Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 32


__ADS_3

" Assalamualaikum Ai... " nampak seorang pria tampan mendekati Aini.


"Waalaikumsalam kak... apa kabar??" nampak senyum manis tersungging dibibirnya.


"Alhamdulillah baik Ai,.. kamu sendiri gimana punya kabar?? kini Devan balik bertanya.


"Hemm seperti yang kak Devan lihat aku segar dan baik baik saja" Devan mengernyitkan dahi pasalnya yang dilihat oleh Devan dari Aini bukan segar melainkan pucat.


"No... aku tahu kamu tidak baik baik saja Ai..." Aini sedikit tersenyum dengan perhatian Devan, sejenak Aini lupa kalau Devan adalah seorang dokter tentu saja Devan bisa melihat bahwa wajahnya sedikit pucat.


"Ehemm... perkenalkan nama saya Rina sahabatnya Aini" sambil kedip kedip kan mata Rina menengahi.


Devan pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rina kemudian memperkenalkan diri.melihat sikap Devan yang sedikit cuek padanya Rina sedikit cemberut berbeda sikapnya kalau dengan Aini lembut banget bahkan selembut sutra.


Sedetik kemudian Rina pun tersenyum 'memang pesona Aini tiada duanya,fix no debat' gumam Rina pelan


"Oke Ai... aku pamit duluan yah ,.. nikmati momen weekend deh bareng babang ganteng...!!" sambil tersenyum jahil Rina pun segera berlalu.


"By by Ai... met happy yah muuaahhh..." kini dengan gay lebay nya Rina pun hengkang dari situ, bersamaan dengan itu bisa yang ditunggu pun datang.


"Temanmu kocak yah Ai..." senyuman Devan pun makin ceria melihat tingkah absurd Rina, sedikit menggeleng kepalanya Devan pun berkata


"Kamu punya sahabat yang kocak bisa menghilangkan rasa penat jika sudah ada teman seperti itu Ai..." masih setia dengan senyuman manisnya.


"Come on..." tiba tiba Devan pun menggandeng tangan Aini tanpa sadar,tapi Aini tak bergeming dari tempatnya.


"Ai... ayo aku traktir deh... " masih belum sadar akan kelakuannya yang menggandeng Aini Devan dengan semangat menarik tangan Aini.


"Ma maaf kak... bisa lepasin dulu gak tangan Aini?? " nampak Devan mengernyitkan dahinya dia termangu dan bertanya tanya,tak lama kemudian dia pun sadar.


"Astaghfirullah... ma maaf Ai... maaf aku khilaf " tepok jidat Devan pun garuk garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sungguh Ai.. aku minta maaf aku lupa kalau..." bingung seketika Devan pun bersikap canggung.


Tak lama kemudian Aini menampilkan senyum manisnya kemudian berkata


"It's okay kak tapi jangan diulang yah..." tak ayal Aini pun juga sedikit canggung.

__ADS_1


'Sikap kamu yang seperti inilah yang membuatku jatuh hati Ai .. jujur aku tidak rela kau sudah bertunangan tapi apalah dayaku Ai,dia adalah pilihan mu bukan aku' batin Devan berkecamuk.


"Ehhmm... " belum sempat Aini mengucapkan beberapa kata nampak suara dering ponsel dari tas Aini.


" Assalamualaikum kak... " Devan mengerutkan kedua alisnya 'mungkinkah itu tunangannya ' batin Devan penasaran.


"(....)"


" Oh... gak jadi yah kak, iya gapapa kalau gitu hati hati yah kak..." jawab Aini entah apa yang dikatakan oleh orang diseberang sana .


"(...)"


" Heemm... Miss u too..." jawab Aini kemudian.


"Waalaikumsalam..." sedikit kecewa Aini mengerutkan pelipisnya.


"Kenapa Ai..." tanya Devan penasaran, sebenarnya dia ingin bertanya 'telepon dari siapa' tapi urung dia ucapkan tidak mungkin kata kata itu yang keluar dari bibirnya selain bertanya dengan kalimat pendek 'kenapa' Devan takut Aini salah paham dan bagaimana nanti persepsi Aini terhadap nya pasalnya diantara dia dan gadis itu tidak mempunyai hubungan sama sekali selain sebagai seorang sahabat atau kakak angkat seperti yang dipinta Aini beberapa waktu yang lalu.


Bukan dipinta tapi itu hanya angan angan Aini dengan berandai-andai dirinya mempunyai seorang kakak lelaki jadi Devan bersedia melakukan apa yang Aini inginkan daripada tidak sama sekali.


Lebih baik jadi sahabat atau kakak angkatnya meskipun ketemu gede jadi Devan bisa berdekatan sewaktu-waktu.


Waktu itu dia sendiri yang tanpa sengaja menawarkan Aini sebagai kakaknya, sedikit ada rasa penyesalan di hati secara tidak langsung diapun patah hati.


Ingin menangis tapi malu kalau tidak pasti dia jadi bahan tertawaan Aini nantinya mau ditaruh dimana nanti mukanya.Issshhh....


"Tadi dari kak Aditya beliau membatalkan janjinya," sedikit mengerucutkan bibirnya Aini pun sedikit kecewa.


Devan pun melihat Aini cemberut seperti itu jadi gemas sendiri 'Lihatlah bibir pink nya yang mungil dan seksi,oh my gosh' batin Devan bergumam gemas.


'Bodoh bodoh bodoh buang pikiran kotor mu itu jauh jauh Dev ' kembali Devan merutuki dirinya sendiri.


"Ehhmm... kalau gitu kamu ikut aku aja Ai .. sekalian kita happy happy,gimana..." terdiam Aini sedikit berpikir.


Devan Pun dengan setia menanti jawaban gadis tersebut.


Tak lama kemudian Aini pun mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu kemudian diapun mendial nomor seseorang.

__ADS_1


"Assalamualaikum kak..."


"Aini diajak kak Devan keluar malam ini apa kak Aditya tidak keberatan??" sedikit mengernyitkan dahinya


"Oke makasih yah kak,, jaga diri baik baik oke... Assalamualaikum...!!" kini Aini menampakkan senyum sumringah.


"Ayo kak kita jalan, tapi... Aini belum mandi Aini pulang dulu yah kak mau mandi dulu..." pinta Aini


"Gak usah Ai... kamu udah cantik meskipun kamu belum mandi" kini Devan yang sedikit menggombal dia gak mau kelamaan nunggu Aini hingga waktu bersama gadis tersebut menjadi sedikit.


"Oke deh... tapi gak bau kan bauku kak..." sambil mengendus endus aroma badannya sendiri.


"Enggak Ai... beneran kakak gak boong" sambil nyengir kuda Devan Menaik turunkan sebelah alisnya.


Aini pun menggelengkan kepalanya dia sudah terbiasa dengan sikap kocak sekaligus absurd nya Devan.


Setelah Aini dan Devan masuk kedalam mobil nampak diseberang jalan dan didalam sebuah mobil ada sepasang mata mengawasi mereka dari jauh.


Yah, dia adalah Aditya dia terpaksa membohongi Aini tentang dirinya yang keluar kota karena urusan pekerjaan.


Sudah semenjak Aini keluar dari perusahaan tadi Aditya sudah berada ditempat itu diseberang halte agak sedikit jauh, Aditya ingin memberikan kejutan untuk Aini.


Aditya ingin mengajak Aini untuk makan malam romantis sekaligus ingin melamar Aini dengan romantis layaknya sepasang kekasih,tapi urung dia lakukan disaat Aditya menyadari bahwa bukan hanya dirinya tapi ada orang lain selain dirinya dan dia tahu itu siapa.


Seorang dokter muda dan berbakat yang bernama Devandra Syaputra dan Aditya tahu kalau kalau Devan sangat menyukai Aini bukan hanya Hafiz sahabat dokter muda itu.


Sebenarnya Aditya pernah satu kampus dengan Devan dan Hafiz hanya saja mereka berbeda jurusan meskipun begitu tak lama kemudian Aditya pun melanjutkan studinya keluar negeri agar dia bisa melanjutkan gelar dengan predikat terbaik di singapura.


Kini Aditya masih didalam mobil kedua tangannya mengepal tanpa disadari, bukannya tidak cemburu Aditya sangat pencemburu tapi dia tahu siapa Aini.


Dia tidak akan mungkin mengekang Aini dengan mengatakan 'jangan atau tidak boleh ' Aditya tidak mau disebut egois Aditya dengan membatasi gerak bebas gadis tersebut.


Momen ini dia lakukan karena Aditya tahu kalau Aini sedikit kehilangan sebagian kekuatan magic nya dengan memanfaatkan keadaan Aini.


Yang biasanya Aini sangat peka yang berbohong jadi ketahuan bisa mendengar dari jarak jauh bisa membaca pikiran dan lain sebagainya.


Sedikit merasa bersalah Aditya juga memanfaatkan keadaan Aini dengan mengetes sejauh mana hubungan mereka, bukannya Aditya tidak mempercayai kekasihnya tapi justru kepada Devan .

__ADS_1


Takutnya Devan memanfaatkan keadaan Aini untuk mempertemukan Hafiz dengan kekasihnya. Aditya pun menelpon beberapa anak buahnya guna untuk mengawasi menjaga dan melindungi Aini dari jauh.


" Maafkan aku Ai... aku hanya ingin kamu tidak menganggap ku egois" gumam Aditya pelan, kemudian dia pun melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu.


__ADS_2