar Laras tersenyum.
Sengaja Laras membelakangi kamera cctv saat dia memutar tangan wanita yang sedang mencengkram lengannya. Tanpa meninggalkan jejak seperti yang terjadi pada lengannya, Laras melakukan seperti yang dia pelajari
__ADS_1
untuk membela diri.
“Kau!”
Laras berhasil melepaskan tangannya dan yang terlihat di kamera adalah wanita di depannya mendorongnya dengan keras hingga Laras yang
berusaha mencari pegangan dengan sengaja meraih baju wanita tersebut hingga terjadi kerusakan yang sangat fatal.
“Kurang ajar. Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja! Aku
pastikan Bram akan meninggalkanmu bahkan sebelum acara ini selesai!”
“Oh yah? Aku jadi ingin tahu apa yang bisa kau lakukan saat itu. Apa keluargaku dan keluarganya akan membiarkan begitu saja ketika seorang
wanita kasar dan tidak punya aturan melukai tanganku? Kau yakin Bram akan
memilihmu dan melakukan seperti yang kau katakana? Jangan mimpi, Nyonya!”
Wajah wanita itu sangat merah mengalahkan warna bibirnya.
Mungkin kalau dia tidak diingatkan soal kamera cctv, dia mungkin sudah
melayangkan tangannya ke arah Laras. Tetapi Laras dengan senyum mengejeknya
memperlihatkan pergelangan tangannya yang mendapatkan tanda dari kuku wanita tersebut.
“Dengan ini saja, aku yakin hidupmu tidak akan nyaman, Nyonya!”
“Memang bukan. Bagiku kau seperti nyonya jaman kegelapan. Tidak bisa melihat dimana seharusnya berdiri dan berkaca!”
Setelah itu Laras langsung meninggalkan wanita tersebut
setelah memastikan bahwa wanita tersebut tidak akan melakukan tindakan yang akan mengancam nyawanya.
Banyak pertanyaan yang ingin Laras tanyakan pada Bram tetapi begitu dia membuka pintu, Bram tidak ada padahal dia sudah berjanji akan menunggunya.
“Kemana dia?” tanya Laras dalam hati.
“Kenapa? Kau berpikir bisa melihat Bram menunggumu? Kenapa tidak berpikir kalau Bram yang mengirimku untuk menemuimu?”
Laras tidak mau terpengaruh ucapan yang beracun tersebut sehingga Laras segera mengeluarkan ponselnya lalu dia melakukan swafoto bersama wanita itu sebelum dia sempat mengelak.
“Hapus foto itu!”
“Kenapa? Bukankah tadi kau sudah mengatakan bahwa Bram akan
meninggalkan aku bahkan sebelum acara ini selesai?”
Tidak peduli dengan kemarahan wanita yang sama sekali tidak mengenalkan dirinya, Laras pergi dan dia melihat Bram sedang berbincang dengan
__ADS_1
teman-temannya.
“Eh, Say, Udah selesai. Maaf, aku tadi bertemu dengan teman-temanku. Kau tidak marah, kan?”
“Mana mungkin aku marah. Oh iya, aku tadi bertemu dengan wanita yang sangat menarik sampai aku membujuknya foto bersama. Lihat,
cantikkan?”
Laras sengaja memperlihatkan foto tersebut pada Bram yang sedang bersama dengan teman-temannya sekaligus memperhatikan apakah ada
perubahan yang terjadi pada mereka semua.
Namun, keinginan Laras melihat wajah terkejut Bram sia-sia. Dia justru mendengar suara tawa yang seperti biasa dia dengar.
“Kamu foto sama siapa, Say?” tanya Bram geli.
“Gak tau. Tiba-tiba aja aku tertarik melihatnya,” jawab Laras santai.
Suara Laras yang santai membuat 2 orang temannya Bram tertawa membuat Laras terkejut begitu juga dengan Bram.
“Kamu beneran lupa sama dia, Bram? Aku mungkin tidak akan ingat dengannya kalau tidak melihat tanda yang ada di telinganya,” kata salah satu temannya Bram.
“Memangnya kamu tahu siapa dia?”
“Tentu saja aku tahu. Kau lupa dengan Halimah? Dia adalah wanita yang selalu berharap jadi kekasihmu.”
“Halimah? Kenapa aku tidak ingat dia, ya.”
Bram seperti berpikir dan tidak menemukan jawabannya dan lebih memilih bertanya pada Laras alasan dia memperlihatkan foto tersebut.
“Sebenarnya tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya tertarik karena dia sangat membenciku,” jawab Laras sembari memperlihatkan luka ditangannya.
“Halimah yang melakukannya? Aku ingatkan agar kau menjauh darinya, Laras. Dia wanita gila dan sudah banyak wanita yang jadi korbannya. Biasanya dia menyerang setiap wanita yang dekat dengan Bram.”
“Yang dekat dengan Bram? Tapi kenapa Bram tidak bisa mengenalinya?”
Laras tidak peduli dirinya dikatakan nyinyir dan dia memanfaatkan usianya yang muda. Laras yakin teman-temannya Bram akan menilainya
sebagai tindakan gadis yang tidak bisa berpikir panjang lebar sebelum bertindak.
“Apa yang sebenarnya Laras pikirkan. Apakah dia menuduhku dan tidak percaya bahwa aku tidak kenal dengannya?” tanya Bram dalam hati.
“Permisi, aku rasa kami harus pergi,” kata Bram dengan sebelah tangan merangkul pinggang Laras.
Laras melambaikan tangan pada teman Bram dan dia hanya mengikuti kemana Bram membawanya sementara matanya sempat melihat orang tuanya masih berbincang dengan keluarganya Bram.
“Yank, sebenarnya kamu mau bawa aku kemana, sih,” tanya Laras ketika Bram membawanya masuk ke dalam lift.
“Aku ingin bertanya padamu tetapi aku tidak mau semua orang mendengarnya,” jawab Bram tenang.
__ADS_1
“Kalau hanya bertanya kenapa harus meninggalkan acara? Aku tadi sempat lihat mamaku menatapku dan aku yakin sebentar lagi mama pasti datang. Kau pasti tahu kalau kita belum menjadi pasangan yang sah secara hukum.”
Suara umpatan terdengar dari mulut Bram membuat Laras terkejut. Selama dia mengenal Bram, Laras belum pernah mendengar Bram mengumpat dengan kasar. Dalam hati Laras berpikir apakah ucapan wanita yang katanya bernama Halimah benar adanya?