
Setelah Aini berpamitan pada Rina Aini segera memesan taksi online dia sedikit gelisah " Astaghfirullah... kenapa bisa jadi kek gini....." gumam Aini.
Setelah 35 menit perjalanan Akhirnya Aini sudah sampai didepan sebuah rumah yang tidak begitu besar tapi elegan.
Aini berkali-kali menghembuskan nafas panjang, sedikit ragu tapi dia tidak bisa tidak peduli dan tidak bisa menundanya lagi,akhirnya setelah beberapa saat Aini menekan bel pintu rumah.
Ceklek
Setelah beberapa menit pintu rumah terbuka, disana tampaklah seorang wanita paruh baya yang Aini sudah mengenalnya.
Perempuan paruh baya itu juga tersenyum padanya... " ya Allah nak Aini... apa kabar nduk..." sapa si mbok pembantu setia pak Harun.
"Assalamualaikum mbok... Aini baik baik saja Alhamdulillah..." si mbok nampak sedikit malu lantaran beliau tidak mengucapkan salam melainkan langsung bertanya kabar.
"Waalaikumsalam nduk... mari... mari masuk...!!" si mbok pun mempersilahkan Aini untuk segera masuk.
"Bentar ya nduk saya panggilkan pak Harun dan den Hafiz... eh maksud saya non Adriana..." Aini hanya memasang senyum manisnya
"Panggil kan semuanya juga gak papa mbok... " tukas Aini kemudian.
"Oh baik ditunggu Yoh cah ayu..." kini wajah sumringah si mbok masuk kedalam untuk memanggil dan membuatkan minuman untuk tamu tuannya.
Sementara Hafiz yang bekerja dari rumah kini sedang berada diruang kerjanya, yah selama ini hafiz bekerja melalui rumah tidak berangkat langsung kekantor kalau pun kekantor dia pasti akan memakai kostum berbeda entah itu memakai masker atau yang lainnya.
Bukannya takut atau apa... mereka tahu watak seorang Astri yang tergolong nekat,kalau sudah jadi kemauannya Astri akan melakukan apa saja meskipun harus menghalalkan segala cara.
Tok tok tok
"Masuk..."
klek
"Maaf Aden diluar ada tamu..." sengaja si mbok tidak melanjutkan dan tak mengatakan siapa tamu yang dimaksud.
Sedangkan Hafiz mengernyit heran dan tak mengerti, tamu siapa bahkan teman temannya saja tidak ada yang tahu kalau mereka sekeluarga sudah berpindah tempat.
"Diluar ada non Aini den .." Hafiz membuka mata lebar.
Deg
"A apa mbok..." Hafiz bertanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya den diluar ada non Aini ingin bertemu dengan Aden dan tuan ..." Hafiz seperti ada disebuah mimpi mana mungkin Aini datang kemari darimana dia tahu rumahnya yang baru.
"Baik saya segera kesana..." jawab hafiz semangat.
"Baik den saya akan memberitahu tuan ..." hafiz mengangguk mengiyakan
" Ai... apa benar kau datang kesini ataukah..." Hafiz yang penasaran segera menuju ruang tamu untuk sekedar meyakinkan dirinya jika itu benar benar Aini,gadis yang selama ini dia rindukan.
__ADS_1
Hafiz berjalan dengan tergesa-gesa menuju keruang tamu,dan pas tempat yang dituju sudah didepan hafiz meragu dan sedikit gugup,jujur Aditya sangat bahagia dia tak bisa mendeskripsikan bagaimana kalau dia benar benar Aini dan mau apa atau ada apa dia kemari Apakah dia ingin ... ah... hafiz tidak mu berpikir lebih panjang lagi.
Tapi kenapa dia datang kesini dan apakah yang menjadi tujuannya?? apakah ada sesuatu atau ...
Plakk
Hafiz terjingkat lantas lamunannya menguar begitu saja,dia menoleh kesamping ternyata papanya yang menepuk bahunya dan mengangguk.
"Ayo ... kasihan nak Aini datang jauh jauh mungkin dia ada 0erlu penting..." ujar pak Harun mengajak Hafiz agar segera menemui tamunya.
Hafiz tak mampu mengeluarkan kata-kata,yang mampu hafiz lakukan adalah hanya mengangguk.
Tampak wajahnya murung meskipun ada sedikit gurat kebahagiaan meskipun samar,Hafiz mengambil nafas pelan kemudian berjalan menyusul papanya untuk memasuki ruang tamu.
"Assalamualaikum nak Aini... apa kabar mu nak...??" pak Harun mengucap salam dan sedikit menanyakan kabar meskipun terkesan basa basi.
"Waalaikumsalam Om... Alhamdulillah saya baik baik saja..." Aini menjawab dengan senyuman manisnya.
Sementara Hafiz diam mengikuti papanya sambil matanya tak lepas memandang gadis yang selama ini dirindukannya.
Hafiz benar benar ingin sekali memeluk Aini kalau saja dia tidak punya malu,tapi... melihat dia seperti ini saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga.
Aini yang melihat hafiz diam saja segera dia menyapa "Apa kabarmu kak...??" tanya Aini lembut.
Deg
Entah mengapa suara sapaan Aini yang terdengar di rungunya membuat Hafiz salah tingkah dan kikuk.
"Saya tahu kenapa Om sekeluarga berpindah tempat kesini..." Aini sudah tak bisa menunda lagi untuk mengatakan maksud dan tujuannya kesini.
Pak Harun dan hafiz nampak sama sama mengernyitkan keningnya,mereka tidak tahu apa tujuan Aini datang kesini tapi,mereka yakin kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.
Apakah ini ada hubungannya dengan Astri atau bukan mereka juga tidak tahu,kini wajah pak Harun mendadak menjadi sendu mengingat tentang mantan istrinya itu.
Sedangkan wajah hafiz sudah tidak bisa dijabarkan lagi betapa dia sangat marah mengingat tentang astri.hafiz enggan menyebut Astri sebagai mamanya dia hanya berpikir bahwa dia tidak pantas untuk dipanggil sebagai seorang ibu karena jauh dari kata layak.
"Jangan terlalu membenci nyonya Astri kak... bagaimana pun juga beliau adalah mamanya kak Hafiz orang yang sudah melahirkan kak Hafiz,.. apapun yang beliau lakukan mungkin hanya untuk melindungi keluarganya atau anak anaknya agar bisa hidup lebih baik lagi..." kalimat yang ditujukan Aini kepada Hafiz sungguh membuat Hafiz tak mampu berkata kata.
Lagi lagi Hafiz hanya diam matanya masih lekat menatap Aini tanpa berkedip sedikitpun.hatinya mencelos mendengar Aini mengatakan jangan membenci mamanya.
Bagaimana mungkin dia tidak membencinya setelah apa yang dilakukan mamanya padanya dan Adriana.
"Oh iya Om... dimana Adriana??" Tanya Aini kemudian, sebenarnya dia sedikit canggung terhadap Hafiz yang sedari tadi tak lepas memandang wajahnya.
"Dia home schooling nak... Om tak mengijinkan dia keluar,Om masih sedikit takut Astri berbuat macam macam kepada Adriana sementara Luciana om tidak tahu dia ada dimana sekarang.. Om juga sangat mengkhawatirkannya meskipun watak nya tidak jauh berbeda dengan Astri..." jawab pak Harun panjang lebar ada gurat kesedihan dan kecemasan diwajahnya.
Aini tahu bagaimana perasaan pak Harun saat ini, meskipun dia tidak tidak tahu dimana Luciana berada tapi Aini yakin dia tidak berada di negara ini sekarang.
"Aini tidak yakin kalau Luciana masih berada di negara ini om... tapi jangan khawatir dia baik baik saja om , karena dia sekarang jauh dari jangkauan nyonya Astri." tukas Aini.
__ADS_1
"Oh ya nak Aini ,, ada apa nak Aini datang kemari?? " kini pak Harun menanyakan apa tujuannya kemari.
Aini diam beberapa saat dan dia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan apa tujuannya datang kemari.
"Tiga puluh delapan hari lagi nyonya Astri akan selesai dengan ritual Larung Sukmo disebuah lembah Om..." Akhirnya kata kata itu keluar juga.
Nampak pak Harun dan hafiz kaget dengan ucapan Aini, sepasang ayah dan anak itu nampak saling berpandangan, apa maksud Aini sebenarnya?? kita kira seperti itulah pertanyaan nya.
"Maksud nak Aini La Larung ..."
"Larung Sukmo Om... ritual untuk dirinya agar lebih... " terjeda dan hening beberapa saat Aini sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan dan kata kata yang tepat yang mana yang akan dia gunakan.
"Nyonya Astri melakukan ritual Larung Sukmo untuk memperkaya diri dan ... sakti... karena itulah ada kemungkinan dia pasti akan mencari Om dan kak Hafiz juga Adriana,jika pada saat itu tiba dia akan datang kemari meskipun tidak mengetahui alamat om saat ini, dan saat itu nanti beliau pasti bisa mengendalikan pikiran Om kak Hafiz juga Adriana." ucapan Aini mampu membuat pak Harun dan hafiz sedikit tertekan,hafiz yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
"Lalu apa yang bisa aku ... maksud ku saya dan papa lakukan Ai.... " Hafiz melihat kekhawatiran Aini ,ada sedikit nyeri dihatinya dia melihat Aini sekarang sudah sangat asing baginya.
"Aini punya sesuatu tapi Aini mohon apapun yang terjadi jangan pernah lepas oke..." Aini nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya.
"Pakai lah om kak... " Aini memegang tiga buah cincin Mirah delima masing-masing sesuai dengan ukuran dan karakteristik masing-masing.
"Ini akan melindungi Om dan kak Hafiz dan juga Adriana, yang kecil itu punya Adriana,saya akan menandai rumah ini walaupun nyonya Astri nantinya menemukan rumah ini dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau yang puny rumah tidak mempersilahkan masuk kedalam rumah " jelas Aini panjang lebar.
"Oh iya dan ini untuk si mbok..." entah mengambil dari mana Aini tiba-tiba saja ada sebuah cincin ditangan nya.
Aini hanya tersenyum melihat ekspresi keduanya"Nyonya Astri sekarang masih tersesat dan ... dia akan lebih dari sebelumnya..." nampak pak Harun mengernyit heran, sedikit dapat gambaran pak Harun mengenai mantan istrinya itu dia yakin ini tidak lah sesederhana itu.
Pak Harun pamit untuk pergi kekamar Adriana untuk memberikan cincin pemberian Aini,dalam hatinya ada sedikit rasa takut kedepan nya jika mendengar apa yang diucapkan Aini tadi,
Pak Harun yang tahu bahwa sedari tadi putranya ingin bicara berdua saja dengan Aini sedikit memberikan waktu untuk putranya.
Kini diruang tamu tinggallah mereka berdua, hafiz kembali menatap Aini penuh rindu dan mendamba.
"Kakak sangat rindu Ai..." kata kata yang sedari tadi dipendamnya kini keluar begitu saja dari mulut Hafiz.
"Aini juga merindukan kakak tapi.... sekarang Aini hanya menganggap kak Hafiz kakak bukan yang lain..." tukas Aini
Rasa yang tadi melambung tinggi kini terhempas kan kala mendengar kata-kata Aini.
"Tapi ... kakak tidak bisa Ai... seharusnya aku yang ada diposisi laki laki itu bukan dia Ai... jantung hafiz berdetak tak karuan atensi emosinya mendadak naik.
"Aini tahu... apa yang kakak rasakan tapi... inilah takdir kita kak..." ada sedikit nyeri diulu hati Aini.
Lalu bagaimana dengan Hafiz , kecewa oleh takdirnya sakit atas rasa yang tak dapat dimilikinya marah kenapa takdir tak memperbolehkan dan tidak mempersatukan dirinya dengan orang terkasih, sungguh ini tidak adil seperti itulah pikiran Aditya.
"Saat ini jangan pikirkan rasa tapi pikirkan kedepannya keluarga kakak..." kembali hati hafiz seperti ditusuk sembilu mendengar kata-kata Aini.
Hening beberapa saat tak ada suara baik dari hafiz maupun aini.berbeda dengan hafiz yang memikirkan nasib cintanya berbeda pula dengan Aini dia memejamkan mata nya untuk berkomunikasi beberapa penjaga nya dan yang ada disekitarnya.
Dia melepas Sukmo sementara tubuhnya diambil alih oleh salah satu penjaga nya.
__ADS_1
"Merem kabeh..."
Wussss