Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 10


__ADS_3

* Kembali ke masa kini *


Aini masih mengingat dengan jelas bagaimana Hafiz memperlakukannya dengan baik, Dia menghela nafas panjang sambil mengingat kenangan yang manis tapi menyakitkan buat Dia.


" Kak Devan .... Jujurlah pada Aini Kak,. gimana keadaan Kak Hafiz saat ini, Aku tahu kak Devan seorang Dokter ahli bagian dalam." ucap Aini sambil mengunyah makanannya.


Sambil mengernyitkan dahi Devan kaget dengan pernyataan Aini,. Bagaimana Dia bisa tahu bahwa dirinya seorang Dokter, padahal Dia sama sekali tak pernah menyebutkan Dia kerja apa dan jabatannya apa,.


Sekejap Devan terpaku sambil menatap Aini tajam kemudian berganti dengan tatapan lembut Devan ingin sebuah kepastian dan jawaban dari mulut Aini.


" Jangan heran darimana Saya tahu siapa Kak Devan..." ujar Aini tenang


Devan masih terdiam, " Tuh... Tag name disaku Kak Devan " sambil menunjuk jari telunjuknya kearah dada Devan yang mana di sakunya menempel tag name Dia.


Seketika itu juga Dia tepuk jidatnya astaghfirullah Aku lupa menyimpan ini disaku.


" Oh maaf Ai... Aku pikir..." belum sempat selesai kata Devan terjeda


" Kakak pikir apa?? Aku orang aneh gitu bagaimana bisa tahu bahwa seseorang didepan ku ini adalah seorang Dokter Ahli bedah gitu??" sahut Aini sambil memutar bola matanya dengan malas.


" Maaf Ai... Bukan maksudku seperti itu.." kata Devan penuh sesal


" Udah Kak santuy aj Saya sudah biasa mendapatkan kata kata seperti itu dari orang sekitar." sambil tersenyum Aini berdiri hendak pamit ke toilet sebentar.


Drrrttt Drrrrttt


Tiba tiba ponsel Devan berbunyi.


" Yah... apa ?? oke aku kesana 30 menit lagi" jawab Devan cemas. Entah apa gerangan yang membuatnya se cemas itu.


Sementara di toilet Aini menangis Dia tahu kalau Hafiz dalam keadaan koma, yah dia mengetahuinya karena Sukma Hafiz mengikuti Dokter Devan.


" Kak... Maafkan Aku, Aku berpura-pura tak melihat Mu, " sambil terisak Aini meluapkan segala emosinya.


Tok tok tok


" Ai... Kamu Baik-baik saja kan?? ternyata Devan menghampirinya menyusul Aini ke toilet, karena dirasa cukup lama Devan khawatir terjadi sesuatu pada Gadis itu.


"Aku Baik baik saja kok Kak..." jawab Aini dari dalam toilet.


" Oke Ai Aku tunggu didepan ada yang mau ku bicarakan padamu." ujar Devan kemudian terdengar langkah kaki menjauh.


Aini bernafas dengan lega segera ia keluar tak lupa dia merefresh kan wajahnya biar tidak tampak sembab dan pucat.


" Sudah Ai... " tanya Devan pada Aini

__ADS_1


" Iya Kak... Apa yang mau dibicarakan Kak?? pentingkah?? " Tanya Aini meskipun Dia tahu apa yang hendak dikatakan padanya.


" Hemm.. Ai... Ma maukah Kamu mengunjungi Hafiz ,... Di di dia koma, Aku rasa dengan kehadiran mu mungkin saja Hafiz bisa secepatnya sadar Ai.... Pliiss...!!" ujar dokter Devan memohon.


" Tapi Saya takut keluarganya menolakku Kak..." jawab Aini pelan.


" Kamu tenang saja Ai... Hari ini keluarganya sedang ada acara mereka sudah menitipkan Hafiz padaku dan juga perawat di Rumah Sakit.


" Hhemm,.. Oke deh Kak Saya ikut" jawab Aini setelah agak lama Dia terdiam


" Oke yukk... " ajak Devan penuh semangat.


Dalam perjalanan menuju Rumah sakit Keduanya hanya diam cuma hening yang merajai, mereka pun larut dalam pikiran masing masing.


Sesampainya dirumah sakit Devan pun memarkirkan mobilnya ditempat yang sudah disediakan khusus untuk Dokter.


Kemudian mereka berdua pun turun Devan kemudian mengajak Aini agar gadis itu mengikutinya, setelah melewati lorong demi lorong yang lumayan panjang akhirnya mereka pun sampai diruang khusus VVIP.


Saat pintu terbuka tampaklah seorang pesakitan terbaring lemah karena koma, yah... Dialah Hafiz kemudian Devan pun mempersilahkan Aini masuk dan duduk disamping Hafiz.


" Maaf Ai... Aku tinggal dulu yah untuk mengecek hasil laporan perawat yang sudah menjaga Hafiz tadi pagi" ucap Devan beralasan agar Aini tidak canggung dan Dia bisa bebas berbicara pada Hafiz meskipun Dia koma Devan yakin bahwa Aini lah yang bisa membantu mempercepat kesembuhan Hafiz dan sadar dari komanya.


" Assalamualaikum Kak Hafiz... Maaf baru bisa menjengukmu kak..." ucap Aini nampak bibirnya bergetar.


" Kak... Lihatlah Aku lihat keadaan ku,. Aku Baik baik saja dan lihatlah Aku Kak... Aku kuat kan...?? seharusnya Kau sepertiku lah Kak... Kangan kalah dengan keadaan, jika dirimu lelah maka tidurlah dan jika dirimu sudah enak dan segar maka bangunlah Aku tak bisa berjanji Apa apa Kak,.. Karena Aku sudah terpatri dengan janjiku pada Mamamu dan bersumpah atas namamu kak...!! " Gadis itupun meneteskan air matanya lirih, rasanya sesak dada yang menghimpit paru parunya.


Sementara itu dibalik kaca tampak seseorang sedang mengawasi Aini, tanpa terasa air matanya pun luruh membasahi pipi tuanya,.


Yah... Dia adalah Papanya Hafiz namanya Harun Nasution.


Sedang Devan hendak menuju ruangan Hafiz berada tapi dia terkejut tatkala Papanya Hafiz ada dibalik kaca dan mengawasi Aini. tampaklah wajah Devan panik Dia pun gusar.


Akhirnya dengan memberanikan diri Dia pun menyapa Pak Harun , " Ma maaf Pak Saya tadi senga..." belum sempat Devan melanjutkan kalimatnya kemudian Pak Harun pun memberi kode dengan menaruh jari telunjuknya dan ditempelkan di depan mulutnya.


Ssssttt..." seketika itu juga Devan mengikuti Pak Harun dan melihat Aini dibalik jendela ruangan tempat Hafiz dirawat.


" Maafkan Papamu Nak,. Seharusnya dari dulu Papa membawa orang yang kamu cintai kemari, tapi Papa terlalu sibuk dan mengabaikan dirimu..." Gumam Pak Harun dalam hati.


'Ai... Aku percaya padamu, Aku yakin kamu bisa Ai...' batin Devan, sebenarnya Dia juga jatuh hati pada Gadis itu, tapi karena sahabatnya sangat mencintainya Devan pun mundur.


" Maafkan Om Nak Aini,.. Maafkan atas perlakuan Istri dan Anak Om..." kembali Pak Harun membatin penuh sesal.


Sedangkan Aini masih bicara pada Hafiz,. Da tahu kalau Hafiz bisa mendengar karena itulah Dia terus memberi semangat pada Hafiz.


***

__ADS_1


Flashback on


" Happy birthday Ai... Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT Aamiin" Ucap Hafiz kala itu.


Sementara Aini cuma diam melongo sejujurnya Dia kaget juga, pasalnya baru kali ini ada orang yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


" Ai... Kok melongo sih?? kamu gak senang heum... Aku bingung Ai mu ngasih hadiah apa padamu jadi Aku belikan Kamu ini. Diterima yah Ai pliiss..." Hafiz memberikan paper bag yang didalamnya berisikan sebuah Handphone mahal, meskipun tak yakin Aini mau menerimanya setidaknya Dia mencoba .


" Kak Hafiz,.. Aku gak butuh hadiah berupa barang kayak gini Kak, cukup doamu saja itu sudah cukup bagiku,. karena dalam doa tersebut ada ketulusan mu dalam mendoakan ku, dan itu lebih daripada hadiah yang Kak Hafiz berikan saat ini... Maaf Kak Saya menolak hadiahnya mending uangnya Kakak sedekahkan buat Anak-anak yatim atau Anak-anak jalanan,.. tuh lihatlah mereka!! " Sambil tersenyum Aini menolak secara halus dan hati hati agar Hafiz tak terlalu kecewa.


" Lihatlah Kak,.. Mereka dengan berpanas-panasan mencari sesuap nasi, sedangkan kita ada lebih aku rasa mungkin lebih baik uangnya kita sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan dan mereka juga berhak bahagia Kak, setidaknya biar gak mubadzir sebagian harta Kita itu juga ada hak mereka Fakir miskin dan Yatim piatu." kembali Aini melanjutkan kata-katanya.


Sedangkan Hafiz melongo bukan karena sakit hati pemberiannya ditolak tapi dirinya seolah tertampar, bagaimana Dia lupa akan hal itu, biasanya untuk urusan hal semacam itu Ayahnya yang selalu mengingatkan tapi Dia abai dengan alasan sibuk.


Hhhhhhhh.... Kau benar Ai.." ucap Hafiz lirih dan hampir tak terdengar, tapi bagi Aini Dia mendengar apa yang diucapkan Pria yang ada didepannya ini.


Hafiz merasa malu akan dirinya sendiri,. tapi Dia juga berterimakasih karena Aini sudah mengingatkan.


" Lalu bagaimana dengan hadiahnya Ai... masak harus dibuang..!?" Tanya Hafiz


" Isshh... Ayo ikut Kak ...!!" ajak Aini pada Hafiz


" Loh Kita mau ngapain Ai... ?? tanya Hafiz penasaran


" Kakak belinya berapa barang ini...??" Tanya Aini


" TI tiga juta lima ratus ribu rupiah Ai..." jawab Hafiz sambil garuk-garuk kepalanya.


Mereka pun berhenti disebuah toko dan menjual Handphone tersebut, Hafiz cuma bengong aja ngikuti kemauan Aini.


Setelah deal dengan harganya Aini pun mengajak Hafiz kesebuah warung makan yang berada di daerah situ, dan Aini pun memesan makanan dua ratus kotak,. setelah Aini membayar full makanan itu ternyata masih ada sisa, sambil mengatakan kepada pemilik warung nanti diambil jam Sepuluh siang Aini pun pamit dan mengajak Hafiz membeli banyak mainan tidak mahal tapi mainan itu sangat dibutuhkan buat anak-anak yayasan panti asuhan didaerah tersebut.


Akhirnya setelah urusan selesai semua mereka pun duduk di taman kota,.


" Gimana Kak... Kak Hafiz seneng gak??" Tanya Aini sambil tersenyum kearah Hafiz.


Jedug jedug jedug


Suara jantung Hafiz bertalu Talu seolah olah hendak keluar dari tempatnya, Hafiz pun meraba dadanya berharap jantungnya masih aman dan Baik baik saja ditempatnya.


" I iya Ai.. Tapi kenapa Kau mengatakan itu padaku Ai... Barang itu sudah Aku kasihkan ke Kamu, jadi Kamu yang berhak atas uang itu,.." Tanya Hafiz


Aini hanya diam dan tersenyum,.. " Makasih Kak atas hari ini karena Kak Hafiz sudah membuat mereka semua tertawa riang" jawab Aini


Astagaaa... Aini terbuat dari apa Hatimu... !!

__ADS_1


__ADS_2