Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Bab 96


__ADS_3

Laras baru saja berganti pakaian dan dia memilih untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur ukuran king size membuatnya bebas bergulir kemana-mana.


"Bagaimana mungkin Tante Fira menyiapkan kamar yang sangat mewah seperti ini? Apa aku begitu istimewa?" tanya Laras pelan.


"Sebaiknya aku kasih kabar ke Mama kalau aku sudah tiba di rumah Om Wiguna," kata Laras mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja.


Hanya memerlukan 1 kali panggilan dan Indah langsung menjawab panggilan tersebut.


"Halo Mam ...." sapa Laras dengan senyum membayang di bibirnya.


"Halo Sayang. Gimana? Kaka udah sampai? Sekarang Kaka sedang apa?"


Laras tertawa geli mendengar suara Indah yang mengajukan banyak pertanyaan.


"Heh. Ini anak! Mama nya bertanya malah dia tertawa," omel Indah.


"Ya Mama nya juga. Aku udah sampe dan sekarang aku sedang telepon Mama dari dalam kamar yang diberikan Tante Fira padaku. Mom tahu kamar ini sangat mewah. Beda dengan kamar yang aku tempati dulu," beritahu Laras membuat Indah tertawa.


"Kamu ya ... Lalu apa kegiatan kamu hari ini?"


"Hmmm aku mau tidur dulu. Ngantuk banget Mam."


"Kalau ngantuk kenapa ga langsung tidur? Malah telepon Mama!"

__ADS_1


"Ih Mama gimana sih? Aku kan telepon sebagai anak yang baik. Memberi kabar kalau putrinya yang cantik sudah sampai dengan selamat," gerutu Laras kesal.


Terdengar suara tawa Indah saat mendengar ucapan Laras.


"Iya Mama tahu. Terima kasih ya sayang. Kaka udah ngerti perasaan Mama yang sedang menunggu berita dari kamu," katanya tertawa.


"Kalau gitu aku mau istirahat dulu ya Mam."


"Ya."


Setelah menutup teleponnya, Laras mencoba untuk memejamkan matanya dan tidak berapa lama kemudian sudah terlelap.


Sementara itu, di Jakarta, Indah tersenyum setelah menerima telepon dari Laras.


"Kenapa Ind? Kok senyum sendirian?" tanya Desi istri dari Abi.


"Oh ya? dia kemana? Aku kok dari tadi ga lihat dia? Apa dia sedang pergi?"


"Dia sedang pergi. Pergi ke rumah calon mertuanya,' jawab Indah tertawa.


"Heh? Jadi kalian serius jodohin Laras sama Bram?" tanya Desi terkejut.


"Mereka malah sudah bertunangan sejak Laras masih SMP. Bukankah mereka pernah datang ke rumah mu?"

__ADS_1


"Ya memang pernah. Tapi aku ga berpikir kalau mereka sudah bertunangan," jawab Desi.


"Dan selama ini mereka berdua tidak melakukan apapun yang berbahaya bukan? Maksud aku ... kamu mengertilah."


"Alhamdulillah tidak. Aku percaya Bram dapat menjaga Laras. Dan aku salut dengan pengendalian Bram. Bagaimana pun Bram adalah seorang pria dewasa."


"Tapi kalau sekedar kiss saja aku rasa wajar. Mereka kan sudah bertunangan."


"Hm. Dan aku serta Mas Dirga juga sudah mengijinkan kalau hanya kiss."


"Bagus. Asal Bram jangan menyamaratakan saja," sahut Desi geli.


"Maksudmu?"


"Ya, karena kamu bilang boleh kiss nanti Bram kiss nya di daerah terlarang lagi," jawab Desi membuat Indah terkejut dan melempar adik iparnya dengan bantal kursi.


"Hey, aku kan cuma mengatakan apa yg sempat aku pikirkan saja," jawab Desi tertawa.


"Dasar mesum. Kalau hal tersebut dilakukan aku akan langsung minta mereka menikah," omel Indah.


"Dan ... bukankah memang itu yang selalu diinginkan oleh Bram?" terdengar suara Dirga dari arah belakang Indah.


"Eh, Mas Dirga tidak mendengar apa yang aku katakan bukan?" tanya Desi malu.

__ADS_1


"Memangnya kamu bilang apa?" tanya Dirga heran.


"Bukan apa-apa kok," jawab Desi dengan wajah merona sementara Indah tertawa.


__ADS_2