
Aryo, Fachri bersama Dinar dan Laras sudah tiba dikelas mereka dan langsung menuju kursi dibelakang tempat Aryo dan temannya duduk menunggu mereka.
"Anak-anak cewek pada kemana?," tanya Aryo pada Tisna.
"Ke kantin lah. Kamu beli banyak banget Ar. Siapa yang beli?," tanya Tisna.
"Fachri," jawab Aryo tapi matanya ke arah Laras membuat mereka mengerti apa maksudnya.
"Mantap, makasih ya, ga salah pilihan kita ya," kata Doddy dengan kalimat terselubung.
"Eh, buat aku mana?," tanya Dinar yang menghampiri mereka dengan botol minuman ditangannya.
"Ini Neng, udah Abang tinggalin buat Eneng yang montok," goda Aryo membuat Dinar cemberut tapi tetap mengambil donat yang diberikan oleh Aryo.
"Buat Eneng, apa sih yang ga bisa Abang berikan," goda Tisna.
"Eh Neng Laras ga ikutan makan nih?, masih ada nih buat Eneng yang cantik," kata Dody kalem.
"Makasih bang, Aye udah kenyang," jawab Laras tertawa dengan panggilan Abang Eneng yang dimulai oleh Aryo.
"Emang Neng Laras udah makan ape tadi?," tanya Aris mendekati tempat duduk Laras dan melihat apa yang dimakan oleh gadis itu.
"Ya Allah Neng, masih pagi udah makan begituan, ga takut mules Neng?," tanya Aris.
"Astaga, baru tahu aku kalau kelas ini punya bakat buat ngelenong," kata siswi yang bernama Erna dengan geli.
"Ah Mpok Erna, kita kan emang begonoh dari sono nya," jawab Fachri membuat mereka yang berada dikelas tertawa.
"Lah ngapa aye dipanggil Mpok, si Laras dipanggil Neng. Lah mesti adil bang kalo sama empuan ma," kata Erna membuat Laras tertawa geli.
"Hadoooh, ampun deh," katanya sambil geleng kepala.
Mereka masih asik bercanda sampai murid-murid yang lainnya sudah kembali ke kelas mereka.
"Ada apa sih sepertinya ramai sekali?," tanya siswi bernama Desty.
__ADS_1
"Biasa anak-anak cowok tuh, pada ngelenong." jawab Linda.
"Ooh."
Sebelum bel berbunyi, Shiraz bersama dengan Meta dan Ira datang ke kelas mereka untuk menyampaikan tugas untuk kelas mereka.
"Kami ingin kalian membuat drama yang akan dipertunjukkan saat penutupan MPLS, temanya tentang perkenalan kalian sebagai siswa dan siswi baru disekolah kita. Untuk membuktikan kalau kalian mudah membaur maka anggotanya minimal 15 orang." kata Shiraz sementara Meta dan Ira membagikan kertas yang berisi format yang harus diisi.
"Wah kayanya kita udah dapet nih siapa aja yang ikut. Aryo kamu tulis ya siapa yang mau ikut," kata Laras pada Aryo.
"Oke, ga masalah kok. Kamu ikut kan La?, biar rame." kata Aryo.
"Boleh, kamu data ya."
"Siap bos," jawab Aryo semangat.
Tanpa terasa semua kegiatan hari pertama sudah selesai dilakukan para siswa dan siswi baru Enabel School dan semua perwakilan kelas sedang mendengarkan tugas yang diberikan oleh panitia pelaksana untuk besok agar bisa disampaikan pada teman-teman mereka dikelas.
Laras sedang berjalan menghampiri teman-temannya yang tetap setia menunggu nya.
"Asik banget deh aku punya teman seperti kalian, ngerti keadaan," kata Laras pada mereka.
"Keadaan saat aku kehabisan kouta." jawab Laras asal.
"Ga yakin kalau kamu kehabisan kouta," kata Seno tertawa.
"Tugas buat besok apaan?, udah kamu catat kan?," tanya Aryo perhatian.
"Udah. Kamu share sama temen yang lain ya, biar ga lupa, eh gimana kita mo latihan kapan?, kalau hari ini aku ga bisa ya, soalnya aku udah janji sama emak mau pergi," kata Laras pada mereka.
"Emang mo pergi kemana Neng sama Enyak?," tanya Tisna mulai lagi.
"Aye mo kondangan bang diajak ama Enyak aye," jawab Laras menimpali.
"Abang boleh nebeng ga Neng, Abang janji kaga ngabisin nasi dah, kaya Mpo dine," kata Aryo dan ia langsung menghindar saat dilihatnya Dinar mendekati nya.
__ADS_1
"Lah, Abang ma telat, aye udah ngajak mpo Dine bang, pan tau ndiri kalo si mpo ngabisin tempat," jawab Laras sambil berlari menjauh dari Dinar.
Kelakuan anak-anak kelas X-9 menarik perhatian para perwakilan kelas lain. Mereka memandang mereka dengan perasaan bingung. Bagaimana mungkin baru sehari mereka kenal sudah begitu akrab.
"Laras, kalian semua belum pulang?, sedang menunggu siapa?," tanya Ade Rangga.
"Nunggu emaknya anak-anak yang lagi tugas," jawab Fachri santai.
"Gila ya kelas kalian. Kita mah masih pada jaim, kalian udah gila semua," kata Christian tertawa.
"Begitulah kalau punya emak suka ngomel," jawab Aryo.
"La kamu ga marah dibilang suka ngomel?," tanya Seno pada Laras.
"Emang yang jadi emak siapa?, aku mah kan Neng Laras yang cantik," jawab Laras sambil melihat jam tangannya.
"Tante Indah mau jemput La?," tanya Dinar.
"Iya. Mama kemarin bilang mau jemput. Kamu ikut aku ya?," jawab Laras.
"Mama kamu ga keberatan?," tanya Dinar.
"Kan naik mobil Din, bukannya digendong sama mamaku, jadi ga berat lah," kata Laras kalem.
"Iih, kamu kok jadi ikut-ikutan Aryo sih La..."
"Maaf ya say, aku cuma bercanda kok," kata Laras lembut.
"Dih, aku bukan Bram ah, entar yang punya panggilan marah lagi kalau kamu manggil aku Say," kata Dinar membuat mereka yang mendengarnya terdiam menatap Laras penuh tanya.
"Siapa Bram La, kasih tau dong?," tanya Aryo.
"Bram itu cowok nya Laras, jadi kalian semua jangan ngarep ya," kata Dinar memberi peringatan.
"Yaaaa, patah deh hatiku," kata Aryo pura-pura lemas.
__ADS_1
"Mpo Dine, tolong pungutin hati ane yang bececeran mpo," kata Tisna sedih.
"Kalian semuanya pada hancur ya," kata Ade Rangga tertawa keras menyaksikan kelakuan mereka semua.