
Laras dan Dinar berjalan sambil tertawa menuju kelas mereka yang terlihat mulai ramai karena sudah banyak yang datang.
"Woooi tumben datangnya siang?, kena macet ya?," tanya Tisna dengan berteriak membuat Weni yang berdiri disampingnya memukul bahunya.
"Tisna, kuping aku sakit nih," kata Weni cemberut.
"Eh, La katanya kamu tadi dicegat sama Meta ya?, laporin aja sama guru!," kata Lenny yang baru masuk kelas dengan terburu-buru.
"Engga kok, itu sih berlebihan," jawab Laras sambil berjalan kearah kursinya.
"Eh hari ini ga ada perubahan ya untuk latihan drama?," kata Laras pada Aryo yang sedang sibuk menggoda Dinar.
"Wooi Aryo denger ga?," tanya Laras pada temannya yang kadang seenaknya.
"Jadi. Aku udah masti in sama Mama nya Weni langsung kalau kita di bolehin latihan dirumah nya," ucap Aryo membuat Laras menatapnya penasaran.
"Kok bisa ke Mama nya?, memangnya rumah kalian dekat?, atau pacar 5 langkah?," tanya Laras membuat Tisna tertawa keras.
"Dia pernah jadi pacar 5 langkah nya Weni. Karena ga pernah diajak pergi keluar akhirnya diputusin tuh," kata Tisna ngomporin.
"Sembarangan. Jangan percaya La, aku sama Weni saudara sepupu," ucap Aryo dengan mata mendelik ke arah Tisna.
"Hem, sepertinya kamu salah deh kalau meyakinkan aku kalau kamu dan Weni bukan pacar 5 langkah," ucap Laras geli membuat yang lainnya tertawa.
"Eh, bener juga tuh. Neng Dinar... beneran Abang bukan pacar 5 langkahnya Mpok Weni. Sumpeh Abang kaga bohong," kata Aryo mulai bikin ulah.
"Tau ah gelap," jawab Laras sambil berjalan kearah pintu mengikuti yang lainnya karena bel masuk sudah berbunyi yang artinya mereka harus berkumpul di lapangan.
__ADS_1
Hari ini adalah hari kedua MPLS dan mereka semua terlihat semakin kompak dan semangat karena mereka sudah mampu menyesuaikan diri satu sama lain.
Setelah mendengarkan pengarahan dari kepala sekolah dan beberapa guru pembimbing mereka kembali memasuki kelas dan menerima pembekalan pembelajaran dari guru yang akan mengajar mereka nanti.
"La, kamu kenapa sih sepertinya kurang semangat," tegur Dinar saat istirahat tiba.
"Ga tau Din, aku kepikiran sama Amora. Dia sendirian merawat Mama nya sementara Papa ga tau kalau Amora berada di Indonesia."
Laras seperti ragu apakah ia harus mengatakan sekarang pada Dirga atau menunggu saat Dirga kembali dari luar kota kalau Amora berada di Indonesia sementara Dirga mengira kalau Amora masih berada Di Australia.
"Menurutku kamu katakan nanti saja waktu Papa mu sudah kembali. Ga mungkin kan kalau kamu bicara sekarang sementara Papa mu baru berangkat hari ini," kata Dinar memberi saran pada temannya.
"He eh, itu juga yang akan aku lakukan. Hanya saja aku merasa kasihan pada Amora. Apalagi ia sendirian berada di Magelang."
"Tapi Amora juga tidak seterusnya berada di sana bukan. Aku yakin Amora hanya menengok keadaan ibu nya." kata Dinar memberi semangat pada Laras.
"Sekarang semangat dong. Ga enak tahu kalau kamu lemas begini. Rasanya ada yang kurang." kata Dinar pada Laras.
"Iya.. Kamu mau ke kantin ga?," tanya Laras.
"Engga. Aku tadi nitip sama Fachri. Lagian kamu juga pasti ga mau makanan berat kan?, makanya aku pesenin kamu salad buah seperti kemarin."kata Dinar.
"Makasih ya." kata Laras tersenyum.
"Sekarang semangat lagi oke. Kamu ga lihat apa mereka ga ada yang berani bersuara waktu lihat kamu murung begitu?."
"Iya, aku minta maaf."
__ADS_1
Melihat Laras sudah kembali bersemangat membuat Aris dan Linda mendekatinya.
"La, kalau ada sesuatu yang mengganggu, katakan saja pada kami. Sedih tahu lihat kamu lebih banyak diam sejak bel berbunyi tadi," kata Linda penuh perhatian.
"Iya. Aku janji ga akan memikirkan yang aneh aneh ketika di sekolah," kata Laras dengan senyum cerianya.
"Sip..."
"Apanya yang sip?, mau ikut dong," kata Fachri ikut bergabung.
"Ngikut aja kaya bebek," tegur Erna membuat Fachri nyengir.
"Aryo kemana?, kok ga kelihatan?," tanya Desty pada Tisna.
"Dipanggil Almer tadi. Ga tau mau ngapain. Kayanya serius banget," kata Tisna pada mereka
"Ada apaan sih?," tanya Laras ingin tahu.
"Biasa La, mereka berdua kan seperti air sama api. Ga ada damainya," kata Fachri membuat Laras kaget.
"Kok bisa begitu?."
"Ya Almer itu kan kakaknya Aryo tapi beda ibu sementara Weni itu sepupu mereka." kata Fachri memberi penjelasan pada Laras membuat gadis itu tersenyum.
"Kok kamu tersenyum sih La?," tanya Fachri yang melihat senyum dibibir gadis itu sementara mereka merasa prihatin serta khawatir dengan hubungan Aryo dan Almer.
"Aku ingat, kalau aku juga pernah mengalami seperti Aryo." jawab Laras kalem.
__ADS_1