Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 42


__ADS_3

Kini Aini sudah berada didalam kamarnya,lelah itu yang dirasakan gadis tersebut.


Aini menghela nafas berat dia merasa semakin kesini ujiannya semakin berat 'semoga Allah memberikan ku hati yang kuat sabar dan selalu ikhlas juga Tan kurang dalam bersyukur' doa Aini dalam hati.


Astaghfirullah di zaman yang serba canggih seperti ini kenapa masih banyak orang yang lemah dalam berfikir dan selalu mengambil jalan pintas,Aini tak habis fikir betapa piciknya hati manusia.


Aini masih ingat bagaimana perjuangannya dalam menolong Hafiz setelah dia berhasil mengalahkan mahluk yang menyandera Sukma Hafiz kekuatan nya seakan akan tersedot karena sukmanya yang keluar sangat lama dalam menolong Hafiz hingga menghabiskan beberapa tenaga dalam chi nya.


Dan itupun karena ulah dari ibunya Hafiz sendiri yang sudah menumbalkan jiwa Hafiz, sebenarnya Astri hendak menumbalkan jiwa putri bungsunya Andriana tapi karena Hafiz sendiri pernah melanglang buana sukmanya jadi Hafizlah yang kena apalagi saat itu posisi Hafiz sangat lemah hati lemah pikiran dan lemah jiwanya.


Bukan apa-apa kenapa Hafiz begitu lemah itu dikarenakan dia baru sadar dari koma selang 3 bulan kemudian ibunya melakukan aksi nekat yang berujung menumbalkan jiwa salah satu dari putrinya hanya karena bencinya terhadap dirinya.


Kini Aini sadar sekali kebencian sudah tertanam dihati seseorang sudah bisa dipastikan kalau kebaikan macam apapun tidak akan pernah dianggap apa apa.


Dia sungguh naif saat itu berusaha untuk berdamai dan melupakan dengan apa yang sudah dilakukan ibunya Hafiz Aini juga sudah berusaha melupakan dan memaafkan meskipun yang bersangkutan kekeuh tidak akan pernah meminta maaf padanya tapi kenyataannya kebencian itu tidak pernah padam meskipun Aini berharap seiring berjalannya waktu Aini berharap ibunya Hafiz segera menyadari kesalahannya dan bisa bertobat bukannya malah tambah semakin gila seperti saat ini.


Hhhhhhh


Kembali Aini mendengus kasar bibirnya membesengut hatinya kacau jika mengingat tentang hubungannya dengan Hafiz, jikalau dia boleh jujur rasa Aini masih sama terhadap Hafiz tapi dalam situasi yang berbeda Aini tak mampu menggapai rasa itu hingga Aini pun melepas rasa terhadap hafiz.


Kini hatinya sudah mulai terbuka dan terpaut pada Aditya laki-laki itu sangat sempurna menurut Aini bukan hanya dari segi wajah melainkan tingkah lakunya juga terkesan perfect meskipun masih banyak kekurangan yang diperlihatkan Aditya tanpa sengaja.


Kini tiba tiba saja suasana kamar nya berubah menjadi sedikit suram dia tahu ada sesuatu yang menunggu nya dan ingin berkomunikasi dengan nya.


"Masuklah .." Aini mempersilahkan tamu astralnya untuk masuk dia tahu kalau mahluk itu ingin bicara padanya tapi karena pagar ghaib yang dia pasang diarea rumah kost nya hingga mahluk itu tidak bisa masuk kecuali atas undangan yang punya itupun jika sudah dibukakan pintu pagarnya ( ups kayak buka pagar sungguhan didepan rumah author).


Kedua mata Aini membola setelah mengetahui bahwa sesosok mahluk itu tak lain adalah Candra orang yang selama ini menolong nya dan selalu ada untuk nya dimasa lalu.


"Kak... apa yang ingin kakak sampaikan" tanpa Aini sadari kini air matanya keluar tanpa diperintah.


"Maafkan kakak Ai... " tanpa ekspresi mahluk sesosok Arwah yang bernama Candra itu berbicara meskipun tanpa menggerakkan bibirnya.


Wajah pucatnya yang tanpa ekspresi sedangkan kedua mata nya tanpa pupil yang terlihat hanya seluruh bola mata arwah Candra berwarna hitam pekat sekelam jelaga nampak kekosongan dan kehampaan dari kedua matanya.


"Aini yang minta maaf kak,. kalau saja tubuh kak Candra masih utuh meskipun hanya nampak denyut nadi saja Aini pasti bantu Sukma kakak kembali, maafkan Aini kak" kini Aini menutup wajahnya dengan kedua tangan nya hatinya sakit tangisnya terdengar tergugu dan pilu.


Bagaimana pun setelah kedua orang tuanya dan saudara nya meninggal hanya Candra lah keluarga satu satunya tapi setelah Aini mengetahui bahwa Candra sudah meninggal kini dia hanya seorang diri.


"Tolonglah kakak Aini... sempurna kan arwah kakak,,, kakak sangat tersiksa, kakak ingin tenang,kakak sudah ikhlas dengan semuanya " kini wajah Aini pun mendongak dia melihat wajah Candra yang masih tanpa ekspresi wajah datarnya terlihat sendu.


"Baik kak... tapi kak Candra harus menunggu beberapa waktu lagi " masih tanpa ekspresi sosok Candra pun berlalu


"Tunggu kak... jangan pergi dari sini bahaya diluar Aini takut kak Candra ditangkap oleh seseorang yang dibayar Bu Astri untuk menangkap arwah kak Candra sebagai umpan kumohon.." pinta Aini memelas

__ADS_1


"Baik" singkat hanya itu yang keluar dari suara Candra.


"Jangan keluar dari rumah ini oke... " seolah olah berbicara pada sosok Candra dimasa lalu Aini sedikit bersemangat.


"Kau harus berhati-hati dengan seseorang yang bernama Nico dia menginginkan mu dan mengincarmu" peringat Candra pada Aini.


"He um Aini sudah tahu itu kak jangan khawatir " Aini mengangguk kan kepala nya .


Disebuah apartemen mewah milik Elena kini gadis itu nampak kelelahan setelah aktivitas laknatnya bersama laki laki yang baru dikenalnya.


Elena masih bergeming dengan selimut tebalnya, sementara laki laki yang disewa Nico untuk melayani hasrat Elena pagi pagi sekali sudah berlalu pergi.


Sedangkan Elena dengan bermalas malasan mengerjabkan matanya sayu khas orang bangun tidur kedua tangannya pun asyik mengucek matanya yang lengket dengan beleknya.


Kemudian dia teringat adegan demi adegan yang dia lakukan dengan pria asing itu,kini nampak senyuman diwajah nya ketika mengingat kembali.


"Pasti Nico membayar laki laki itu sangat mahal,tapi .. dia sangat memuaskan " gumam Elena.


Nampaknya dia lupa sebelum kedatangan pria asing tersebut bagaimana dia misuh misuh gak jelas mengata ngatai kalau Nico merendahkan harga dirinya,tapi nyatanya dia menikmati apa yang dia lakukan dengan pria bayaran itu.


"Lain kali aku akan meminta Nico untuk menyewa dia lagi..." kini dengan semangat Elena sudah merencanakan tentang keinginannya kepada Nico.


Setelah beberapa saat Elena pun bangun menuju kamar mandi rencananya hari ini dia ingin pulang ke rumah orang tuanya tapi sebelum itu dia akan mampir kekantor Nico.


Akhirnya dia hanya bisa mendengus kasar hari ini rencananya setelah meeting dengan klien selesai dia ingin kerumah Aini,tapi tidak etis rasanya kalau dia tiba-tiba bertamu kerumah gadis tersebut.


Bukan apa-apa hanya saja alasan apa yang akan dia gunakan kalau sudah sampai ditempat Aini nanti nya,tanpa sada kepalanya bersandar sambil memejamkan matanya dia masih ingat bagaimana cerianya gadis tersebut dengan wajah imutnya.


Flashback on


" Ngapain kakak disini??" tanya seorang gadis kecil


"Bukan urusanmu" Nico kecil menjawab dengan wajah dingin dan datar.


"Heemm... kau tidak akan bisa menolong mereka dengan kekuatan mu yang kecil itu" ucapan gadis kecil itu mampu membuat emosi Nico kecil memuncak.


"Apa maksud mu anak kecil..." sebelah alis Nico kecil pun terangkat kemudian dia pun mengernyitkan dahinya sambil tersenyum sinis


"Memang nya kau sendiri mampu..." Gadis itu menggeleng pasti.


"Tidak semua yang kita lihat kita bisa menolong mereka semuanya seharusnya kakak sendiri tahu batasan kekuatan kakak..." kembali kata kata gadis itu mampu membuat Nico sangat emosional.


Kedua tangan Nico pun mengepal kuat dia kecewa pada dirinya yah gadis itu benar bahwa dia punya batasan tentang kekuatan nya yang kecil.

__ADS_1


Hhhhhhh


Nico pun mendengkus kasar kemudian dia duduk sambil menekuk kedua lututnya kedada,dia kecewa kenapa saat ini dia sangat lemah lalu sekarang apa yang bisa dia lakukan.


"Jangan lakukan apa apa... kakak berdoa saja agar Gusti Allah menolong mereka semuanya" ucap gadis itu seolah-olah mengetahui isi hati Nico.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang" mata Nico kini tak lepas dari beberapa orang anak yang disekap digudang terbengkalai oleh beberapa orang.


"Hemm tidak ada" gadis kecil itu menggeleng dengan wajah polosnya.


"Kita lihat saja dari sini oke..." kini gadis itu berkata sambil tersenyum imut Dimata Nico yang mampu membuat wajah Nico memerah entah karena apa.


"Heemm... " kini Nico hanya mengangguk pasrah.


"Lihatlah sebentar lagi akan ada sesuatu yang menyenangkan terjadi" Nico masih tidak mengerti dengan ucapan gadis itu.


Dorr


"Jangan bergerak..." tiba-tiba terdengar suara seperti seorang polisi,Iyah suara polisi bukan hanya seorang tapi beberapa bahkan banyak polisi disana yang sudah mengepung gudang dan markas mereka.


Nico kini beralih memandang gadis itu dengan penasaran 'apakah ini ulah gadis itu' batin Nico,dia masih tak lepas memandang gadis itu terlihat senyum imutnya yang tulus dan sangat manis menurut pandangan Nico kecil saat itu.


"Kakak... jangan menatap ku seperti itu aku takut tahu..." gadis kecil itu mengerucut lucu.


"Aku mengagumimu... siapa namamu katakan agar aku bisa memanggil mu dengan saya..." ups Nico hampir keceplosan dia pun memalingkan mukanya dia tidak mau gadis itu melihat wajahnya yang memerah karena malu.


"Hihi... kakak lucu saya pulang yah kak... babai... sampai jumpa kakak..." gadis itu terkikik geli kemudian dia pamit pulang.


Sementara Nico kecil masih melongo dan terpaku ditempat nya,aku akan menunggu untuk pertemuan selanjutnya gadis kecil.


Flashback off


"Apakah hanya aku yang merindukan mu sedangkan kamu tidak gadis kecil??" masih dalam keadaan matanya yang terpejam Nico pun tersenyum.


Tok tok


"Masuk"


Ceklek


"Maaf tuan waktunya meeting direstoran XX sekarang" dengan menunduk asisten nya mengingat kan


"Oke..."

__ADS_1


__ADS_2