
Bram melepaskan sepatu yang dikenakan Laras dan melihat bagian tumitnya. Dengan suara yang terdengar kesal dia menegur tunangannya.
“Kamu. Memangnya ga terasa apa? Lihat lecet seperti ini.”
“Yey … Kalau ga terasa ga mungkin minta berhenti say,” jawab Laras meringis.
Listy dan Lauren memperhatikan Bram yang begitu sabar melepaskan sepatu yang dikenakan Laras
dan mereka tidak rela kalau pria yang menjadi pujaan mereka di miliki oleh wanita lain. Apalagi yang bukan dari negara mereka.
“Aku tidak mengerti kamu kok bisa sesabar itu sih Bram? Apalagi mau membantu melepas sepatu dari wanita yang tidak penting itu,” kata Lauren dengan sinis.
“Kalau begitu kamu belum mengenalku. Aku adalah seorang lelaki yang sabar. Sangat sabar menunggu wanita terbaik yang akan menjadi permaisuri di istana ku,” jawab Bram dengan tatapan memuja yang di tujukan pada Laras.
“Aku percaya kok. Kalau ga sabar, kita mungkin sudah menikah sejak lama ya,” kata Laras tersenyum.
Listy dan Lauren tidak percaya mendengar ucapan Laras. Dengan suara terkejut dia mengutarakan sikap tidak setujunya.
“Apa? Kalian akan menikah? Kamu yakin Bram? Menikah dengan wanita ini? Apa kamu tahu siapa dia?”
“Tentu saja aku tahu. Dan kami sudah bertunangan sejak lama. Dan … Kenapa aku harus menjawab pertanyaan kalian yang sama sekali tidak mempunyai kepentingan.”
Bram menoleh ke arah 2 orang wanita yang matanya terlihat marah dan tidak terima karena Bram memberikan perhatian lebih pada Laras.
“Aku … Maksud ku ….”
“Pergilah. Ini adalah acara kami. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu!”
Dengan wajah marah dipenuhi kebencian, kedua wanita itu meninggalkan Bram dan Laras.
__ADS_1
Melihat kedua wanita itu pergi, Laras tertawa dan senyum-senyum membuat Bram heran sekaligus gemas.
“Kenapa Yank? Kamu kok malah tersenyum seperti itu sih?
Padahal mereka sudah bicara buruk tentang kamu.”
“Gimana ga tersenyum. Ternyata tunangan aku adalah seorang laki-laki yang menjadi idola para wanita.”
“Maksudnya? Aku bukan lelaki yang pantas untuk menjadi idola? Begitu?” tanya Bram menganggkat sebelah alisnya.
“Bukan begitu. Buat aku aneh aja. Kamu yang seorang idola malah memilih aku sebagai tunangan kamu,” katanya tertawa geli.
Bram segera membungkuk untuk menatap wajah Laras langsung dan memegang dagu gadis itu membuat Laras terdiam.
“Aku tidak pernah menganggap diriku sebagai idola ataupun pujaan para wanita. Saat aku memilihmu sebagai tunanganku karena aku menyukaimu,” Kata Bram. “Walaupun harus aku akui pada awalnya karena insiden di kamar mandi. Dan aku sudah tidak sabar untuk melihatnya lagi.”
Ketika mendengar ucapan Bram, Laras tersipu-sipu tetapi saat mendengar kalimat terakhir dengan cepat wajah Laras menjadi merah merona.
Wajah Laras semakin memerah ketika Bram mendekatkan wajahnya dan bibirnya menyentuh bibirLaras.
Laras sangat terkejut ketika Bram menyentuh bibirnya dan dia hanya bisa diam tanpa memberikan reaksi apapun. Dan sikap diamnya membuat Bram memiliki peluang untuk berlama-lama menyentuhnya.
Bram mengangkat wajahnya dan memandang mata Laras yang terbuka lebar.
“Kenapa kamu tidak membalas ciumanku?” tanya Bram saat jarinya menyentuh garis bibir Laras yang merah.
“Kau … Kamu jahat Bram. Kamu tahu ga kalau itu adalah ciuman pertama aku,” kata Laras kesal membuat Bram tergelak.
“Kok ketawa sih? Aku malu tahu gak?”
__ADS_1
“Kamu jahat Bram.” Katanya marah sehingga Bram segera berlutut.
“Kenapa berlutut seperti itu? Kenapa ga duduk di kursi?” tanya Laras merengut.
“Di sini Cuma ada 1 kursi dan itu sudah kamu duduki. Memangnya kamu mau duduk di pangkuanku?” bisik Bram nakal.
“Iiih. Kamu kok sekarang nakal gini sih Bram.”
Laras tidak mengerti mengapa sejak Bram melihat dirinya menuruni tangga, Bram menjadi berbeda. Dan seringkali Laras memergoki mata Bram memandangnya dengan cara yang berbeda.
Bram tidak menjawab ucapan Laras dan dia lebih memilih untuk menarik tangan Laras agar berdiri.
“Kaki kamu masih sakit atau tidak?” tanya Bram dengan lembut.
“Engga,” jawab Laras di ikuti dengan gelengan kepalanya.
“Kalau begitu kita menemui Papa dan Mama,” katanya.
“Untuk?”
“Menikahkan kita berdua,” bisik Bram nakal membuat Laras terkejut dan gemas ketika Bram tertawa dengan keras.
“Kamu … Awas ya,” ancam Laras saat Bram menghindar dari cubitannya.
Bram tertawa dan hari ini dia memang mulai merasakan perasaan yang berbeda pada Laras. Sebelumnya dia melihat Laras sebagai tunangan dan calon pengantin remajanya. Dan dia selalu berusaha mengendalikan dirinya agar bisa menjaga Laras sampai mereka resmi menjadi suami istri atau setidaknya ketika usia Laras
sudah cukup.
Tetapi hari ini, Bram tidak mampu mengendalikan dirinya. Laras sangat cantik dan sangat menggoda. Dengan gaun berwarna kuning dengan lipatan bertumpuk di bagian pinggangnya menjadikan tubuh Laras terlihat berisi.
__ADS_1
Dan sebaga seorang laki-laki dewasa Bram sangat tergoda ketika melihat Laras yang secara
tiba-tiba berpenampilan sebagai wanita dewasa dan juga menggoda. Dan bukan saja dia yang tergoda, tapi juga beberapa rekannya yang secara jelas menyatakan kekagumannya pada Laras.